0
News
    Home Berita Bioetanol Featured Spesial

    Indonesia Dilarang Bikin Kebijakan yang Bertentangan dengan Impor Bioetanol - Liputan6

    6 min read

     

    Indonesia Dilarang Bikin Kebijakan yang Bertentangan dengan Impor Bioetanol

    Dalam perjanjian dagang dengan AS disebutkan, Indonesia tidak akan menetapkan atau mempertahankan kebijakan yang cegah impor bioetanol. 

    Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani perjanjian dagang pada Jumat, 20 Februari 2026. Salah satunya berkaitan dengan etanol. Foto: Liputan6.com/ Arief R

    Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mewajibkan Indonesia meng-impor bioetanol dalam rangka penerapan energi di Tanah Air. Namun, Pemerintah Indonesia dilarang untuk membuat kebijakan yang tidak sejalan dengan rencana impor tersebut.

    Hal ini tertuang dalam daftar kesepakatan perdagangan Agreement on Resiprocal Trade (ART) yang ditandatangani Indonesia dan AS. Impor bioetanol menjadi bagian tak terpisahkan dari penetapan tarif balasan yang diumumkan Presiden AS Donald Trump.

    "Indonesia tidak akan menetapkan atau mempertahankan kebijakan apa pun yang mencegah impor bioetanol dari Amerika Serikat," tulis Pasal 2.23 dokumen ART, dikutip Sabtu (21/2/2026).

    Kemudian, sejalan dengan rencana impor bioetanol tadi, Indonesia juga harus menyediakan bahan bakar minyak (BBM) dengan campuran bioetanol 5 persen (E5) di 2028 dan 10 persen (E10) pada 2030. Indonesia juga diminta untuk mengembangkan lagi BBM campur etanol tersebut hingga mencapai porsi campuran 20 persen.

    "Indonesia akan berupaya melaksanakan kebijakannya mengenai penggunaan campuran bioetanol dalam bahan bakar transportasi hingga 20 persen bioetanol (E20), dengan mempertimbangkan ketersediaan pasokan dan kesiapan infrastruktur pendukung," seperti dikutip.

    Impor Bioetanol dari AS

    Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkap rencana impor etanol dari Amerika Serikat (AS). Impor itu disiapkan untuk mandatori campuran etanol ke BBM pada 2028.

    Dia menjelaskan, ada kewajiban BBM campir etnaop 5-10 persen pada 2028. Tujuan utamanya, menumbuhkan produksi dalam negeri, namun, untuk mencapai skala penuh, Bahlil membuka ruang untuk impor.

    "Namun sampai dengan produksi kita bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka ruang untuk kita melakukan impor boleh saja, termasuk impor dari Amerika sampai dengan kebutuhan produksi kita dalam negeri terpenuhi. Ini paralel aja sebenarnya, paralel aja biasa," kata Bahlil dalam konferensi pers daring, dikutip Sabtu (21/2/2026).

    Tutup Kekurangan Kebutuhan Mandatori

    Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia.
    Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (18/11/2025). (Foto: liputan6.com/Lizsa Egeham).

    Dalam hitungan Bahlil, produksi bioetanol dalam negeri belum bisa memenuhi langsung kebutuhan mandatori tersebut. Alhasil, sebagian lainnya didatangkan dari impor.

    "Sebagian memang industri dalam negeri sudah ada. Antara konsumsi dan produksi dalam negeri itu kekurangannya berapa itu yang bisa kita impor. Jadi impor itu adalah untuk mengisi kekurangan daripada kebutuhan konsumsi dalam negeri," kata dia.

    Diketahui, Indonesia diminta untuk melakukan impor komoditas energi dari AS senilai USD 15 Miliar per tahun. Ini merujuk pada minyak mentah, BBM, hingga LPG. 

    Penggunaan Etanol Buat Industri

    Pada konteks impor etanol ini, kata Bahlil, tak sepenuhnya untuk dicampur dengan BBM. Namun, etanol juga dibutuhkan oleh industri di Tanah Air. "Ini sebenarnya tidak hanya pada konteks pencampuran dengan bensin tapi juga untuk industri-industri lain yang dibutuhkan karena selama ini memang kita juga masih membutuhkan impor," ujarnya.

    Bahlil melihat, Indonesia bisa mendapat keuntungan tambahan dengan mengalihkan sebagian sumber impor etanol ke AS. Ditambah lagi, dalam Agreement on Resiprocal Trade (ART), impor etanol dibebaskan dari tarif bea masuk.

    "Ini menguntungkan kita sebenarnya, kita melakukan impor dari sini ini tarifnya masuk 0 persen harganya lebih murah sehingga industri kita lebih kompetitif dalam memakai bahan baku daripada etanol," jelas Bahlil.

     

    Komentar
    Additional JS