0
News
    Home Berita CPO Dunia Internasional Featured Konflik Timur Tengah Spesial

    Imbas Perang, Jalur Ekspor CPO Indonesia Terpaksa Memutar ke Afrika - SindoNews

    5 min read

     

    Imbas Perang, Jalur Ekspor CPO Indonesia Terpaksa Memutar ke Afrika


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Jum'at, 13 Maret 2026 - 09:15 WIB

    Eskalasi di Timur Tengah memaksa kapal-kapal pengangkut minyak sawit mentah (CPO) Indonesia memutar jalur melalui Afrika Selatan. FOTO/dok.SindoNews

    JAKARTA - Eskalasi militer antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memaksa kapal-kapal pengangkut minyak sawit mentah (CPO) Indonesia memutar jalur melalui Afrika Selatan untuk menghindari zona konflik di Timur Tengah.

    Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono memperingatkan situasi ini telah mendongkrak biaya logistik dan asuransi hingga rata-rata 50%.

    "Tetapi terus terang, kalau ini berkepanjangan pasti akan berpengaruh. Berpengaruh dalam arti berpengaruh terhadap permintaan ekspor," ujar Eddy dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

    Baca Juga: Salah Kalkulasi Balas Dendam Iran, Biaya Perang AS Terus Membengkak

    Menurut Eddy, pembengkakan biaya logistik berpotensi menggerus permintaan global. Jika harga CPO di tingkat konsumen menjadi terlalu mahal akibat beban pengiriman, negara-negara importir kemungkinan besar akan mulai mengurangi pembelian dari Indonesia.

    "Atau mereka negara-negara importir ada kemungkinan akan mengurangi pembelian apabila harganya sudah terlalu tinggi. Utamanya harga di logistiknya. Ini yang kita tidak berharap untuk terjadi. Kita berharap perang cepat selesai, sehingga ekspor kita masih berjalan dengan lancar," jelasnya.

    Timur Tengah menjadi kawasan yang paling terdampak langsung karena ketergantungannya pada Selat Hormuz. Berdasarkan data tahun 2025, total ekspor sawit Indonesia ke wilayah itu mencapai 1,83 juta ton dengan nilai USD1,9 miliar.

    Kini pengiriman ke negara-negara seperti Iran, Irak, Uni Emirat Arab, dan Oman berada dalam zona risiko gangguan distribusi. "Gangguan kita memang yang betul-betul terganggu kita adalah di Middle East. Kita ada di situ yang betul-betul harus melalui Selat Hormuz. Itu ekspor kita ke Middle East itu ada 1,83 juta ton. Ini yang sudah pasti terganggu," ungkap Eddy.

    Baca Juga: Perang Berkecamuk, Prabowo: Sawit hingga Jagung Bisa Jadi Sumber Energi Nasional

    Untuk menyiasati blokade, sebagian kapal pengangkut terpaksa mengubah rute dengan memutar melalui Cape Town, Afrika Selatan, guna menuju pasar Eropa. Sebagian kecil kapal lainnya tetap memberanikan diri melintasi Terusan Suez, namun harus membayar premi keamanan yang sangat tinggi.

    "Lewat Cape Town juga sama karena bahan bakarnya naik, ini menyebabkan harga logistiknya naik ditambah insurance-nya juga demikian. Tetapi ini alhamdulillah masih bisa jalan, masih jalan. Artinya bahwa ini industri sawit itu membuktikan bahwa dengan kondisi sesulit apapun masih bisa jalan. Tetapi dengan catatan sekali lagi ini butuh dukungan yang luar biasa," kata dia.

    GAPKI berharap ketegangan geopolitik segera mereda. Pengusaha sawit optimistis distribusi tetap berjalan meski dihadapkan pada tantangan biaya yang membengkak dan risiko keamanan yang belum mereda.

    (nng)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Infografis

    Terinspirasi Perang...

    Terinspirasi Perang Revolusi AS, Ribuan Demonstran Turun ke Jalanan

    Komentar
    Additional JS