0
News
    Home Berita China Dunia Internasional Featured Spesial

    China Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 4,5-5% Tahun Ini - detik

    7 min read

     

    China Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 4,5-5% Tahun Ini

    Foto: Shutterstock
    Jakarta -

    Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 4,5% hingga 5%. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5% yang dicapai tahun lalu.

    China juga merilis Rencana Lima Tahun ke-15, dan. Tak hanya itu, pemerintahan Negeri Tirai Bambu berjanji akan meningkatkan investasi di bidang inovasi, industri berteknologi tinggi, riset ilmiah, serta mendorong peningkatan yang "signifikan" dalam konsumsi rumah tangga sebagai porsi dari output ekonomi.

    Dikutip dari Reuters, Kamis (5/3/2026), janji-janji tersebut menunjukkan bahwa Beijing menyadari lemahnya permintaan domestik membuat ekonomi terbesar kedua di dunia itu terlalu bergantung pada ekspor untuk pertumbuhan.

    Namun di saat yang sama, pemerintah juga tidak ingin menghentikan upaya untuk meningkatkan kualitas kompleks industrinya yang sangat besar, karena sektor tersebut memberi China kekuatan dalam rantai pasok global, terutama terhadap Amerika Serikat dan sekutunya di tengah rivalitas yang semakin intens.

    Target pertumbuhan tersebut tercantum dalam laporan resmi pemerintah yang dilihat oleh Reuters dan akan dipresentasikan di parlemen, yang membuka sidang tahunan pada Kamis dengan pidato dari Perdana Menteri Li Qiang.

    Para ekonom mengatakan target yang lebih rendah memberi Beijing lebih banyak fleksibilitas untuk menjalankan reformasi, seperti mengurangi kelebihan kapasitas industri. Namun mereka juga mengingatkan bahwa langkah ini tidak berarti China meninggalkan model pertumbuhan yang berfokus pada produksi.

    Analis dari Mercator Institute for China Studies (MERICS) menilai janji pemerintah untuk mendorong konsumsi rumah tangga masih kosong. Menurut mereka, kepemimpinan China percaya bahwa dukungan besar terhadap industri strategis lebih sesuai dengan kepentingan nasional, terutama di tengah kompetisi kekuatan besar.

    "Dengan kondisi yang rapuh seperti sekarang, kebijakan ekonomi China akan terus secara sistematis lebih berpihak pada perusahaan dibandingkan rumah tangga," tulis analis MERICS dalam sebuah catatan sebelum sidang parlemen dimulai.

    "Mereka akan terus memperlambat perluasan program kesejahteraan sosial, sementara pada saat yang sama menggunakan subsidi besar dan insentif pajak untuk mendorong pertumbuhan dan peningkatan kapasitas industri," tambahnya

    Rencana Stimulus

    Dari sisi stimulus ekonomi, China merencanakan defisit anggaran sebesar 4,0% dari Produk Domestik Bruto (PDB), hampir sama dengan tahun lalu. Pemerintah juga menetapkan kuota penerbitan utang khusus yang tidak berubah, yaitu 1,3 triliun yuan (sekitar US$ 188,49 miliar) untuk pemerintah pusat dan 4,4 triliun yuan untuk pemerintah daerah.

    China juga berjanji akan menaikkan pensiun bulanan minimum sebesar 20 yuan per orang serta meningkatkan subsidi asuransi kesehatan dasar bagi masyarakat pedesaan yang tidak bekerja sebesar 24 yuan.

    Selain itu, pemerintah menyatakan ingin meningkatkan belanja pendidikan, memberikan subsidi untuk layanan penitipan anak, serta mereformasi rumah sakit publik. Larry Hu, kepala ekonom China di Macquarie, memperkirakan kebijakan fiskal China akan disesuaikan secara fleksibel tergantung pada kondisi ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.

    "Jika ekspor tetap kuat, mereka mungkin akan mentoleransi konsumsi domestik yang lemah. Sebaliknya, jika ekspor melemah, mereka akan meningkatkan stimulus domestik untuk mempertahankan target pertumbuhan PDB," kata Hu.

    Tonton juga video "TanyadetikFinance Apa Efek Ditutupnya Selat Hormuz ke Ekonomi Indonesia?"




    (acd/acd)
    Komentar
    Additional JS