70 Persen Pelaku Usaha di ASEAN Siap Ekspansi di Tengah Proteksionisme - SINDOnews
Jakarta, Beritasatu.com - Pelaku usaha di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) menunjukkan optimisme untuk memperluas bisnis dalam beberapa tahun ke depan. Namun, di balik keyakinan tersebut, mereka tetap menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari meningkatnya proteksionisme, gangguan rantai pasok, hingga kompleksitas transisi hijau.
Hal ini terungkap dalam survei ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC) bersama CSIS Indonesia dan Japan External Trade Organization (JETRO) Jakarta.
Survei yang melibatkan 395 perusahaan swasta di seluruh ASEAN ini memotret lanskap ekonomi regional yang kompleks. Dunia usaha dinilai siap berekspansi, tetapi menghadapi risiko gangguan rantai pasok serta tantangan transisi hijau dan digital.
Direktur Eksekutif ASEAN-BAC Rifki Weno menegaskan sektor bisnis di ASEAN memiliki ambisi kuat untuk tumbuh. Namun, proteksionisme global dan kerumitan regulasi dinilai menghambat potensi tersebut.
“Pemanfaatan FTA yang masih di bawah potensi dan rendahnya kesiapan UMKM menegaskan urgensi penyederhanaan regulasi serta dukungan yang lebih terarah,” ujar Rifki dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Dalam hasil survei ditemukan sekitar 70% pelaku usaha di ASEAN berencana memperluas usaha dalam satu hingga dua tahun ke depan. Sebanyak 48% memproyeksikan peningkatan laba operasi pada 2025 dibandingkan 2024.
Sebanyak 75% perusahaan mengaku cemas terhadap meningkatnya proteksionisme. Sektor manufaktur paling terdampak, dengan 64% produsen terpapar tarif AS, dibandingkan 40% rata-rata seluruh perusahaan.
“Sebanyak 93% perusahaan menjadikan kawasan ASEAN sebagai tujuan utama diversifikasi rantai pasok, melampaui Jepang (54%), dan Tiongkok (41%),” ujar Rifqi.
Sebanyak 63% perusahaan telah memulai langkah dekarbonisasi. Namun, 90% menyebut sulitnya memperoleh pemasok yang memenuhi standar ESG sebagai hambatan utama. Hanya 28% responden yang mengetahui ASEAN Taxonomy for Sustainable Finance.
Soal transformasi digital, mayoritas perusahaan masih berada pada tahap adopsi parsial teknologi digital. Hanya 22% yang menggunakan agen AI untuk pendukung pengambilan keputusan, dan 21% memanfaatkan AI generatif untuk manajemen.
Survei juga menyoroti kesenjangan signifikan antara perusahaan besar dan UMKM. Sebanyak 73,1% perusahaan besar merasa siap menghadapi gangguan rantai pasok, sementara hanya 53,7% UMKM yang menyatakan kesiapan serupa.
Pelaku usaha berharap implementasi ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) dapat menurunkan hambatan masuk bagi UMKM (59%) serta menyelaraskan regulasi lintas negara (54%).