0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah Spesial

    Imbas Perang Iran, Harga Tiket Pesawat ke Eropa Tembus Puluhan Juta Rupiah - Tribunnews

    10 min read

     

    Imbas Perang Iran, Harga Tiket Pesawat ke Eropa Tembus Puluhan Juta Rupiah

    Penutupan sejumlah bandara di timur tengah ini juga memangkas drastis kapasitas pada rute sibuk seperti Australia menuju Eropa.


    Ringkasan Berita:
    • Harga tiket pesawat rute Asia-Eropa melambung drastis akibat eskalasi konflik Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang melumpuhkan jalur udara Timur Tengah.
    • Sejumlah bandara di timur tengah yang biasanya menjadi pusat transit seperti Dubai masih mengalami penutupan sehingga memaksa maskapai mencari rute alternatif yang lebih jauh, memakan waktu, dan boros bahan bakar.
    • Penumpang kini beralih ke hub alternatif dengan harga tiket sekali jalan yang mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

     

    TRIBUNNEWS.COM - Harga tiket pesawat rute Asia menuju Eropa dilaporkan melonjak drastis menyusul penutupan sejumlah pusat penerbangan utama di Timur Tengah.

    Adapun naiknya harga tiket secara drastis ini merupakan dampak dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, yang menyebabkan kapasitas penerbangan menipis dan tiket pada rute-rute populer habis terjual selama berhari-hari.

    Penutupan sejumlah bandara yang biasanya menjadi pusat transit utama di kawasan timur tengah juga menjadi salah satu faktor yang membuat harga tiket melambung lantaran pihak maskapai harus mencari rute alternatif.

    Seperti yang diketahui sebelumnya, Bandara Internasional Dubai yang dikenal sebagai bandara tersibuk di dunia dengan kapasitas normal lebih dari 1.000 penerbangan per hari, kondisinya masih tetap ditutup untuk hari kelima pada hari Rabu (4/3/2025).

    Penutupan sejumlah bandara di timur tengah ini juga memangkas drastis kapasitas pada rute sibuk seperti Australia menuju Eropa.

    Adapun maskapai yang paling merasakan imbasnya adalah Emirates dan Qatar Airways yang biasanya memegang pangsa pasar yang besar pada jalur tersebut.

    Sementara itu di Australia, Flight Centre Travel Group mencatat lonjakan panggilan ke toko dan layanan bantuan darurat sebesar 75 persen sejak krisis di Iran bermula. 

    Direktur Pelaksana Global, Andrew Stark, menyatakan bahwa warga Australia kini mengalihkan pemesanan penerbangan mereka melalui jalur hub alternatif seperti di China, Singapura, dan Amerika Serikat.

    Salah satu penumpang yang terdampak adalah Charlotte Kennard dan ayahnya, Richard.

    Dikutip dari Reuters, mereka dijadwalkan terbang dari Birmingham ke Sydney via Dubai pada hari Minggu lalu.

    Namun rencana perjalanan tersebut pupus setelah konflik di Iran berlangsung.

    Baca juga: Wahabisme, Geopolitik Takfiri, dan Pusaran Konflik Iran Vs Israel-USA

    Meski maskapai sempat menyatakan sedang memantau situasi, mereka justru mendapati penerbangan telah dibatalkan saat tiba di bandara.

    Kennard akhirnya berhasil mendapatkan kursi di penerbangan Singapore Airlines dari London dengan membayar 1.900 poundsterling atau setara Rp38.600.000 per orang untuk tiket sekali jalan.

    Harga tersebut jauh lebih mahal dibandingkan tiket pulang-pergi asli mereka senilai A$2.300 atau sekitar Rp23.700.000.

    Penerbangan Singapore Airlines (SIA) Boeing 777-300 ER SQ636 dari Singapura tujuan Tokyo harus dialihkan ke Taipei, Taiwan, setelah kaca depan pesawat retak saat penerbangan berlangsung, Sabtu, 27 Oktober 2024.
    Penerbangan Singapore Airlines (SIA) Boeing 777-300 ER SQ636 dari Singapura tujuan Tokyo harus dialihkan ke Taipei, Taiwan, setelah kaca depan pesawat retak saat penerbangan berlangsung, Sabtu, 27 Oktober 2024. (The Straits Times/Kevin Lim)

    “Tinggal di Australia, kami umumnya cukup jauh dari konflik dan saya pikir berada lebih dekat dengan situasi tersebut menimbulkan rasa takut dan stres yang baru,” ujar Kennard.

    “Pada akhirnya, kami hanya menantikan untuk melihat rumah, keluarga, dan anjing kami lagi.” pungkasnya.

    Maskapai yang masih menawarkan penerbangan nonstop Asia-Eropa kini terpaksa memutar demi menghindari zona udara Timur Tengah yang ditutup.

    Jalur alternatif mencakup rute utara melalui Kaukasus kemudian Afghanistan, atau rute selatan melalui Mesir, Arab Saudi, dan Oman.

    Namun demikian, rute ini menambah waktu tempuh dan konsumsi bahan bakar, yang pada akhirnya memicu kenaikan ongkos di tengah lonjakan harga minyak dunia.

    “Saat ini seluruh Timur Tengah berada di luar jangkauan, yang merupakan harga mahal bagi beberapa maskapai penerbangan,” kata Subhas Menon, kepala Association of Asia Pacific Airlines.

    “Jika kemudian Eropa hanya dapat dilayani dengan biaya tinggi, profitabilitas maskapai akan terganggu. Pada akhirnya, harga yang harus dibayar adalah konektivitas.” pungkas Subhas

    Lonjakan Harga Fantastis di Maskapai Alternatif

    Lembaga konsultan Alton Aviation menyatakan bahwa maskapai yang mengoperasikan layanan nonstop atau transit di luar wilayah terdampak diprediksi akan mendapatkan keuntungan jangka pendek karena penumpang beralih dari maskapai berbasis di Teluk.

    Adapun maskapai yang saat ini dinilai tengah menjadi primadona adalah seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines, dan Turkish Airlines.

    Kenaikan permintaan pada maskapai tersebut pun mengerek harga tiket yang ditawarkan di pasaran.

    Berdasarkan data pada situs resmi maskapai pada hari Selasa (4/3/2026), ketersediaan kursi maskapai-maskapai tersebut terpantau sangat terbatas dengan harga yang fantastis.

    Baca juga: Strategi Perang Ala Cumi-cumi Diterapkan Iran hingga Merepotkan AS-Israel

    Di situs Cathay Pacific misalnya, kelas ekonomi rute Hong Kong-London baru tersedia pada 11 Maret dengan harga satu kali jalan HK$21.158 atau setara Rp42.600.000.

    Qantas Airways bahkan tidak menawarkan tiket kelas ekonomi melalui rute normal Perth atau Singapura hingga 17 Maret.

    Adapun rute ke eropa melalui Perth atau Singapura dibanderol dengan harga A$3.129 atau sekitar Rp35.000.000.

    Armada Qantas.
    Armada Qantas. (Sydney Morning Herald)

    Maskapai Thai Airways juga mengalami fenomena serupa.

    Menteri Transportasi Thailand, Phiphat Ratchakitprakarn, menyebut turis Eropa kini lebih memilih rute langsung. Tiket Bangkok-London di situs Thai Airways.

    Phiphat menyebut tiket penerbangan ke eropa hingga akhir pekan depan juga sudah terjual habis dengan harga mencapai 71.190 baht atau setara Rp35.700.000 untuk keberangkatan 15 Maret.

    Maskapai asal Taiwan, EVA Airways, serta maskapai-maskapai dari China daratan juga melaporkan lonjakan pemesanan yang signifikan.

    Sebagai gambaran, tiket ekonomi Beijing-London yang biasanya di bawah 10.000 yuan atau setara Rp22.900.000, kini nyaris tidak tersedia.

    Air China hanya menyisakan opsi kelas bisnis untuk keberangkatan segera dengan harga mencapai 50.490 yuan atau sekitar Rp110.000.000.

    (Tribunnews.com/Bobby)


    Komentar
    Additional JS