0
News
    Home Berita Featured Kalimantan Minyak Goreng Spesial Tengkawang

    Tengkawang, Alternatif Minyak Goreng Lokal Berkelanjutan dari Kalimantan yang Mulai Dilirik Pasar - Radar Tuban

    3 min read

     

    Tengkawang, Alternatif Minyak Goreng Lokal Berkelanjutan dari Kalimantan yang Mulai Dilirik Pasar - Radar Tuban

    RADARTUBAN - Dalam beberapa tahun terakhir, produk minyak dan mentega dari buah tengkawang makin mendapat perhatian sebagai alternatif sumber lemak nabati yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

    Tengkawang sendiri adalah tumbuhan endemik hutan Kalimantan Barat, termasuk dalam genus Shorea atau meranti yang menghasilkan biji kaya lemak nabati.

    Biji ini nantinya bisa diolah menjadi minyak atau mentega dikenal sebagai green butter atau illipe butter di pasar internasional.

    Buah tengkawang telah lama dikonsumsi dan diolah oleh masyarakat Dayak dan komunitas lokal Kalimantan dalam bentuk minyak untuk memasak sehari-hari.

    Minyak dari biji tengkawang bahkan disebut bisa digunakan langsung sebagai pengganti minyak goreng, memiliki cita rasa khas serta dipandang sebagai minyak nabati tanpa kolesterol yang bermanfaat bagi kesehatan.

    Proses pengolahan minyak tengkawang umumnya dimulai dari panen buah tengkawang (musim panen bisa berbeda tergantung jenis pohonnya), kemudian bijinya dikeringkan, ditumbuk, diperas, dan diekstraksi sehingga menghasilkan minyak atau mentega.

    Minyak ini memiliki sifat unik, yakni mudah membeku pada suhu dingin, sehingga cocok juga untuk dipakai sebagai mentega nabati dalam pembuatan kue atau roti.

    Peluang pengembangan tengkawang semakin besar karena potensinya yang multifungsi. Selain minyak goreng, produk tengkawang dapat menjadi bahan baku dalam industri makanan, kosmetik, dan produk kesehatan alami.

    Penelitian menunjukkan bahwa minyak tengkawang memiliki kandungan asam lemak baik seperti asam stearat dan oleat, sehingga juga dipandang bermanfaat sebagai pelembap alami dalam kosmetik atau bahan baku lipstik, lotion, hingga sabun.

    Namun, sejak awal 2020an hingga kini, pengembangan minyak tengkawang belum sepenuhnya masuk arus utama pasar global.

    Salah satu tantangan utama adalah proses perizinan dan sertifikasi produk, terutama dari BPOM dan regulasi keamanan pangan yang diperlukan agar produk minyak tengkawang dapat dipasarkan secara luas di Indonesia maupun luar negeri.

    Pemerintah daerah Kalimantan Barat bersama pelaku UMKM setempat terus mendorong pengurusan izin edar serta sertifikat halal, sehingga produk ini bisa lebih dikenal dan digunakan secara luas.

    Photo Author
    Ilustrasi minyak goreng (Radar Tuban/AI)

    Upaya ini tidak hanya bermanfaat dari sisi ekonomi lokal, tapi juga dari sisi konservasi hutan.

    Karena tengkawang adalah pohon yang tumbuh secara alami di hutan tropis Kalimantan, pemanfaatan buahnya tanpa merusak habitat menjadi contoh pengelolaan hasil hutan bukan kayu (Non-Timber Forest Products) yang berkelanjutan.

    Hal ini berarti hasil hutan dapat dimanfaatkan tanpa menebang pohon secara besar-besaran, membantu menjaga ekosistem hutan tetap utuh.

    Secara kronologis, dari produksi lokal tradisional yang sudah dilakukan masyarakat setempat selama puluhan tahun, hingga kini pengembangan tengkawang memasuki fase hilirisasi produk dan sertifikasi pasar, dengan dukungan kampanye lokal dan riset perguruan tinggi serta upaya pemerintah daerah sejak terakhir dua sampai tiga tahun terakhir.

    Potensi minyak tengkawang sebagai alternatif minyak goreng yang lebih ramah lingkungan semakin nyata, terutama di tengah kebutuhan global akan pangan berkelanjutan dan solusi terhadap deforestasi akibat ekspansi tanaman minyak lain seperti sawit. (*)

    Komentar
    Additional JS