0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Inggris Iran Konflik Timur Tengah NATO Spanyol Spesial

    Eropa Mulai Muak! NATO Ogah Bantu AS Serang Iran: Inggris Larang Pangkalan, Spanyol Usir 15 Pesawat Tanker - Viva

    8 min read

      

    Eropa Mulai Muak! NATO Ogah Bantu AS Serang Iran: Inggris Larang Pangkalan, Spanyol Usir 15 Pesawat Tanker

    Siap – Desakan agar Presiden AS Donald Trump dimakzulkan semakin menguat. Kali ini, suara keras datang dari perwakilan negara anggota NATO yang secara terbuka mengkritik kebijakan Washington terkait Iran.

    BREAKING NEWS: Pasukan Khusus AS Sudah Masuk Iran, Perang Darat Tinggal Tunggu Waktu!

    Pernyataan tajam itu disampaikan Ketua Partai Liberal Demokrat Inggris, Edward Jonathan Davey, dalam sidang parlemen belum lama ini.

    Ia bahkan menyebut Trump sebagai gangster, merujuk pada kebijakan serangan sepihak terhadap Iran.

    Pejabat Penting Israel Mati Kena Hantam Rudal Iran di Gedung Kementerian Pertahanan Tel Aviv

    "Trump bertindak seperti gangster internasional. Perdana Menteri telah mencoba menenangkannya selama 12 bulan dan gagal. Sudah saatnya kita akhirnya melawannya dan bersatu dengan sekutu Eropa kita untuk membuatnya (Trump) mundur," ucap Davey seperti dikutip dalam video unggahan pada akun Instagram pribadinya, Rabu, 4 Maret 2026.

    FOTO: Kondisi Mengerikan Tel Aviv Pagi Ini, Sirene Meraung, Warga Hidup di Bawah Bayang-Bayang Rudal Iran!

    Pernyataan tersebut memicu perhatian luas.

    Kritik terhadap Trump kini tidak hanya datang dari dalam negeri AS, tetapi juga dari sekutu dekatnya di Eropa.

    NATO Enggan Terseret Konflik Iran

    Ketegangan meningkat setelah Iran melakukan aksi balasan terhadap Israel dan sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah.

    Dikutip dari berbagai sumber, Drone Shahed milik Iran dikabarkan menempuh jarak hampir 2.000 kilometer melintasi Laut Mediterania.

    Drone tersebut menghantam Pangkalan Udara RAF Akrotiri Inggris di Siprus.

    Disebutkan, tidak satu pun sistem pertahanan udara NATO yang melihatnya datang.

    Aksi balasan ini berlangsung setelah AS dan Israel menyerang Teheran dan membunuh Pemimpin Tertinggi Khamenei.

    Menurut informasi yang beredar, Korps Garda Republik Islam atau IRGC membalas dengan menyerang 15 negara, 27 pangkalan militer AS, dan sebuah pangkalan Inggris di Siprus dalam waktu 24 jam.

    Situasi ini membuat sejumlah negara NATO mengambil jarak dari Washington.

    Mereka khawatir konflik meluas dan menyeret kawasan Eropa ke dalam perang terbuka.

    Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak akan bergabung dalam serangan ofensif Israel dan AS terhadap Iran. Ia menyampaikan sikap itu di hadapan parlemen, menyusul desakan agar Inggris tidak terlibat lebih jauh.

    Starmer menegaskan bahwa ia tidak akan mempertaruhkan nyawa personel militer Inggris tanpa dasar hukum yang sah.

    Pemerintah Inggris juga dilaporkan menolak memberikan izin kepada militer AS untuk menggunakan pangkalan Inggris dalam kemungkinan serangan terhadap Teheran.

    Keputusan ini meningkatkan ketegangan antara London dan Washington.

    Presiden AS Donald Trump dikabarkan mengkritik sikap tersebut.

    Padahal, berdasarkan perjanjian lama, pesawat Amerika dapat beroperasi dari RAF Fairford di Gloucestershire.

    Selain itu, pangkalan militer gabungan AS–Inggris di Diego Garcia di Samudra Hindia juga bisa digunakan, namun hanya dengan persetujuan pemerintah Inggris.

    Hingga kini, London belum memberikan izin untuk tindakan apa pun terhadap Iran.

    Pemerintah Inggris menilai keterlibatan tanpa dasar hukum jelas dapat melanggar hukum internasional.

    Spanyol Ikut Menolak, Hubungan Dagang Terancam

    Selain Inggris, Spanyol juga mengambil langkah tegas.

    Pemerintah Spanyol menolak pangkalannya digunakan AS untuk menyerang Teheran.

    Sebanyak 15 pesawat tanker KC-135 USAF dilaporkan meninggalkan Pangkalan Udara Rota dan Moron di Spanyol selatan.

    Data situs pelacakan penerbangan Flightradar24 mencatat pergerakan tersebut sejak 28 Februari 2026, saat AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

    Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albarez menyatakan bahwa Spanyol tidak akan mengizinkan pangkalan militernya digunakan untuk menyerang Iran.

    Pangkalan tersebut dikelola bersama dengan AS, namun tetap berada di bawah kedaulatan Spanyol.

    Laporan menyebut tujuh pesawat dipindahkan ke Pangkalan Udara Ramstein di Jerman dan dua lainnya menuju Prancis.

    Langkah Spanyol dinilai sebagai sinyal kuat bahwa solidaritas NATO terhadap kebijakan militer AS tidak lagi solid.

    Sejumlah negara Eropa tampak berhitung ulang terhadap risiko keterlibatan langsung.

    Menanggapi sikap sekutu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku kecewa.

    "Jadi kami akan memutus semua perdagangan dengan Spanyol kami tidak ingin berurusan apa pun dengan Spanyol," katanya dengan nada sewot.

    Pernyataan tersebut memunculkan kekhawatiran baru terkait potensi perang dagang antara AS dan Spanyol.

    Ketegangan diplomatik pun bertambah di tengah situasi keamanan yang sudah rapuh.

    Desakan pemakzulan terhadap Trump kini semakin mendapat sorotan.

    Kritik tajam dari sekutu NATO memperkuat tekanan politik yang sebelumnya lebih banyak datang dari dalam negeri.

    Meski demikian, belum ada langkah formal dari Kongres AS terkait pemakzulan terbaru ini.

    Dinamika politik di Washington masih terus berkembang.

    Yang jelas, konflik Iran telah memicu gelombang ketegangan baru dalam hubungan transatlantik.

    NATO, yang selama ini dikenal solid dalam isu pertahanan, kini menghadapi ujian serius.

    Keputusan Inggris dan Spanyol menolak keterlibatan langsung menunjukkan adanya perbedaan pendekatan terhadap konflik di Timur Tengah.

    Sebagian negara Eropa lebih memilih jalur hukum internasional dan deeskalasi.

    Perkembangan ini akan sangat menentukan arah hubungan AS dengan sekutu NATO dalam waktu dekat.

    Dunia kini menanti apakah ketegangan ini akan mereda melalui diplomasi atau justru semakin melebar.


    Komentar
    Additional JS