Emas Melemah di Tengah Perang Iran-AS, Analis Sarankan Jangan Dulu Dilepas - Republika
Emas Melemah di Tengah Perang Iran-AS, Analis Sarankan Jangan Dulu Dilepas
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga emas justru melemah di tengah eskalasi perang Iran-AS. Padahal, logam mulia ini selama ini dikenal sebagai aset aman saat konflik global meningkat.
Sejak perang pecah pada akhir Februari, harga emas tercatat turun lebih dari 20 persen dari puncaknya pada Januari. Kondisi ini berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang biasanya mendorong kenaikan emas saat ketidakpastian meningkat.
Namun, bank investasi UBS menilai pelemahan tersebut bukan sinyal untuk keluar dari emas. Analis UBS Global Wealth Management Wayne Gordon menegaskan emas tetap relevan sebagai lindung nilai.
“Kami tidak melihat ini sebagai titik balik besar bagi emas. Ada perbedaan kondisi yang membuat prospek ke depan tetap didukung faktor makro,” ujarnya, dikutip dari Business Insider, Rabu (25/3/2026).
Menurut Gordon, tekanan terhadap emas saat ini lebih dipengaruhi faktor ekonomi global, bukan semata konflik. Penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi menjadi hambatan utama dalam jangka pendek.
Gordon juga mengingatkan respons emas terhadap konflik tidak selalu terjadi di awal. “Sejarah menunjukkan emas tidak selalu menguat pada fase awal perang. Responsnya bisa tertunda,” katanya.
Ia menambahkan pergerakan emas lebih banyak ditentukan oleh arah kebijakan moneter dan kondisi ekonomi ketimbang konflik itu sendiri.
Meski demikian, UBS tetap optimistis harga emas akan kembali menguat. Emas dinilai masih efektif sebagai pelindung nilai portofolio di tengah ketidakpastian global.
Di sisi lain, perang di Timur Tengah terus memicu gejolak di pasar energi. Harga minyak sempat melonjak tajam sebelum kembali turun seiring munculnya harapan gencatan senjata. Namun, volatilitas masih tinggi karena pasokan energi global terganggu.
Lonjakan harga energi tersebut mulai berdampak ke ekonomi riil. Survei terbaru menunjukkan biaya produksi di Inggris meningkat tajam, bahkan menjadi yang tertinggi sejak krisis 1992. Tekanan inflasi pun kembali meningkat, seiring naiknya harga bahan bakar dan terganggunya rantai pasok.
Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa pergerakan emas tidak selalu mengikuti dinamika konflik secara langsung. Dalam jangka pendek, tekanan dari suku bunga dan dolar lebih dominan. Namun, dalam jangka menengah, emas masih dipandang sebagai aset aman di tengah risiko ekonomi global yang meningkat.
Halaman 2 / 2
Emas Antam Naik, Pegadaian Turun
Di dalam negeri harga emas Antam yang dipantau di laman Logam Mulia dari Jakarta, Rabu, pukul 08.58 WIB, naik Rp 7.000 dari semula Rp 2.843.000 menjadi Rp 2.850.000 per gram.
Begitu pula untuk harga beli kembali (buyback) emas Antam turut naik ke angka Rp 2.507.000 per gram. Harga emas Antam sewaktu-waktu dapat berubah.
Transaksi harga jual dikenakan potongan pajak sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017 untuk semua jenis emas mulai dari gramasi 1 gram hingga 1.000 gram (1 kilogram).
Penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nominal lebih dari Rp 10 juta dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen untuk non-NPWP.
PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
Sementara itu, harga emas batangan yang dikutip dari laman resmi Sahabat Pegadaian di Jakarta, Rabu pukul 08.18 WIB, menunjukkan harga emas UBS dan Galeri24 turun, masing-masing ke angka Rp 2.852.000 dan Rp 2.838.000 per gram.
Harga tersebut turun dari angka yang tertera di laman resmi Sahabat Pegadaian pada Selasa (24/3/2026) pagi, yakni UBS Rp 2.862.000 dan Galeri24 Rp 2.849.000 per gram.
Harga jual emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian sewaktu-waktu dapat berubah.
Untuk Galeri24 dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. Sementara emas UBS dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 500 gram.