0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Nuklir Spesial

    Iran dan AS Belum Sepakat soal Nuklir, Ancaman Perang Masih Terbuka Lebar - Merdeka

    9 min read

     

    Iran dan AS Belum Sepakat soal Nuklir, Ancaman Perang Masih Terbuka Lebar

    Menteri Luar Negeri Oman, sebagai mediator, memberikan penjelasan mendalam mengenai hasil perundingan antara Iran dan Amerika Serikat.

    Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi (kanan) menggelar pertemuan dengan utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff (tengah) dan Jared Kushner dalam rangka perundingan Iran
    Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi (kanan) menggelar pertemuan dengan utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff (tengah) dan Jared Kushner dalam rangka perundingan Iran (© 2026 Liputan6.com)

    Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali menjalani perundingan tidak langsung selama beberapa jam pada Kamis (26/2) guna membahas isu program nuklir Teheran. Meski dialog berlangsung intensif, belum ada kesepakatan yang tercapai. Situasi ini membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah masih membayangi, terlebih di tengah meningkatnya kehadiran militer AS berupa armada pesawat dan kapal perang.

    Pembicaraan yang digelar di Jenewa, Swiss, tersebut dimediasi Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi. Ia menyebut proses negosiasi mencatat “kemajuan signifikan”, namun tidak merinci poin-poin yang telah disepakati.

    Di sisi lain, menjelang akhir pertemuan, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran tetap pada posisinya untuk melanjutkan pengayaan uranium. Iran juga menolak wacana pemindahan cadangan uranium ke luar negeri serta kembali menegaskan tuntutan agar sanksi internasional dicabut. Sikap ini mengindikasikan bahwa pemerintah Iran belum mengakomodasi sejumlah tuntutan yang sebelumnya disampaikan Presiden AS, Donald Trump..

    Trump menginginkan kesepakatan yang dapat membatasi program nuklir Iran, dan ia melihat situasi ini sebagai peluang karena Iran sedang menghadapi tekanan domestik akibat meningkatnya ketidakpuasan publik setelah protes nasional. Sementara itu, Iran berusaha menghindari perang tetapi menegaskan haknya untuk memperkaya uranium dan menolak membahas isu-isu lain, termasuk program rudal jarak jauh dan dukungan terhadap kelompok bersenjata seperti Hamas dan Hizbullah.

    Al-Busaidi menyatakan bahwa pembicaraan teknis yang melibatkan perwakilan tingkat lebih rendah akan dilanjutkan pekan depan di Wina, yang merupakan markas Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

    Lembaga pengawas nuklir PBB ini diperkirakan akan memainkan peran penting dalam setiap kesepakatan yang mungkin dicapai. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut perundingan dengan AS sebagai salah satu putaran negosiasi paling intens dan terpanjang yang pernah dijalani oleh negaranya. Ia tidak memberikan rincian spesifik, tetapi menegaskan bahwa "apa yang perlu terjadi telah dijelaskan secara jelas dari pihak kami."

    Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait hasil perundingan tersebut.

    Ancaman Skenario Terburuk

    Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi (kanan) menggelar pertemuan dengan utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff (tengah) dan Jared Kushner dalam rangka perundingan Iran
    Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi (kanan) menggelar pertemuan dengan utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff (tengah) dan Jared Kushner dalam rangka perundingan Iran © 2026 Liputan6.com

    Taruhan dalam situasi ini sangat signifikan. Iran telah memberikan peringatan bahwa jika Amerika Serikat melancarkan serangan, pangkalan militer AS di kawasan akan dianggap sebagai target yang sah. Ini dapat mengancam keselamatan puluhan ribu personel militer AS yang tersebar di berbagai negara di Timur Tengah.

    Iran juga mengancam akan menyerang Israel, yang dapat memperluas risiko konflik regional. "Tidak akan ada kemenangan bagi siapa pun ini akan menjadi perang yang menghancurkan," ujar Araghchi dalam wawancara dengan India Today yang direkam pada Rabu (25/2) sebelum berangkat ke Jenewa. Ia menambahkan bahwa karena pangkalan militer AS berada di berbagai lokasi di kawasan, seluruh wilayah Timur Tengah berpotensi terlibat dalam konflik. "Ini adalah skenario yang sangat mengerikan," katanya.

    Ali Vaez, seorang pakar Iran dari International Crisis Group, menganggap bahwa ada sinyal positif dengan delegasi AS yang tidak langsung meninggalkan perundingan saat Iran menyampaikan proposal terbarunya.

    "Mungkin belum ada terobosan pada akhir hari ini, tetapi fakta bahwa tim AS kembali menunjukkan adanya titik temu yang cukup di antara kedua pihak," ujarnya. Pertemuan Ketiga Sejak Juni mempertemukan delegasi di Jenewa, yang merupakan pertemuan ketiga sejak terjadinya konflik bersenjata selama 12 hari pada bulan Juni lalu. Saat itu, Israel meluncurkan serangan terhadap Iran dan AS melakukan serangan besar terhadap fasilitas nuklir Iran. Serangan-serangan tersebut menyebabkan sebagian besar program nuklir Iran mengalami kerusakan, meskipun tingkat kerusakan secara keseluruhan masih belum sepenuhnya jelas.

    Pada pertemuan terbaru ini, Iran diwakili oleh Araghchi, sementara delegasi AS dipimpin oleh Steve Witkoff, seorang pengembang properti miliarder yang juga merupakan utusan khusus Timur Tengah dan sahabat Trump, bersama dengan Jared Kushner, menantu Trump.

    Oman kembali berperan sebagai mediator, seperti yang telah dilakukannya selama ini dalam menjembatani komunikasi antara Iran dan Barat. Kedua pihak sempat menghentikan pembicaraan setelah sekitar tiga jam, namun melanjutkannya kembali pada hari yang sama. Selama jeda tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengungkapkan bahwa pihaknya menilai ada proposal konstruktif terkait isu nuklir dan keringanan sanksi. Iran telah berulang kali menegaskan bahwa mereka hanya bersedia membahas isu nuklir dan menyatakan bahwa program nuklirnya sepenuhnya untuk tujuan damai.

    Dugaan Upaya Bangun Program Nuklir

    Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi (kanan) menggelar pertemuan dengan utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff (tengah) dan Jared Kushner dalam rangka perundingan Iran
    Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi (kanan) menggelar pertemuan dengan utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff (tengah) dan Jared Kushner dalam rangka perundingan Iran © 2026 Liputan6.com

    Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengungkapkan pada hari Rabu bahwa Iran terus berupaya untuk memperkuat elemen-elemen dalam program nuklirnya. Ia menekankan bahwa meskipun Iran saat ini tidak sedang melakukan pengayaan uranium, mereka berusaha untuk mencapai kondisi di mana mereka bisa melakukannya di masa depan.

    Iran mengklaim belum melakukan pengayaan sejak bulan Juni, namun mereka juga telah menghalangi akses inspektur IAEA ke lokasi-lokasi yang sebelumnya dibom oleh AS. Analisis foto satelit yang dilakukan oleh Associated Press menunjukkan adanya aktivitas di dua lokasi tersebut, yang menunjukkan bahwa Iran sedang mengevaluasi dan mungkin memulihkan material di sana.

    Negara-negara Barat dan IAEA menyebutkan bahwa Iran memiliki program senjata nuklir hingga tahun 2003. Setelah pembatalan perjanjian nuklir tahun 2015 oleh Trump, Iran meningkatkan pengayaan uranium hingga mencapai kemurnian 60 persen, yang hanya satu langkah teknis dari tingkat 90 persen yang diperlukan untuk pembuatan senjata nuklir.

    Badan intelijen AS menilai bahwa Iran belum mengaktifkan kembali program senjata nuklirnya, tetapi mereka telah melakukan aktivitas yang memposisikan mereka lebih baik untuk memproduksi perangkat nuklir jika mereka memutuskan untuk melakukannya. Sejumlah pejabat Iran bahkan secara terbuka menyatakan kesiapan negaranya untuk memproduksi bom jika keputusan tersebut diambil.

    Ketidakpastian dan Kekhawatiran Pasar

    Apabila perundingan tidak mencapai kesepakatan, waktu kemungkinan serangan AS terhadap Iran masih tidak jelas. Jika tindakan militer bertujuan untuk menekan Iran agar melakukan konsesi dalam negosiasi nuklir, belum ada kepastian apakah serangan terbatas tersebut akan efektif. Namun, jika tujuannya adalah untuk menggulingkan kepemimpinan Iran, langkah tersebut berpotensi menarik AS ke dalam kampanye militer yang lebih besar dan berkepanjangan. Sampai saat ini, belum ada indikasi publik mengenai rencana lanjutan, termasuk kemungkinan kekacauan yang bisa terjadi di Iran.

    Dampak dari tindakan militer ini juga dapat meluas ke kawasan sekitarnya. Iran mungkin akan membalas dengan menyerang negara-negara Teluk Persia yang merupakan sekutu AS atau Israel. Kekhawatiran ini turut berkontribusi pada kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir, dengan harga acuan Brent crude mendekati 70 dolar AS per barel.

    Pada putaran perundingan sebelumnya, Iran sempat mengancam untuk menghentikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur sempit di mulut Teluk Persia yang menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Meskipun jalur pelayaran itu telah dibuka kembali, situasi penutupan tersebut meningkatkan kekhawatiran akan dampak ekonomi global jika konflik benar-benar meletus di kawasan tersebut.


    Komentar
    Additional JS