0
News
    Home Badan Gizi Nasional Berita Featured Makan Bergizi Gratis Pendidikan Spesial

    Sebut Tak Ada Uang Jajan Jadi Penyebab Banyak Anak Putus Sekolah, Kepala BGN: MBG Penyelamat - Tribunnews

    8 min read

     

    Sebut Tak Ada Uang Jajan Jadi Penyebab Banyak Anak Putus Sekolah, Kepala BGN: MBG Penyelamat


    Kepala BGN, Dadan Hindayana, menilai bahwa saat ini anak berhenti sekolah lantaran faktor uang jajan.

    Sebut Tak Ada Uang Jajan Jadi Penyebab Banyak Anak Putus Sekolah, Kepala BGN: MBG Penyelamat
    Ringkasan Berita:
    • Kepala BGN, Dadan Hindayana, menilai bahwa saat ini anak berhenti sekolah lantaran faktor uang jajan.
    • Dalam wawancara bersama Helmy Yahya, ia memaparkan hasil analisis terbaru tersebut.
    • Dadan menilai, kehadiran program MBG berperan penting.

    TRIBUNJATIM.COM - Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, soal penyebab banyak anak di Indonesia yang putus sekolah, viral di media sosial (medsos).

    Dadan Hindayana menilai bahwa saat ini anak berhenti sekolah lantaran faktor uang jajan.

    Sehingga menurutnya, program Makan Begizi Gratis (MBG) jadi penyelamatnya.

    Baca juga: Kolom Pekerjaan di KTP Diisi Pewaris Keluarga Zhang. Disdukcapil Ternyata Terinspirasi Drama China

    Pernyataan tersebut disampaikan Dadan Hidayana saat menjadi narasumber dalam tayangan di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, pada Agustus 2025 lalu.

    Dalam wawancara bersama Helmy Yahya tersebut, Dadan memaparkan hasil analisis terbaru.

    Analisis tersebut menantang anggapan umum soal mahalnya biaya pendidikan menjadi penyebeb anak putus sekolah. 

    Menurutnya, persoalan utama bukan lagi SPP, mengingat pendidikan di Indonesia sebagian besar sudah gratis.

    Justru beban ekonomi keluarga untuk memenuhi uang jajan harian anak menjadi faktor signifikan yang mendorong anak untuk berhenti sekolah.

    "Ada hasil analisis yang cukup menarik terkait dengan apakah pendidikan gratis atau makanan bergizi," kata Dadan Hindayana, mengutip Tribun Jakarta, Senin (2/2/2026).

    "Dari hasil analisis itu, ini terbaru nih, anak muda yang sangat concern apa sih yang menyebabkan anak putus sekolah," imbuhnya.

    "Kan pendidikan kita sudah gratis ya, sebagian besar, kecuali sekolah-sekolah swasta yang terkenal kan," lanjut Dadan.

    "Dan ternyata yang membuat anak putus sekolah karena kemampuan memberi jajan uang harian kepada anak, itu yang menyebabkan banyak putus sekolah," tambahnya.

    Temuan ini membuka perspektif baru tentang keterkaitan antara gizi, ekonomi keluarga, dan keberlanjutan pendidikan.

    Dadan menilai, kehadiran program MBG berperan penting sebagai solusi konkret yang membantu anak tetap bersekolah tanpa terbebani dengan biaya harian.

    "Jadi hadirnya MBG menyelamatkan mereka, jadi mereka sekarang kalau ke sekolah tidak membutuhkan bekal karena sudah disiapkan di sekolah, atau yang dikasih uang jajan sedikit bisa ditabung juga makannya sudah ada di sekolah," pungkas Dadan Hindayana.

    Bantah pakai dana pendidikan

    Pada 20 Januari 2026 lalu, Wakil Kepala BGN, Nanik Deyang, membantah bahwa dana MBG menggunakan anggaran pendidikan Rp335 triliun.

    Nanik mengaku gelisah mendengar tudingan banyak pihak terkait anggaran MBG yang menyerobot anggaran pendidikan tersebut di media sosial.

    Ia kemudian menemui Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Keuangan, Heru Pambudi, guna mengklarifikasi isu yang berkembang di media sosial.

    Menurut Nanik, dalam pertemuan tersebut, Purbaya membantah narasi yang beredar di media sosial.

    Baca juga: Kucing Ditendang Pria hingga Mati, Pemilik Malah Diancam Pelaku: Nantangin Bawa ke Ranah Hukum

    Dana yang digunakan untuk MBG, kata Purbaya, berasal dari pemangkasan anggaran berbagai kementerian/lembaga.

    "Pak Purbaya menjawab, 'Tidak benar, tidak hanya dari anggaran pendidikan, dana itu diambil dari mana-mana. Semua kementerian kita potong. Saya di sini (Kemenkeu) juga kena potong'," kata Nanik menirukan Purbaya.

    Selain dana dari realokasi kementerian/lembaga, dana untuk MBG juga menggunakan dana rampasan terpidana korupsi.

    "Ada dana pampasan dari para koruptor juga disertakan juga untuk ikut membiayai program MBG. Pokoknya dari mana-mana deh," kata Nanik lagi menirukan Purbaya.

    Dalam keterangannya, Nanik juga menyampaikan keberatan karena kondisi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) belakangan dibentur-benturkan dengan nasib guru honorer.

    Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, saat menegur pihak SPPG di tengah peninjauan pelaksanaan MBG di SMK 1 Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).
    Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, saat menegur pihak SPPG di tengah peninjauan pelaksanaan MBG di SMK 1 Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026). (KOMPAS.com/Rahel)

    Komentar
    Additional JS