Dajjal Akan Muncul di Isfahan Diikuti 70 Ribu Pengikut, Berapa Jumlah Yahudi di Iran Saat Ini? - Herald
HERALD.ID – Di tengah memanasnya situasi geopolitik Iran dan Israel dalam beberapa waktu terakhir, nama kota Isfahan kembali bergema di ruang publik global. Kota tua di jantung Persia itu tak hanya disorot karena dugaan insiden militer, tetapi juga karena kembali diperbincangkan dalam narasi sejarah dan keagamaan yang panjang—mulai dari keberadaan komunitas Yahudi kuno hingga hadis tentang fitnah akhir zaman.
Isfahan selama berabad-abad dikenal sebagai salah satu kota paling bersejarah di Iran. Terletak di jalur strategis yang menghubungkan Teheran dengan kawasan Teluk Persia, kota ini bukan hanya pusat budaya dan arsitektur, tetapi juga rumah bagi salah satu komunitas Yahudi tertua di wilayah Timur Tengah.
Menurut berbagai catatan sejarah, komunitas Yahudi di Isfahan telah ada sejak berabad-abad lalu. Sumber-sumber Persia kuno, Armenia, hingga kronik Muslim menyebutkan keberadaan pemukiman Yahudi di wilayah yang dahulu dikenal sebagai Al-Yahudiyah. Pada masa awal Islam setelah penaklukan Persia tahun 641, kawasan itu bahkan dikenal sebagai “kota Yahudi” karena besarnya populasi komunitas tersebut.
Catatan penjelajah Yahudi abad ke-12, Benjamin dari Tudela, memperkirakan jumlah warga Yahudi di Isfahan mencapai sekitar 15 ribu orang pada masanya. Komunitas ini berkembang dalam bidang perdagangan, kerajinan, serta studi keagamaan, khususnya dalam tata bahasa dan tafsir Ibrani.
Namun sejarah mereka tidak selalu berjalan mulus. Pada abad ke-17, komunitas Yahudi di kota itu mengalami masa sulit akibat penganiayaan dan pemaksaan pindah agama yang terjadi pada era tertentu pemerintahan Persia. Kisah penderitaan itu tercatat dalam kronik Yudeo-Persia serta laporan sejumlah saksi sejarah.
Seiring perubahan politik Persia, posisi komunitas Yahudi di Isfahan mengalami naik-turun. Ketika ibu kota dinasti Qajar dipindahkan ke Teheran pada akhir abad ke-18, pengaruh komunitas Yahudi di kota ini perlahan berkurang. Meski begitu, kehidupan budaya mereka tetap bertahan, terutama setelah berdirinya sekolah Yahudi yang didukung organisasi Alliance Israélite Universelle pada awal abad ke-20.
Saat ini, jumlah komunitas Yahudi di Iran jauh lebih kecil dibanding masa lalu. Komite Yahudi Teheran memperkirakan populasi Yahudi Iran berkisar antara 25 ribu hingga 35 ribu orang, dengan sekitar 15 ribu di antaranya tinggal di ibu kota. Sementara sensus resmi Iran pada 2011 mencatat sekitar 8.756 warga Yahudi di seluruh negeri.
Di Isfahan sendiri, populasi Yahudi diperkirakan sekitar 1.500 orang. Kota ini memiliki satu sinagoga utama dan belasan sinagoga kecil yang masih aktif digunakan oleh komunitas setempat.
Namun di luar konteks sejarah dan demografi, nama Isfahan juga kerap muncul dalam literatur keagamaan Islam mengenai akhir zaman. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa Dajjal akan diikuti oleh 70.000 orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan selendang khas Persia.
Riwayat tersebut sering menjadi bahan diskusi teologis di kalangan ulama dan peneliti hadis. Para ahli menekankan bahwa teks tersebut merupakan bagian dari narasi eskatologi Islam—yakni pembahasan mengenai peristiwa menjelang akhir zaman—yang harus dipahami dalam konteks keilmuan dan bukan sebagai deskripsi sosial terhadap komunitas tertentu di masa kini.
Di tengah berbagai spekulasi dan dinamika politik modern, Isfahan tetap berdiri sebagai kota dengan lapisan sejarah yang sangat panjang. Dari pusat kebudayaan Persia, tempat hidup komunitas Yahudi kuno, hingga menjadi bagian dari narasi religius yang terus dibahas lintas generasi.
Di balik kubah-kubah biru masjidnya, jembatan batu yang melengkung di atas Sungai Zayandeh, dan lorong Grand Bazaar yang ramai, Isfahan menyimpan kisah tentang peradaban, konflik, serta keyakinan manusia yang terus berkelindan sepanjang waktu. (bs)