0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Ali Larijani Amerika Serikat Ayatollah Ali Khamenei Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani Gugur, Pengamat: Strategi Decapitation AS Tak Mempan di Iran - Viva

    13 min read

     

    Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani Gugur, Pengamat: Strategi Decapitation AS Tak Mempan di Iran

    Menurut analis geopolitik Dina Sulaeman, kematian Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani tidak dipandang sekadar 'kehilangan pemimpin' oleh Iran.

    Ringkasan Berita:

    TRIBUNNEWS.COM - Analis geopolitik sekaligus pengamat kajian Timur TengahDina Sulaeman, menyoroti gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader) Ayatollah Ali Khamenei dan Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran Ali Larijani dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

    Ayatollah Ali Khamenei tewas akibat serangan udara gabungan AS-Israel yang menargetkan kediamannya di ibu kota Iran, Teheran, pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat, atau hari pertama Operation Epic Fury.

    Kabar meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei dikonfirmasi oleh media Iran, Fars News Agency, pada Minggu (1/3/2026).

    Khamenei tewas bersama anggota keluarga (putri, menantu, cucu) dan sejumlah pejabat tinggi, termasuk Ali Shamkhani (Kepala Dewan Pertahanan Nasional Iran), Aziz Nasirzadeh (Menteri Pertahanan Iran), dan Mohammad Pakpour (Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran/IRGC).

    Kurang dari tiga pekan berselang, Ali Larijani juga tewas dalam serangan udara AS-Israel pada Senin (16/3/2026) malam waktu setempat, dan dikonfirmasi oleh SNSC pada Rabu (18/3/2026) dini hari.

    Ali Larijani tewas bersama putranya, Morteza Larijani, serta salah satu penasehat dan beberapa orang pengawalnya, kala operasi militer skala besar dari AS-Israel terus berlangsung di Iran.

    Adapun Ali Larijani sebelumnya telah dianggap sebagai sosok berpengaruh di Iran setelah gugurnya Ayatollah Ali Khamenei, dan memegang peran penting dalam pengambilan keputusan terkait perang, diplomasi, dan keamanan nasional.

    Tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani Tak akan Lemahkan Iran

    Dina Y. Sulaeman menyebut, syahidnya Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani adalah kemartiran strategis, di mana kepergian kedua tokoh penting Iran tersebut tidak sekadar 'kehilangan pemimpin.'

    Namun, menurutnya, tewasnya dua pemimpin tersebut justru akan memperkuat perjuangan Iran.

    Hal ini tertuang dalam tulisan yang terinspirasi dari pengamat politik Lebanon, Amal Saad, dan diunggah di akun media sosial X (dulu Twitter) @dinasulaeman pada Rabu (18/3/2026).

    Baca juga: Iran Hadapi Ancaman Sanksi PBB Akibat Blokade Selat Hormuz

    Dina yang merupakan dosen Hubungan Internasional (HI) di Universitas Padjadjaran (Unpad) itu menyebut, AS selama ini memakai strategi 'decapitation' atau melemahkan suatu kelompok/negara dengan cara membunuh pemimpinnya.

    'Decapitation' sendiri secara harfiah dalam bahasa Indonesia berarti pemenggalan kepala.

    Akan tetapi, strategi yang dipakai duet AS-Israel tersebut tidak mempan atau berlaku saat diterapkan terhadap Iran.

    "Dalam konteks Iran, peristiwa itu sering berubah menjadi 'kemartiran strategis'—yaitu kematian yang malah memperkuat perjuangan, bukan melemahkannya," tulis Dina.

    "Selama ini, Amerika dan Israel sering memakai strategi yang sama: membunuh pemimpin lawan dengan harapan sistemnya akan runtuh atau kacau."

    "Logikanya sederhana: kalau pemimpinnya hilang, organisasinya akan melemah. Strategi ini disebut 'decapitation' (pemenggalan kepala)."

    "Tapi terbukti, strategi decapitation berulang kali tidak berhasil di Iran."

    Dina yang juga Founder sekaligus Direktur Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES) menjelaskan alasan mengapa strategi 'decapitation' ini gagal di Iran.

    Menurutnya, ada cara berpikir yang berbeda bagi orang-orang Iran.

    Dina mengungkap, kematian pemimpin (terutama yang dianggap syahid) justru menjadi pembangkit semangat perjuangan bagi masyarakat Iran.

    "Bagi Iran, kematian seorang pemimpin, terutama jika dianggap sebagai syahid, justru bisa menjadi sumber kekuatan baru," terang Dina.

    "Kematian itu menginspirasi masyarakat, memperkuat solidaritas, dan membuat perjuangan terasa lebih bermakna."

    Dina menyebut, cara berpikir ini bahkan turut dipegang oleh para pemimpin Iran, di mana kematian syahid juga dianggap sebagai kemenangan, di samping kemenangan sejati atas peperangan itu sendiri.

    "Mereka [para pemimpin Iran] tidak melihat kematian sebagai kekalahan. Dalam pandangan mereka: Kalau menang, maka itu kemenangan -Kalau gugur (syahid), maka itu juga kemenangan," kata Dina.

    Lantas, Dina menyoroti salah satu cuitan terakhir di akun X milik Ali Larijani, @alilarijani_ir, sebelum perwira militer Iran bernama lengkap Ali Ardashir Larijani itu gugur.

    Saat menanggapi kabar bahwa AS menawarkan uang kepada siapa pun yang dapat mengungkap lokasi keberadaan pemimpin IranAli Larijani diketahui mencuitkan kutipan dari cucu Nabi Muhammad SAW, yakni Imam Husain.

    Cuitan tersebut berbunyi:

    Imam Husain berkata, 'Aku memandang kematian sebagai kebahagiaan, dan hidup bersama para penindas sebagai penderitaan.'

    "Karena itu, ketika seorang tokoh dibunuh, ia sering berubah menjadi simbol perjuangan, seperti dalam kisah Imam Husain di Karbala," jelas Dina.

    Dina menyebut, kematian pemimpin yang menjelma menjadi simbol perjuangan justru membuat masyarakat Iran semakin kuat dan solid.

    "Simbol ini kemudian: membangkitkan semangat rakyat, memperkuat legitimasi pemerintah, membuat sistem justru lebih solid," tutur Dina. 

    "Akibatnya, strategi 'pemenggalan kepala' yang dilakukan AS-Israel di Iran malah berbalik arah: bukannya melemahkan bangsa Iran, justru membuatnya semakin kuat dan tahan banting."

    Peringatan Ali Larijani kepada AS-Israel

    Diketahui, satu pekan sebelum kematiannya, Ali Larijani telah memperingatkan AS dan Israel bahwa membunuh para pemimpin Iran hanya akan memperkuat negara berjuluk 'Negeri Para Mullah' tersebut.

    Dikutip dari Al Jazeera, peringatan tersebut disampaikan Ali Larijani dalam sebuah siaran pada Jumat (6/3/2026).

    "Kadang-kadang, mereka berkata, 'Oh, kami sudah membunuh ini dan ini.' Ngimpi mereka," ucap Ali.

    "Tapi, jika pun mereka benar-benar melakukannya, setelah operasi yang mereka lancarkan terhadap Ayatollah Ali Khamenei, yang juga menewaskan beberapa komandan kami, itu bukan seolah semua orang yang penting juga ikut terbunuh."

    "Tapi, sekarang mari kita coba mengasumsikan bahwa mereka lanjut dua lagi pembunuhan, kamu tahu, Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin negara ini telah syahid, tetapi orang-orang berduka dengan penuh kesadaran. Mereka berdiri bersama revolusi."

    "Sekarang, andaikan mereka membunuh lima [pemimpin] lagi, mereka membunuh seseorang yang begitu besar, membuatnya syahid, dan orang-orang sadar, ini adalah titik bahwa Imam (semoga Allah mengasihinya) bilang soal syahidnya Profesor Motahari, bahwa mereka yang mati syahid hanya akan membuat revolusi semakin kuat."

    "Bunuh kami, maka bangsa kami akan semakin sadar."

    (Tribunnews.com/Rizki A.)


    Komentar
    Additional JS