Hancur Lebur Usai Digempur Iran, Keandalan Sistem Pertahanan Rudal Israel Dipertanyakan - Tribunnews
Kegagalan sistem pencegatan ini memicu kekhawatiran terkait stok rudal pertahanan Israel yang diduga mulai menipis.
Ringkasan Berita:
- Keandalan sistem pertahanan udara berlapis milik Israel kini mulai dipertanyakan.
- Keraguan ini muncul setelah dua rudal balistik Iran berhasil menembus pengamanan ketat dan menghantam permukiman penduduk di Dimona serta Arad pada Sabtu (21/3/2026) malam.
- Kegagalan sistem pencegatan ini memicu kekhawatiran terkait stok rudal pertahanan Israel yang diduga mulai menipis.
SERAMBINEWS.COM, TEL AVIV – Keandalan sistem pertahanan udara berlapis milik Israel kini mulai dipertanyakan.
Keraguan ini muncul setelah dua rudal balistik Iran berhasil menembus pengamanan ketat dan menghantam permukiman penduduk di Dimona serta Arad pada Sabtu (21/3/2026) malam.
Fasilitas penelitian nuklir dan reaktor utama Israel, yang berjarak hanya delapan mil dari Dimona di Gurun Negev selatan, termasuk lokasi yang paling terlindungi di negara itu.
Kegagalan sistem pencegatan ini memicu kekhawatiran terkait stok rudal pertahanan Israel yang diduga mulai menipis.
Menurut laporan New York Times, pejabat militer Israel menyatakan sedang menyelidiki penyebab kegagalan, namun tetap bungkam soal detail teknis.
Meskipun militer mengklaim tingkat keberhasilan pencegatan rudal Iran lebih dari 90 persen, para ahli menekankan tidak ada sistem pertahanan udara yang benar-benar sempurna.
"Dimona dilindungi sistem berlapis buatan Israel dan AS, tetapi tidak ada yang sempurna," kata Ran Kochav, brigadir jenderal cadangan dan mantan komandan pasukan pertahanan udara Israel.
Saat mengunjungi lokasi terdampak pada Minggu (22/3/2026), Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengimbau warga untuk selalu mematuhi peringatan dini dan segera menuju tempat perlindungan, meski ia tidak menjelaskan kegagalan pencegatan tersebut.
Baca juga: Iran Akui Tembak Jatuh Jet Tempur F-15 AS di Selat Hormuz, Klaim Cegat 200 Target Udara
Stok Rudal dan Strategi Pertahanan
Juru bicara militer, Brigjen Effie Defrin, menyatakan kegagalan di Arad dan Dimona tidak saling terkait.
Iron Dome, sistem pertahanan rudal jarak pendek yang terkenal luas, lebih difokuskan untuk menghadapi serangan dari Hamas.
Sedangkan pertahanan terhadap rudal balistik dilakukan oleh Arrow 3, sistem anti-balistik yang dikembangkan Israel dan AS, serta THAAD buatan AS yang juga dikerahkan di Israel.
Israel kini berupaya memperluas cakupan sistem pertahanan udara tingkat bawah seperti Iron Dome dan David's Sling untuk mengoptimalkan sumber daya, karena sistem Arrow 3 dianggap mahal dan memakan waktu lama untuk diproduksi.
Media lokal melaporkan bahwa Arrow 3 tidak dikerahkan menghadapi rudal yang menghantam Arad dan Dimona.
Beberapa pihak dalam lembaga keamanan Israel sebelumnya menyuarakan kekhawatiran soal stok rudal pencegat sebelum Iran menghabiskan persenjataannya.
Militer membantah kehabisan persediaan dan menegaskan mereka siap untuk pertempuran berkepanjangan.
Namun, tekanan pada stok rudal pencegat akan meningkat seiring berlanjutnya konflik.
Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel, Amir Baram, telah melakukan perjalanan ke Washington bulan ini untuk meminta tambahan rudal pencegat dan amunisi, meski belum jelas apakah AS telah menyetujui permintaan tersebut.
"Ini bukan seperti tong tanpa dasar," kata Jenderal Kochav. "Saat kita melakukan pencegatan, kita juga harus memikirkan pertempuran hari berikutnya."
Dampak Serangan
Dalam dua serangan rudal di Arad dan Dimona, sekitar 175 orang terluka, dengan setidaknya 10 di antaranya mengalami luka serius.
Banyak penghuni berhasil mencapai tempat perlindungan, sehingga mencegah korban lebih besar, menurut pejabat setempat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Rudal-Iran-menghantam-ibukota-Tel-Aviv-di-Israel-Iran-Serang-Israel.jpg)