Viral Anak Diduga Kena 'Night Terror' hingga Terbangun Histeris, Kondisi Apa Itu? - detik
Beberapa waktu lalu viral di TikTok sebuah unggahan dari akun @keluargaberbinar yang menceritakan kisah Binar (4), seorang anak yang kerap terbangun tidur dalam kondisi histeris. Saat terbangun, Binar bisa menangis sesenggukan dan kejadian tersebut terjadi berulang kali.
Tak sedikit netizen mengaitkan kondisi anak tersebut dengan 'night terror'. Istilah ini merujuk pada gangguan tidur yang membuat seseorang tiba-tiba terbangun dalam keadaan panik, ketakutan, berteriak, atau menangis, namun tidak sepenuhnya sadar.
Kondisi ini memang paling umum terjadi pada anak-anak usia 3-12 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini tuh namanya night terror. Biasanya terjadi karna anak lelah atau overstimulasi. jadi better tidur tuh biasain sejam sebelum nya lampu kamar diredupin dan suasana kamar tuh aman, nyaman dan tenang," kata salah satu netizen.
"kasihan loh adiknya sampe gemeteran gitu saking takutnya," timpal netizen lain.
"Kombinasi antara kelelahan fisik, kurang istirahat, dan overstimulasi tersebut diduga menjadi faktor pemicu terjadinya mimpi seperti yang binar alami," cerita ibunda Binar, Triya Nurul Iskandar, mengungkapkan hasil konsultasi dengan dokter anak terkait kejadian yang dialami sang putri.
Setelah dilakukan penyesuaian screentime dan pola tidur, Triya mengatakan anaknya kondisi anaknya kini berangsur membaik. Jika terbangun tidur, efeknya tidak seekstrem setahun yang lalu, katanya.
Apa Itu Night Terror?
Praktisi kesehatan tidur dr Andreas Arman Prasadja, RPSGT, menjelaskan night terror memang seringkali terlihat menyeramkan bagi orang tua. Dalam beberapa kasus, anak yang mengalami night terror bisa mengalami tanda seperti mata tiba-tiba terbuka, melihat fokus pada satu titik, hingga nangis.
Salah satu ciri khas dari night terror adalah anak tidak merespons ketika coba ditenangkan.
"Nah, yang khas adalah tidak respon saat ditenangkan Kecuali kalau ditenangkan terus dia terbangun," jelas dr Andreas ketika dihubungi detikcom, Rabu (18/2/2026).
dr Andreas menjelaskan ada kesalahpahaman terkait night terror di masyarakat. Kondisi ini menurutnya tidak berkaitan dengan mimpi buruk. Itu yang membedakan antara night terror dan mimpi buruk pada umumnya.
Pada anak, kondisi ini dapat terjadi pada tahap tidur dalam, biasanya 2 jam pertama tidur, bukan tahap tidur rapid eye movement (REM) atau tidur mimpi.
Kondisi night terror berkaitan erat dengan hutang tidur. Jadi, anak harus dipastikan tidur cukup.
Ketika terjadi episode night terror, orang tua harus mengawasi anak. Ini untuk memastikan keamanan anak selama episode tersebut muncul. Setelah 5-10 menit mengalami night terror sembari ditenangkan, biasanya anak akan kembali tidur.
"Kalau night terror ini sebenarnya sih didiamkan saja gitu ya, nanti akan hilang sendiri setelah beberapa waktu. Penanganan night terror sebenarnya sama seperti penanganan sleep talking dan sleep walking," jelas dr Andreas soal penanganan night terror.
"Pertama adalah jaga keselamatan, jangan sampai si anak menyakiti dirinya atau menyakiti orang lain. Kemudian ya pecah belah, listrik gitu ya, elektronik yang terbuka, jauh-jauh, jangan ada di kamar," sambungnya.
Kuncinya adalah jangan panik. Ia kembali mengingatkan kondisi ini akan hilang dengan sendirinya. Apabila, kejadiannya berulang, maka pemeriksaan ke dokter diperlukan untuk mengetahui faktornya.
"Kalau tidak hilang, ada faktor-faktor lain ya harus diperiksakan ke dokter, misalkan si anak mendengkur, kalau anak mendengkur gitu kan, kualitas tidur buruk dan akan terjadi terus-menerus nih," tandas dr Andreas.