Ini Alasan Bos Agrinas Pilih Pikap India untuk Proyek Nasional - Liputan6
Ini Alasan Bos Agrinas Pilih Pikap India untuk Proyek Nasional
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angle De Sousa Mota mengungkap alasan impor 105.000 unit mobil pikap dari India
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2941744/original/033839700_1571292872-WhatsApp_Image_2019-10-17_at_12.05.32_PM.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta - Rencana impor 105.000 unit mobil pikap dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendukung proyek Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) menjadi sorotan publik. Langkah ini dinilai strategis sekaligus menimbulkan perdebatan, terutama terkait kapasitas produksi kendaraan niaga di dalam negeri.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, mengungkapkan bahwa keputusan impor diambil setelah mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari kapasitas produksi lokal hingga aspek harga dan value for money.
Joao menjelaskan, produksi mobil pikap dalam negeri saat ini berada di kisaran 70.000 unit per tahun. Jika seluruh kebutuhan 105.000 unit diserap dari pasar domestik, dikhawatirkan akan mengganggu rantai pasok dan industri logistik lainnya.
"Produksi lokal selama ini 70 ribuan, sehingga kalau kita ambil semua di lokal nanti itu mengganggu industri logistik yang lain-lainnya," ujar Joao saat dihubungi awak media, Jumat (20/2/2026).
Artinya, impor dinilai menjadi solusi untuk menjaga keseimbangan industri sekaligus memenuhi kebutuhan armada dalam waktu relatif cepat.
Selain faktor kapasitas produksi, harga juga menjadi alasan utama. Joao menyebut, kendaraan pikap produksi lokal dibanderol sekitar Rp 500 juta per unit. Sementara produk asal India dengan spesifikasi yang dibutuhkan bisa ditebus dengan harga hampir setengahnya.
Menurutnya, keputusan ini mengedepankan prinsip fair price dan money value, agar anggaran yang dikeluarkan sebanding dengan spesifikasi dan kebutuhan operasional di lapangan.
Dalam proyek besar ini, Agrinas menggandeng dua produsen otomotif asal India, yakni Mahindra & Mahindra Ltd, serta Tata Motors Limited melalui PT Tata Motors Distribusi Indonesia.
Mahindra ini akan memasok 35.000 unit Scorpio Pik Up Single-Cab ke Indonesia. Model yang dipilih adalah Scorpio Pik Up, kendaraan niaga yang dikenal tangguh untuk berbagai kondisi medan.
CEO Divisi Otomotif Mahindra & Mahindra Ltd., Nalinikanth Gollagunta, menyatakan dukungannya terhadap program Koperasi Merah Putih.
“Kami menantikan kemitraan ini untuk mendukung Koperasi Indonesia melalui kerja sama kami dengan Agrinas Pangan Nusantara,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Mahindra menilai kehadiran Scorpio Pik Up dapat memperkuat tulang punggung logistik, terutama dalam menghubungkan petani ke pasar secara lebih efisien.
Pikap ini diklaim dirancang untuk beroperasi dalam kondisi berat dengan biaya operasional yang tetap minimal.
Sementara Tata Motors Limited akan mengirimkan 70.000 unit kendaraan pikap untuk kebutuhan KDMP.
Impor Mulai Berjalan
Direktur PT Tata Motors Distribusi Indonesia, Asif Shamim, menyambut baik pesanan dalam jumlah besar tersebut. Ia menyebut, hal ini mencerminkan meningkatnya penerimaan kendaraan komersial asal India di pasar global.
“Kami tetap berkomitmen untuk memperluas jejak global solusi mobilitas India melalui kendaraan dan penawaran yang menggabungkan skala, keandalan, serta penciptaan nilai berkelanjutan bagi pelanggan kami,” ungkap Asif.
Dengan rincian 35.000 unit dari Mahindra dan 70.000 unit dari Tata Motors, total kendaraan yang diimpor mencapai 105.000 unit mobil pikap.
Armada ini akan digunakan untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, khususnya dalam distribusi hasil pertanian dan kebutuhan logistik desa.
Joao memastikan proses impor sudah mulai berjalan. “Sudah (mulai impor),” tegasnya.
Langkah impor dalam jumlah besar ini berpotensi memicu diskusi lebih lanjut di industri otomotif nasional.
Di satu sisi, kebutuhan kendaraan niaga dalam skala besar memang mendesak. Namun di sisi lain, isu perlindungan dan penguatan industri lokal juga menjadi perhatian.
Ke depan, menarik untuk melihat apakah proyek ini akan diikuti dengan skema perakitan lokal (CKD) atau kerja sama transfer teknologi, sehingga tetap memberi dampak positif bagi ekosistem otomotif nasional.
Yang jelas, proyek 105.000 pikap untuk Koperasi Merah Putih ini menjadi salah satu pengadaan kendaraan niaga terbesar dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia.