Analis Militer: Iran Siapkan Jebakan, Pulau Kharg Bisa Jadi Kuburan Massal Pasukan AS
Analis Militer: Iran Siapkan Jebakan, Pulau Kharg Bisa Jadi Kuburan Massal Pasukan AS
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rencana Amerika Serikat untuk merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, menuai kritik tajam dari para analis militer internasional. Operasi amfibi yang tengah dipertimbangkan pemerintahan Trump dinilai sebagai langkah berisiko tinggi yang mengancam keselamatan pasukan AS sendiri di tengah gempuran persenjataan canggih Iran.
Mikael Valtersson, mantan perwira Angkatan Bersenjata dan pertahanan udara Swedia, menyebut bahwa agresi terhadap Iran adalah akibat langsung dari "kegagalan besar intelijen dan perencanaan AS." Menurutnya, upaya merebut Pulau Kharg merupakan operasi tergesa-gesa yang tidak mempertimbangkan secara matang kemampuan pertahanan lawan, sebagaimana diberitakan Sputnik.
Pakar militer memperingatkan bahwa Iran telah membangun inventori rudal anti-kapal yang masif dan mematikan. Setidaknya empat sistem menjadi ancaman utama bagi armada AS yang mencoba mendekati Pulau Kharg:
Khalij Fars mampu menjangkau 300 km dengan kecepatan Mach 3–4. Ini merupakan rudal balistik anti-kapal dengan hulu ledak 650 kg.
Berikutnya adalah Rudal Zolfaghar Basir dengan jangkauan 700 km. Kecepatannya supersonik yang dilengkapi optical seeker untuk target bergerak.
Kemudian ada Rudal Abu Mahdi dengan jangkauan lebih dari 1.000 km. Ini merupakan rudal jelajah rendah yang menggunakan AI, terbang di ketinggian beberapa meter.
Dengan kecepatan hingga Mach 4, rudal-rudal ini dapat mencapai target di Teluk dalam waktu kurang dari lima menit setelah diluncurkan. Kapal perang AS yang beroperasi dekat pantai akan menjadi sasaran empuk tanpa waktu reaksi yang cukup.
Rudal Anti-Pesawat Ringan: Ancaman Senyap dari Udara
Selain ancaman laut, Iran juga memiliki sistem pertahanan udara jarak pendek yang sulit dideteksi. Sistem seperti Khordad-15, Tor-M2, dan Pantsir-S1 menjadi ancaman serius bagi helikopter angkut dan pesawat pendukung udara yang menjadi urat nadi operasi pendaratan.
Valtersson menekankan bahwa kekuatan udara AS unggul dalam melawan target strategis besar, tetapi kesulitan menetralisir unit-unit kecil dan mobile Iran yang dipersenjatai rudal permukaan-ke-udara. Dukungan udara jarak dekat menggunakan helikopter dianggap terlalu berbahaya karena kerentanan terhadap rudal ringan ini.
Halaman 2 / 4
Mobile Emission Unit (MEU): Tulang Punggung Operasi Amfibi AS
MEU (Marine Expeditionary Unit) adalah satuan tempur gabungan yang menjadi tulang punggung operasi amfibi Amerika Serikat. Setiap MEU terdiri dari sekitar 2.100 personel Marinir dan Pelaut yang tergabung dalam empat elemen: Komando, Tempur Darat, Tempur Udara, dan Pendukung Logistik.
Dalam konteks operasi pendaratan di Pulau Kharg, satu MEU tidak akan cukup. Analis memperkirakan kekuatan pasukan Iran di pulau itu kemungkinan melebihi satu MEU. Pendaratan yang sukses akan membutuhkan banyak MEU tambahan, dan AS harus siap menanggung kerugian awal yang besar. Kapal amfibi yang mengangkut MEU harus beroperasi dekat pantai, menjadikannya target bernilai tinggi bagi rudal anti-kapal Iran.
Tantangan Besar yang Dihadapi AS
Pembersihan Ranjau
Pasukan AS pertama-tama perlu membersihkan ranjau dari perairan sekitar Pulau Kharg. Kapal-kapal khusus yang digunakan untuk misi ini akan menjadi sasaran utama rudal anti-kapal Iran sebelum operasi pendaratan dimulai.
Krisis Interceptor
Serangan Iran ke negara-negara Teluk telah menguras persediaan rudal pencegat Patriot dan THAAD. Dalam dua hari pertama konflik saja, Iran meluncurkan 400 rudal dan 1.000 drone, memaksa negara-negara Teluk menembakkan lebih dari 800 interceptor, setara dengan produksi tahunan AS. Dengan sumber daya terkuras, kemampuan AS melindungi armadanya menjadi pertanyaan besar.
Halaman 3 / 4
Deplesi Pasukan
Valtersson menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata AS saat ini tidak memiliki cukup pasukan yang ditempatkan atau sedang dalam perjalanan untuk memastikan kemenangan.
Peringatan dari Mantan Pejabat Kontraterorisme AS
Joe Kent, mantan direktur Pusat Kontraterorisme Nasional AS, dengan tegas menyatakan bahwa pengerahan pasukan ke Pulau Kharg akan menjadi bencana.
"Pada dasarnya itu sama saja dengan memberikan Iran sejumlah sandera di sebuah pulau yang dapat mereka bombardir dengan drone dan rudal," kata Kent dalam wawancara dengan Washington Post.
Peringatan ini diperkuat oleh Valtersson yang menyatakan bahwa hilangnya bahkan satu kapal induk helikopter (LPH) akan menjadi pukulan telak bagi citra AS sebagai kekuatan militer yang tak terkalahkan.
Diplomasi Internasional Meredakan Ketegangan
Di tengah eskalasi militer, upaya diplomasi terus digalakkan. Pada Senin (23/3/2026), Menteri Luar Negeri Mesir Dr. Badr Abdel-Aty dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengadakan percakapan telepon untuk membahas perkembangan pesat di kawasan.
Halaman 4 / 4
Kedua menteri menekankan perlunya melanjutkan upaya regional dan internasional untuk meredakan ketegangan, memprioritaskan solusi damai dan diplomasi guna mencegah eskalasi lebih lanjut yang mengancam perdamaian dan keamanan regional dan internasional.
Menteri Abdel-Aty memperingatkan tentang dampak serius dari siklus kekerasan yang berkelanjutan dan konflik yang meluas di Timur Tengah, menekankan perlunya mengintensifkan koordinasi regional dan internasional untuk mengendalikan situasi dan mencegah kawasan tersebut jatuh ke dalam kekacauan yang meluas dengan konsekuensi yang tidak dapat diprediksi.
Risiko Besar di Tengah Ketidakpastian
Rencana AS untuk merebut Pulau Kharg secara amfibi mencerminkan eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026. Namun, analisis militer menunjukkan bahwa ambisi ini berbenturan dengan realitas medan yang keras.
Dengan persenjataan rudal anti-kapal supersonik yang mampu mencapai target dalam hitungan menit, rudal anti-pesawat ringan yang sulit dideteksi, serta strategi pertahanan asimetris yang memanfaatkan medan pulau, Iran memiliki kemampuan nyata untuk menggagalkan, atau setidaknya membuat operasi pendaratan AS menjadi sangat mahal.
Sebagaimana diingatkan Valtersson: pendaratan amfibi di Pulau Kharg adalah operasi berisiko tinggi. Untuk memastikan keberhasilannya, AS harus melibatkan kekuatan yang jauh lebih unggul dan siap menanggung banyak korban selama periode waktu yang lama. Jika tidak, operasi tersebut dapat mengakibatkan kekalahan telak bagi Amerika Serikat.