Kenapa di Yogyakarta Baju Gagrak Dipakai pada Kamis Pon? - Demak Bicara
DEMAK BICARA - Tradisi pemakaian busana gagrak Yogyakarta setiap Kamis Pon berasal dari aturan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang diberlakukan sejak awal tahun 1990-an, kemudian diperkuat kembali melalui Sabda Raja dan kebijakan budaya. Tujuannya adalah menjaga identitas budaya Jawa, khususnya budaya keraton Yogyakarta, agar tetap hidup di tengah masyarakat modern.
1. Makna Hari Kamis Pon
Dalam penanggalan Jawa, Pon adalah salah satu dari lima pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Sedangkan Kamis Pon diyakini sebagai hari yang punya makna istimewa dalam tradisi Keraton Yogyakarta:
Hari tersebut dianggap hari lahir Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (berdasarkan kalender Jawa).
Kamis Pon juga dianggap sebagai waktu yang penuh berkah, sehingga dipilih untuk melestarikan ritual dan simbol budaya.
Baca Juga: Baju Gagrak: Sejarah, Filosofi, dan Keindahan Warisan Budaya Jawa yang Tetap Relevan di Era Modern
2. Simbol Identitas Budaya
Dengan mewajibkan penggunaan baju gagrak Yogyakarta setiap Kamis Pon, masyarakat diingatkan kembali pada akar budaya Jawa. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa busana tradisional bukan sekadar pakaian, tetapi simbol identitas dan filosofi hidup.
3. Menghormati Warisan Keraton
Keraton Yogyakarta sebagai pusat budaya Jawa memiliki peran besar dalam menjaga tradisi. Dengan aturan Kamis Pon, setiap orang – mulai dari pegawai pemerintahan, abdi dalem, hingga masyarakat umum – diingatkan untuk tetap menghormati warisan leluhur.
4. Membangun Rasa Kebersamaan
Kebijakan ini bukan sekadar formalitas, tetapi juga sarana mempererat ikatan sosial. Ketika seluruh masyarakat memakai busana gagrak di hari yang sama, tercipta rasa kebersamaan dan kebanggaan kolektif.
5. Pendidikan Budaya untuk Generasi Muda
Banyak generasi muda kini jauh dari tradisi busana Jawa. Dengan adanya “hari wajib” memakai baju gagrak, mereka belajar langsung tentang bentuk, filosofi, dan tata cara mengenakan busana adat.
Pemakaian baju gagrak di Yogyakarta setiap Kamis Pon bukan sekadar aturan berpakaian, melainkan ritual budaya yang sarat makna. Kamis Pon dipilih karena bertepatan dengan hari berdirinya Keraton Yogyakarta menurut kalender Jawa. Melalui tradisi ini, Sultan ingin memastikan bahwa budaya Jawa tetap hidup, dikenang, dan diteruskan lintas generasi.***