0
News
    Home Berita Dewan Perdamaian Dewan Perdamaian Gaza DPR Dunia Internasional Featured Gaza Spesial

    Serangan Kamp Gaza, Anggota Komisi I DPR Syamsu Riza Ingatkan Posisi Indonesia di Board of Peace - Liputan6

    9 min read

     

    Serangan Kamp Gaza, Anggota Komisi I DPR Syamsu Riza Ingatkan Posisi Indonesia di Board of Peace

    Anggota Komisi I DPR Syamsu Rizal mengecam keras serangan mematikan yang dilancarkan Israel ke Kamp Pengungsi Ghaith, Al-Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza.


    Militer Israel mengonfirmasi telah melakukan sejumlah serangan udara, yang diklaim sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas pada Jumat (30/1/2026). Tampak dalam foto, asap mengepul dari tempat penampungan Gath, yang menampung pengungsi Palestina, setelah serangan udara Israel di sebelah barat Khan Yunis, Jalur Gaza selatan pada 31 Januari 2026. (Bashar Taleb/AFP)

    Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi I DPR Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Syamsu Rizal mengecam keras serangan mematikan yang dilancarkan Israel ke Kamp Pengungsi Ghaith, Al-Mawasi, Khan Younis, Jalur Gaza pada Sabtu 31 Januari 202. Serangan tersebut menyebabkan puluhan warga Palestina syahid.

    Syamsu Rizal menilai serangan itu sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan yang terang-terangan dan tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.

    "Ini adalah serangan biadab yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan merusak gencatan senjata. Dunia internasional tidak boleh diam,” kata Syamsu dalam keterangannya, Minggu (1/2/2026).

    Ia menyoroti fakta bahwa serangan tersebut terjadi tak lama setelah deklarasi pembentukan Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurutnya, aksi Israel justru menghancurkan kredibilitas lembaga perdamaian yang baru dibentuk itu.

    "Serangan ini merusak gencatan senjata sekaligus mencoreng citra Board of Peace. Israel jelas tidak layak menjadi anggota Dewan Perdamaian,” ujarnya.

    Syamsu menegaskan bahwa Israel harus dikeluarkan dari BoP, karena sebagai negara penjajah yang terus-menerus membunuh rakyat Gaza, Israel tidak pantas duduk dalam forum yang mengatasnamakan perdamaian.

    "Jika Israel tetap menjadi anggota BoP, maka organisasi ini hanya akan dijadikan alat untuk melegitimasi pembunuhan warga Gaza dan pengusiran rakyat Palestina dari tanahnya sendiri," ucap dia.

    Ia juga mengingatkan, dengan dalih menyerang Hamas, Israel akan terus membombardir Gaza secara membabi buta. Hamas selalu dijadikan alasan, padahal yang menjadi korban adalah rakyat sipil—anak-anak, perempuan, dan pengungsi.

     

    Ingatkan soal Iuran

    Serangan Udara Israel Kembali Hantam Gaza, 32 Orang Tewas
    Hamas menyebut serangan Israel sebagai pelanggaran berkelanjutan yang, menurut mereka, menunjukkan pemerintah Israel terus melanjutkan genosida terhadap warga Palestina di Gaza. Tampak dalam foto, tim penyelamat dan warga yang menyaksikan kejadian tersebut memeriksa puing-puing kantor polisi Sheikh Radwan di Kota Gaza pada 31 Januari 2026. (Omar AL-QATTAA/AFP)

    Syamsu juga menyoroti iuran keanggotaan BoP sebesar 1 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp16,7 triliun yang akan dibayarkan Indonesia. Ia menyatakan kekhawatirannya dana tersebut justru digunakan untuk mendukung aksi militer Israel.

    "Saya khawatir uang iuran itu dipakai untuk membunuh warga Gaza dengan dalih melucuti senjata Hamas. Padahal Hamas adalah pasukan yang membela rakyat Gaza dari kezaliman Israel," terang dia.

    Untuk itu, Deng Ical mendesak Pemerintah Indonesia agar bersikap tegas sebagai bagian dari BoP. Pemerintah Indonesia harus lantang mengkritik dan mengutuk aksi biadab Israel.

    "Indonesia tidak boleh terjebak dalam forum perdamaian yang justru dipakai untuk melegitimasi penjajahan dan pembantaian," pungkas Syamsu.

    Sebelumnya, sedikitnya 32 warga Palestina tewas akibat gelombang serangan udara Israel yang menghantam Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/29026), menurut otoritas setempat. Korban tewas dilaporkan termasuk perempuan dan anak-anak.

    Badan pertahanan sipil Gaza, yang dikelola Hamas, menyebut salah satu serangan menghantam tenda pengungsian di Khan Younis, Gaza selatan, setelah ditembak oleh helikopter tempur Israel. Sejumlah keluarga pengungsi dilaporkan menjadi korban dalam serangan tersebut.

     

    Serangan Udara Israel ke Gaza, 32 Orang di Tenda Pengungsian Khan Younis Tewas

    Serangan Udara Israel Kembali Hantam Gaza, 32 Orang Tewas
    Menurut otoritas setempat, sedikitnya 32 warga Palestina tewas akibat gelombang serangan udara Israel yang menghantam sejumlah wilayah di Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/29026). Tampak dalam foto, asap mengepul dari tempat penampungan Gath, yang menampung pengungsi Palestina, setelah serangan udara Israel di sebelah barat Khan Yunis, Jalur Gaza selatan pada 31 Januari 2026. (Bashar Taleb/AFP)

    Warga Palestina menggambarkan rangkaian serangan ini sebagai yang paling intens sejak fase kedua gencatan senjata mulai berlaku awal bulan ini. Gencatan senjata tersebut dimediasi Amerika Serikat dan diumumkan Presiden Donald Trump pada Oktober lalu, dikutip dari laman BBC, Minggu (1/2).

    Militer Israel mengonfirmasi telah melakukan sejumlah serangan udara, yang diklaim sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas pada Jumat. Israel dan Hamas saling menuduh telah melanggar kesepakatan sejak gencatan senjata diberlakukan.

    Dalam pernyataannya, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan delapan anggota Hamas teridentifikasi keluar dari “infrastruktur teror bawah tanah” di wilayah Rafah timur, area tempat pasukan Israel masih ditempatkan sesuai perjanjian gencatan senjata.

    IDF menyebut, bersama Badan Keamanan Israel (ISA), mereka menyerang sejumlah target, termasuk empat komandan Hamas, fasilitas penyimpanan senjata, lokasi pembuatan senjata, serta dua titik peluncuran di Gaza tengah.

     

    Korban Tewas

    Korban Tewas

    Serangan Udara Israel Kembali Hantam Gaza, 32 Orang Tewas
    Sejak gencatan senjata mulai diberlakukan di Gaza, kedua pihak bertikai, Israel dan Hamas, saling menuduh telah melanggar kesepakatan. Tampak dalam foto, tim penyelamat dan warga yang menyaksikan kejadian tersebut memeriksa puing-puing kantor polisi Sheikh Radwan di Kota Gaza pada 31 Januari 2026. (Omar AL-QATTAA/AFP)

    enurut Hamas, tujuh korban tewas berasal dari satu keluarga pengungsi di Khan Younis. Juru bicara pertahanan sipil mengatakan serangan Israel menghantam apartemen tempat tinggal, tenda pengungsian, tempat penampungan, serta sebuah kantor polisi.

    Di Kota Gaza, pejabat Rumah Sakit Shifa melaporkan serangan udara menghantam sebuah apartemen, menewaskan tiga anak dan dua perempuan. “Kami menemukan tiga keponakan kecil saya di jalan. Mereka bilang ada gencatan senjata. Apa salah anak-anak itu? Apa yang telah kami lakukan?” kata Samer al-Atbash, paman dari tiga anak yang tewas, seperti dikutip Reuters.

    Rekaman video dan foto dari berbagai wilayah Gaza memperlihatkan jenazah dievakuasi dari reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan.

    Serangan terjadi menjelang rencana pembukaan kembali penyeberangan Rafah, perbatasan Gaza–Mesir, pada Minggu. Pembukaan itu direncanakan setelah militer Israel menemukan jenazah sandera Israel terakhir awal pekan ini.

    Mesir mengutuk serangan Israel dan mendesak semua pihak “menunjukkan pengekangan maksimal”, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir yang dilihat AFP. Qatar, salah satu mediator utama gencatan senjata, juga mengecam apa yang disebutnya sebagai “pelanggaran berulang Israel”.

    Infografis Donald Trump Klaim AS Akan Ambil Alih Gaza
    Infografis Donald Trump Klaim AS Akan Ambil Alih Gaza. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)
    Loading

    Komentar
    Additional JS