Gejolak Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Emas, Bisa Tembus Rp 3,4 Juta? - Liputan6
Gejolak Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Emas, Bisa Tembus Rp 3,4 Juta?
Gejolak Timur Tengah dorong harga emas dunia berpotensi melonjak, logam mulia bisa tembus Rp 3,4 juta.
- Apa penyebab potensi lonjakan harga emas dunia?
- Berapa prediksi kenaikan harga emas dunia menurut pengamat?
- Bagaimana dampak kenaikan harga emas global terhadap harga logam mulia di Indonesia?
Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai berpotensi mendorong lonjakan harga emas dunia dan logam mulia dalam waktu dekat. Eskalasi konflik setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran disebut memicu kekhawatiran pasar global, sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset safe haven seperti emas.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai serangan yang disebut cukup masif itu berpotensi memperpanjang ketegangan di kawasan.
“Sehingga apa? Sehingga ini akan berdampak positif terhadap harga emas dunia bahkan kemungkinan besar dalam perdagangan besok pagi ya mungkin jam 6 itu akan terjadi gap-up ya kemungkinan besar itu akan melompat ya di USD 5.440-an. Saya mengira bahwa bisa saja ya dalam dua hari ya USD 5.500 itu akan tercapai dalam hitungan jam ya ini yang cukup menarik,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (1/3/2026).
Menurutnya, situasi tersebut dapat memicu lonjakan harga emas secara cepat, bahkan dalam hitungan jam apabila sentimen pasar semakin memanas.
Ia menambahkan, kenaikan harga emas global juga akan berdampak langsung terhadap harga logam mulia di dalam negeri, terlebih jika diikuti pelemahan nilai tukar rupiah.
“Sehingga apa? Sehingga akan berdampak positif terhadap harga logam mulia sendiri. Karena apa? Pasti rupiah akan mengalami pelemahan pada saat emas dunia mengalami kenaikan yang cukup signifikan kemudian harga rupiah melemah cukup tajam ini akan berdampak terhadap harga logam mulia. Misalnya logam mulia bisa terjadi akan kembali di level Rp 3.300.000 Rp 3.400.000-an,” katanya.
Ia menilai, potensi eskalasi konflik dalam jangka pendek maupun menengah menjadi faktor utama yang menopang pergerakan harga emas sebagai aset lindung nilai, sekaligus memengaruhi harga logam mulia di pasar domestik.
Lancarkan Rudal Balasan, IRGC: Iran Tak Akan Biarkan Sirene Alarm AS dan Israel Jadi Hening
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5516526/original/082099100_1772322543-3.jpg)
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, baru saja mengumumkan gelombang baru serangan rudal balasan yang diluncurkan ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah, Minggu (1/3/2026).
"Gelombang keenam serangan rudal dan drone ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan ini telah dimulai," kata IRGC, sebagaimana dikutip kantor berita ISNA.
IRGC menyampaikan bahwa serangan tersebut diarahkan ke 27 titik, antara lain pangkalan udara Tel Nof di Israel tengah, markas besar angkatan darat Israel, dan sebuah kompleks industri militer di Tel Aviv.
"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran tidak akan membiarkan sirene alarm di Israel dan pangkalan AS menjadi hening, dan kami akan melancarkan tahapan balas dendam yang keras melalui serangan yang bertahap," demikian pernyataan IRGC.
Pada Sabtu pagi (28/2/2026) waktu setempat, Amerika Serikat dan Zionis Israel melancarkan serangkaian serangan ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa rakyat sipil.
Masa Berkabung
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5516525/original/044369700_1772322540-2.jpg)
Iran kemudian melancarkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dikonfirmasi syahid akibat serangan rudal AS-Israel terhadap tempat kerjanya.
Menyusul wafatnya Khamenei, pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan libur kerja selama seminggu.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran, dalam pernyataan tertulis mereka, bersumpah akan membalas kematian Khamenei.