0
News
    Home Amerika Serikat BBM Berita Dunia Internasional Featured Iran Israel Konflik Timur Tengah Spesial Tel Aviv

    AS Murka ke Israel Usai Serang Depot BBM Iran, Washington Sebut Operasi Tel Aviv di Luar Rencana - Ulasan co

    5 min read

     

    AS Murka ke Israel Usai Serang Depot BBM Iran, Washington Sebut Operasi Tel Aviv di Luar Rencana


    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (Foto: dok/carnegieendowment.org)

    JAKARTA – Hubungan antara Amerika Serikat dan Israel dilaporkan mulai memanas setelah serangan udara besar-besaran Tel Aviv yang menargetkan puluhan depot bahan bakar di Iran.

    Aksi militer tersebut memicu ketegangan serius di antara kedua sekutu itu, terutama karena Washington menilai skala operasi yang dilakukan Israel melampaui koordinasi awal yang telah disepakati sebelumnya.

    Lebih lanjut, serangan tersebut disebut menjadi perselisihan besar pertama antara kedua negara sejak mereka terlibat dalam konflik melawan Republik Islam Iran sekitar delapan hari terakhir. Pihak Washington merasa langkah Israel terlalu agresif dan dilakukan tanpa perhitungan strategis yang matang terhadap dampak global.

    Sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran, termasuk di ibu kota Teheran, dilaporkan dihantam pada Sabtu. Serangan itu memicu kebakaran hebat yang menghasilkan kepulan asap tebal dan dapat terlihat dari jarak bermil-mil. Selain itu, sejumlah fasilitas energi penting juga mengalami kerusakan cukup parah akibat gempuran udara tersebut.

    Baca Juga: Selat Hormuz Makin Mencekam: 10 Kapal Diserang, Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel

    Pejabat Amerika Serikat yang mengetahui perkembangan situasi ini mengatakan bahwa skala serangan yang dilakukan Israel jauh lebih luas dari yang diperkirakan Washington. Padahal sebelumnya, pihak Israel telah memberikan pemberitahuan awal kepada Amerika Serikat mengenai rencana operasi militernya.

    Seorang pejabat AS bahkan mengungkapkan bahwa petinggi militer Amerika cukup terkejut dengan luasnya target serangan tersebut. Menurutnya, beberapa pejabat senior di Washington secara terbuka menilai bahwa operasi penghancuran infrastruktur sipil bukanlah strategi yang tepat dalam konflik ini.

    “Gedung Putih dilaporkan sangat khawatir bahwa serangan terhadap infrastruktur yang digunakan oleh warga sipil Iran akan menjadi bumerang secara strategis. AS memperingatkan bahwa tindakan Israel ini berpotensi menyatukan opini publik Iran untuk mendukung pemerintah mereka, sekaligus memberikan tekanan hebat pada harga energi dunia,” ujar pejabat itu dikutip Al Mayadeen, Senin, dikutip Selasa (10/3/2026).

    Sementara itu, militer Israel mencoba memberikan klarifikasi melalui pernyataan resmi. Mereka menyebut depot-depot bahan bakar tersebut digunakan pemerintah Iran untuk memasok energi ke berbagai sektor strategis, termasuk kebutuhan unit militer.

    Namun demikian, kekhawatiran Amerika Serikat justru semakin menguat setelah beredarnya gambar dan video kebakaran besar di fasilitas energi Iran. Selain memicu perhatian global, kejadian itu juga menimbulkan kepanikan di pasar energi internasional.

    Penasihat Presiden Donald Trump bahkan secara terbuka menyampaikan sikap Gedung Putih kepada media. Ia mengatakan kepada Axios bahwa Presiden AS sangat menentang serangan yang menghancurkan infrastruktur minyak.

    Baca Juga: Sekutu Mulai Menjauh, Operasi Militer Trump ke Iran Terancam Goyang

    Menurutnya, Trump ingin menghindari langkah apa pun yang berpotensi memicu lonjakan harga bahan bakar di pasar global. Oleh karena itu, Washington menilai serangan terhadap fasilitas energi Iran dapat memperburuk situasi ekonomi dunia.

    Dampak dari ketegangan antara AS dan Israel ini langsung terasa di pasar komoditas energi global. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 20 persen pada perdagangan Senin pagi dan mencapai level tertinggi sejak 2022.

    Harga minyak Brent tercatat naik sebesar US$ 18,35 menjadi US$ 111,04 per barel. Sementara itu, minyak jenis WTI juga mengalami kenaikan tajam sebesar US$ 20,34 hingga menyentuh level US$ 111,24 per barel.

    Lonjakan harga ini dipicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Saat ini, sejumlah kapal tanker dilaporkan mulai menghindari jalur tersebut karena meningkatnya risiko keamanan.

    Para ekonom menilai bahwa meskipun Arab Saudi mencoba meningkatkan pengiriman minyak melalui jalur Laut Merah, volume pasokan tersebut kemungkinan tidak akan cukup untuk menutupi potensi kehilangan suplai dari Selat Hormuz jika konflik terus meningkat.

    Selain pasar energi, sentimen negatif akibat konflik ini juga menjalar ke pasar saham global. Indeks saham utama di Asia mengalami penurunan tajam di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

    Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat anjlok hingga 6,2 persen, sementara pasar saham di Korea Selatan turun sekitar 7,3 persen. Di Amerika Serikat sendiri, indeks berjangka S&P 500 dan Nasdaq Composite juga ikut melemah seiring penguatan nilai tukar dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global.

    Ikuti Berita Ulasan.co di Google News


    Komentar
    Additional JS