0
News
    Home Dunia Internasional Featured Gaza Israel Pasukan Perdamaian Spesial

    Media Israel Sebut RI Akan Jadi Negara Pertama Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza - Viva

    4 min read

     

    Media Israel Sebut RI Akan Jadi Negara Pertama Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

    VIVA Indonesia dilaporkan akan menjadi negara pertama yang bersiap berkontribusi pada Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang dirancang menangani aspek pemeliharaan perdamaian di Gaza selama Fase II gencatan senjata pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Informasi tersebut disampaikan stasiun penyiaran publik IsraelKAN News, dilansir Jerussalem Post pada Senin malam.

    Israel Ingin Ubah Stempel Paspor 'State of Palestine' Jadi 'Board of Peace'

    Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia kerap disebut bersama UEA, Mesir, Italia, Azerbaijan, Pakistan, Qatar, Turki, dan negara lain sebagai kandidat kontributor ISF. Namun hingga kini, belum ada negara yang benar-benar melangkah dari komitmen umum menuju kesiapan konkret pengiriman pasukan.

    GULIR UNTUK LANJUT BACA

    Laporan itu menyebut pasukan Indonesia berpotensi ditempatkan di Gaza dalam beberapa minggu, tidak lama setelah Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan mengunjungi Washington untuk KTT Perdamaian untuk Kemakmuran yang digagas Donald Trump pada 19 Februari 2026.

    Wamenhan: Pengiriman Prajurit TNI ke Gaza Tunggu Komando Presiden Prabowo

    Peran ISF, termasuk kontingen Indonesia, diperkirakan tidak akan berfokus pada konfrontasi langsung dengan Hamas atau upaya perlucutan senjata secara aktif. Sebaliknya, pasukan tersebut diharapkan mengawasi garis gencatan senjata dan menangani isu perbatasan lainnya.

    Militer Indonesia disebut kemungkinan akan dimobilisasi di wilayah selatan Gaza, terutama di sekitar Khan Yunis dan Rafah, dengan tugas mengawasi beberapa garis pertahanan di area tersebut.

    Dubes Iran Sebut AS Tidak Layak Jadi Pemimpin Board of Peace Gaza

    Meski demikian, sejumlah persoalan teknis masih harus diselesaikan dalam beberapa minggu ke depan, termasuk aturan keterlibatan jika terjadi kontak antara Hamas dan unit ISF. Jumlah personel yang akan dikerahkan juga masih menjadi tanda tanya, meski perkiraan awal menyebut setidaknya ribuan personel.

    Selain itu, belum jelas negara mana yang akan mengikuti langkah Indonesia dan kapan pengerahan gabungan dapat dimulai. Ketidakpastian lain muncul jika Hamas belum menunjukkan langkah serius menuju perlucutan senjata hingga awal Mei — sekitar tenggat 100 hari pemerintahan Trump — yang berpotensi menentukan apakah misi ISF berlanjut atau Israel kembali melancarkan operasi darat besar-besaran di Gaza.


    Komentar
    Additional JS