Psikolog Forensik Sebut Bripda MS Pakai Mindset Tempur saat Aniaya Arianto Tawakal hingga Tewas - Kompas TV
Psikolog Forensik Sebut Bripda MS Pakai Mindset Tempur saat Aniaya Arianto Tawakal hingga Tewas
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menyebut Bripda MS, anggota Brimob yang diduga menganiaya Arianto Tawakal dengan mengayunkan helm ke pelipis korban hingga tewas, dinilai telah menggunakan mindset tempur.
Reza menjelaskan anggota Brimob meski merupakan bagian dari institusi Polri, namun punya ciri khas kerja yang berbeda dibandingkan dengan polisi biasa.
"Dibentuk untuk berhadapan dengan situasi ekstrem, kritis, berisiko sangat tinggi, dan menangani insiden-insiden anarkis dan mengancam nyawa, Brimob punya mindset tempur (to combat) ala paramiliter," kata Reza Indragiri melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi Kompas TV, Minggu (20/2/2026).
Sedangkan polisi reguler, lanjut Reza, bekerja dengan mindset melayani dan melindungi atau to serve and to protect.
"Jadi, bukan mustahil Bripda MS memakai mindset tempur saat mengayunkan helmnya dengan cara, arah, dan power sedemikian rupa. Dengan mindset tempur, membuat target kehilangan nyawa sama sekali tidak bisa dinihilkan begitu saja," ujarnya.
Baca Juga: KPAI Minta Tidak Ada Intimidasi terhadap Keluarga Pelajar yang Tewas akibat Dianiaya Anggota Brimob
Oleh karena itu, Reza mendorong, proses hukum terhadap Bripda MS dilakukan dengan menerapkan pasal yang lebih berat. Termasuk terhadap personel Brimob lainnya yang mendiamkan aksi Bripda MS.
"Jika para personel itu mengetahui Bripda MS akan melakukan suatu aksi yang terlarang, dan menggunakan alat yang tidak sesuai peruntukannya, namun tidak berupaya menghentikan Bripda MS, maka mereka pun layak dimintai pertanggungjawaban etik dan pidana,” ujar Reza.
Selain para anggota Brimob yang berada di lokasi kejadian, Reza menambahkan, Kapolres Tual sebagai kepala satuan wilayah juga harus diperiksa.
“Pengerahan dan pengendalian personel Brimob merupakan kewenangan kepala satuan wilayah setempat, sehingga Kapolres Tual juga perlu diperiksa,” ucap Reza.
Baca Juga: SPPG MBG Disebut Untung Rp1,8 Miliar per Tahun, BGN Buka Suara
Kemudian, Reza menuturkan, Kadiv Humas Polri tampaknya perlu meralat pernyataannya terkait insiden yang menewaskan Arianto Tawakal.
"Kejadian menyedihkan dan mengerikan di Tual itu bukan sebatas tindakan individu Polri semata. Mutlak penting diinvestigasi lebih jauh bahwa ada pertanggungjawaban kolektif yang harus ditagih," tutur Reza.