0
News
    Home Bahlil Lahadalia Berita Featured Spesial

    Bahlil Dorong Kolaborasi Energi Indo-Pasifik di Tengah Krisis Global - Beritasatu

    4 min read

     

    Bahlil Dorong Kolaborasi Energi Indo-Pasifik di Tengah Krisis Global

    Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (Antara/Hafidz Mubarak A)

    Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya kolaborasi antarnegara yang saling menguntungkan untuk menjaga ketahanan energi global.

    Hal tersebut disampaikan saat berbicara di hadapan para Menteri Energi Indo-Pasifik dalam forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business (IPEM) Forum di Tokyo, Jepang.

    “Di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia saat ini, kita perlu memperkuat kolaborasi yang saling mengangkat satu sama lain dan bukan justru saling menjatuhkan,” kata Bahlil di hadapan para delegasi forum yang terdiri dari para menteri hingga pelaku industri energi kawasan Indo-Pasifik dikutip Minggu (15/3/2026).

    Bahlil mengatakan ketegangan geopolitik global membuat isu ketahanan energi kembali menjadi perhatian utama dalam forum tersebut. Pertemuan itu menjadi ruang diskusi bagi negara-negara di kawasan untuk memperkuat kerja sama dalam menjaga stabilitas pasokan energi, terutama di tengah konflik di Timur Tengah.

    Menurut Bahlil, Indonesia telah menunjukkan komitmennya dalam menjaga pasokan energi global. Salah satunya dengan mengirimkan sekitar 150 kargo liquefied natural gas (LNG) pada 2025.

    “Indonesia menunjukkan komitmen tersebut di antaranya dengan mengirimkan 150 kargo LNG tahun 2025 lalu untuk mendukung pasokan energi dunia. Selain itu, Indonesia juga mengirimkan sekitar setengah pasokan batu bara yang diperdagangkan di dunia,” ujarnya.

    Ia menambahkan ekspor energi dari Indonesia dalam jumlah besar turut memperkuat stabilitas pasokan energi global.

    Namun, Bahlil menegaskan bahwa apabila kolaborasi global tidak berjalan optimal, setiap negara tetap harus memprioritaskan kepentingan domestiknya. Sebagai negara yang masih mengimpor minyak, Indonesia harus memastikan kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi.

    “Sebagai salah satu negara importir minyak, jika kebutuhan minyak tersebut tidak dapat kami amankan, maka kami tidak memiliki pilihan kecuali memanfaatkan potensi energi di dalam negeri termasuk meningkatkan porsi crude palm oil yang diubah menjadi biodiesel,” jelasnya.

    Saat ini Indonesia merupakan produsen sekaligus eksportir crude palm oil (CPO) terbesar di dunia dengan volume ekspor mencapai sekitar 30 juta ton per tahun.

    Di tengah kelangkaan energi global, Bahlil menilai banyak negara kini lebih memprioritaskan kebutuhan energinya masing-masing.

    “Meski ada Perjanjian Paris yang mendesak transisi dari batu bara, faktanya saat ini banyak negara yang meningkatkan impor batu baranya dari Indonesia,” kata dia.

    Di sisi lain, pemerintah Indonesia tetap berkomitmen mendorong transisi energi dan pengembangan energi baru terbarukan, termasuk melalui diversifikasi sumber energi untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

    Komitmen tersebut tercermin dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas hingga 100 gigawatt (GW).

    “Indonesia sangat berkomitmen untuk terus mendorong transisi energi termasuk melalui program PLTS 100 GW dengan prioritas jangka pendek berupa eliminasi PLTD diesel dengan PLTS,” tegas Bahlil.

    Forum internasional di Tokyo tersebut merupakan pertemuan tingkat tinggi yang mempertemukan pemerintah dan pelaku usaha energi untuk membahas keamanan pasokan energi di kawasan Indo-Pasifik.

    Kegiatan ini diselenggarakan bersama oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang serta National Energy Dominance Council Amerika Serikat.

    Pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan bersama yang menekankan pentingnya memperkuat ketahanan energi kawasan sekaligus menghormati jalur transisi energi yang dipilih masing-masing negara.


    Komentar
    Additional JS