Alasan Trump Bombardir Iran Dipertanyakan Analis Keamanan - Beritasatu
Washington, Beritasatu.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, bersama anggota pemerintahannya, berulang kali menyatakan serangan besar-besaran terhadap Iran dilakukan karena program pengembangan nuklir negara di Timur Tengah itu merupakan ancaman serius bagi AS. Namun, analis keamanan nasional dan para ahli tentang Iran menilai alasan yang disampaikan Trump adalah sesuatu yang dilebih-lebihkan.
Trump menilai Iran berada di ambang pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik yang mampu menyerang dan membahayakan AS. Sementara itu, analis dan pakar tentang rezim Iran menyebut klaim tersebut didasarkan pada asumsi yang salah atau terlalu dibesar-besarkan.
"Pernyataan bahwa Iran hampir mengembangkan senjata nuklir tidak benar," kata Matthew Bunn, ahli pengendalian senjata di Kennedy Harvard School, dikutip dari USA Today, Rabu (4/3/2026).
Mengutip laporan Elpais International, seiring berjalannya waktu, tujuan dan perkiraan durasi serangan terhadap Iran juga semakin tidak jelas dan eskalasi konflik terus meluas di Timur Tengah. Trump di satu sisi menyatakan serangan gabungan dengan Israel tersebut bertujuan untuk perubahan rezim, tetapi di sisi lain, ia juga menegaskan tujuannya adalah untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) ke ibu kota Iran, Teheran dan sejumlah wilayah lainnya. Serangan gabungan AS dan Israel diluncurkan dengan menargetkan kemampuan rudal Iran dan para pemimpin tinggi negara tersebut.
Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan gabungan yang menargetkan wilayah kompleks kediamannya. Menurut laporan Reuters, berdasarkan data media Iran yang mengutip Red Crescent, organisasi kemanusiaan yang bekerja di Iran, setidaknya sebanyak 201 orang tewas dan 747 lainnya terluka akibat serangan udara tersebut.