0
News
    Home Agrinas Berita Featured Pikap Spesial

    Menang Spesifikasi di Atas Kertas, Rapuh di Layanan Purna Jual: Bedah Rekam Jejak Pikap Impor India Agrinas - SindoNews

    7 min read

     

    Menang Spesifikasi di Atas Kertas, Rapuh di Layanan Purna Jual: Bedah Rekam Jejak Pikap Impor India Agrinas


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Sabtu, 21 Februari 2026 - 15:42 WIB

    Realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketangguhan sebuah kendaraan niaga tidak hanya diukur dari ketebalan pelat baja sasisnya, melainkan dari seberapa cepat mesin tersebut bisa kembali menyala saat mogok di pelosok desa. Foto: Mahindra

    JAKARTA - Keputusan mengimpor ratusan ribu unit pikap dari India untuk operasional Koperasi Desa (Kopdes) memaksa publik menengok kembali catatan sejarah otomotif nasional.

    Jika komparasi murni diletakkan pada spesifikasi brosur dan daya tahan fisik material, kendaraan niaga asal India memang memiliki reputasi cukup baik.

    Namun, dalam konteks industri logistik Indonesia yang kejam dan minim infrastruktur, definisi "ketangguhan" memiliki makna yang jauh lebih kompleks daripada sekadar tenaga mesin atau penggerak 4x4.

    Secara teknis dan material dasar, pikap asal India seperti Mahindra Scorpio maupun lini produk komersial dari Tata Motors dirancang dengan filosofi heavy-duty.

    Di negara asalnya, kendaraan ini terbiasa disiksa dengan muatan ekstrem (overloading) yang melampaui regulasi pabrikan.

    Sasis tangga (ladder frame) yang digunakan memiliki ketebalan pelat baja di atas rata-rata pikap Jepang kelas ringan.

    Mahindra Scorpio Pik Up yang dibanderol di kisaran harga Rp278 (single cabin) dan Rp318 juta (double cabin) di Indonesia, membawa mesin turbo diesel common-rail mHawk 2.2 liter.

    Jantung pacu ini memuntahkan tenaga 140 HP dan torsi raksasa 320 Nm pada rentang putaran mesin rendah 1.500 hingga 2.800 rpm.

    Angka ini secara absolut mengungguli para pikap Jepang rakitan GAIKINDO seperti Mitsubishi L300 yang mengandalkan mesin 4N14 (tenaga 98 HP dan torsi 200 Nm) atau Suzuki Carry bensin bertenaga 95 HP.

    Dari sisi daya dorong di medan berlumpur, teknologi 4x4 dan fitur Electronic Locking Differential milik Mahindra jelas menang telak.

    Namun, arti ketangguhan di Indonesia bisa sangat kompleks. Kekuatan teknologi mutakhir India tersebut justru menjadi tumit Achilles (titik lemah) ketika dioperasikan di pelosok desa Indonesia.

    Mesin diesel modern common-rail seperti mHawk sangat sensitif terhadap kualitas bahan bakar.

    Di daerah terpencil, di mana akses terhadap Pertamina Dex atau bahan bakar diesel berkualitas tinggi sangat langka, kendaraan niaga kerap "dicekoki" solar bersubsidi dengan kualitas rendah atau bahkan solar eceran yang bercampur air dan kotoran.

    Ketika injektor mesin modern ini tersumbat, kendaraan akan langsung mati total atau mengalami downtime yang panjang karena membutuhkan alat diagnosis komputerisasi (sistem pemindai OBD) untuk perbaikannya.

    Sebaliknya, inilah yang membuat pikap produksi GAIKINDO seperti Isuzu Traga, Suzuki Carry, dan Mitsubishi L300 melegenda.

    Mereka mengusung rekayasa mekanis yang sangat pragmatis dan "tahan banting" terhadap kondisi bahan bakar terburuk sekalipun.

    Mesin-mesin lokal ini dirancang dengan toleransi yang tinggi. Jika L300 atau Carry mengalami kerusakan transmisi atau suspensi di tengah perkebunan kelapa sawit atau jalan berbatu di pedalaman Kalimantan, montir desa hanya berbekal perkakas konvensional dapat melakukan perbaikan darurat agar mobil tetap bisa jalan.

    Logika berikutnya adalah ketersediaan suku cadang. Dengan kapasitas produksi GAIKINDO yang mencapai 400.000 unit per tahun khusus untuk segmen pikap, skala ekonomi pembuatan suku cadang (spare parts) menjadi sangat masif dan murah.

    Komponen fast-moving seperti kampas rem, filter oli, hingga komponen slow-moving sangat mudah ditemukan di toko onderdil kecamatan.

    Rekam jejak historis merek India di Indonesia seringkali terganjal oleh ekosistem purna jual ini. Membawa masuk 105.000 unit kendaraan dari luar negeri secara mendadak akan menciptakan bom waktu logistik.

    Sebagai perbandingan, Mahindra hanya memiliki 2 dealer 3S (Service, Sales, Sparepart) dan 3 dealer 2S di Indonesia. Bayangkan apa yang terjadi ketika 35.000 unit pikap Mahindra Scorpio membutuhkan servis secara serempak?

    Ketika puluhan ribu unit tersebut mulai memasuki usia perawatan rutin pada tahun kedua atau ketiga, pasokan suku cadang impor harus siap sedia di seluruh penjuru desa.

    Jika rantai pasok suku cadang dari pabrik Nashik di India terhambat, kendaraan operasional Kopdes tersebut terancam mangkrak dan menjadi besi tua.

    Terakhir, pasar kendaraan komersial sangat memperhitungkan Total Cost of Ownership (TCO) dan nilai sisa (resale value).

    Depresiasi harga pikap rakitan lokal sangat stabil karena tingginya permintaan pasar mobil bekas.

    Sementara itu, kendaraan komersial non-Jepang secara historis mengalami penurunan harga jual kembali yang sangat tajam di Indonesia akibat kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan suku cadang jangka panjang.

    Pada akhirnya, keandalan kendaraan komersial di Indonesia tidak hanya diukur dari kemampuannya menerjang lumpur pada hari pertama dibeli.

    Ketangguhan sejati diuji dari seberapa cepat, seberapa murah, dan seberapa mudah kendaraan tersebut bisa kembali beroperasi mencari uang ketika ia rusak di tengah antah berantah.

    Dan dalam metrik "ketangguhan ekosistem" ini, industri otomotif lokal masih memegang kendali penuh yang rasional.

    (dan)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Infografis

    Pakistan dan India Berperang,...

    Pakistan dan India Berperang, Kenapa China yang Menang?


    Komentar
    Additional JS