Inflasi Jelang Lebaran Meningkat, Harga Telur hingga Rawit Jadi Pemicu - KutaiTimur
Pemkab Kutim mengikuti jalannya rapat pengendalian inflasi. Foto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA – Pemerintah memantau perkembangan inflasi menjelang Idulfitri 2026 yang menunjukkan tren kenaikan pada sejumlah komoditas pangan utama. Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi yang juga membahas perkembangan Indeks Perubahan Harga (IPH) di berbagai wilayah Indonesia hingga minggu kedua Maret 2026, yang dipimpin oleh Sekjen Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir.
Dalam rapat tersebut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono bahwa inflasi menjelang Idulfitri merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Bahkan, dalam lima tahun terakhir, inflasi tertinggi tercatat pada Ramadan 2025 yang mencapai 1,65 persen.
Sementara itu, pada Februari 2026 inflasi tercatat sebesar 6,68 persen. Kenaikan ini terutama dipicu oleh beberapa kelompok pengeluaran utama, yakni makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan kontribusi sebesar 2,45 persen, diikuti sektor transportasi serta perawatan pribadi, khususnya komoditas emas perhiasan.
Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi menjelang Ramadan dan Idulfitri tahun ini antara lain daging ayam ras, beras, telur ayam ras, emas perhiasan, dan rokok kretek.

Pemantauan Indeks Harga Produsen (IHP) hingga minggu kedua Maret 2026 menunjukkan adanya kenaikan di 25 provinsi, sementara 13 provinsi lainnya mengalami penurunan.
Kenaikan tertinggi tercatat di DKI Jakarta sebesar 2,85 persen, disusul Gorontalo 1,78 persen dan Nusa Tenggara Barat 1,71 persen. Komoditas yang paling berpengaruh terhadap kenaikan IHP di berbagai wilayah tersebut antara lain cabai rawit, daging sapi, dan telur ayam ras.
Selain itu, jumlah kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan IHP juga meningkat dibandingkan minggu pertama Maret. Jika sebelumnya tercatat 204 daerah, pada minggu kedua meningkat menjadi 222 kabupaten/kota.

Beberapa daerah dengan kenaikan IHP tertinggi antara lain Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan sebesar 3,91 persen, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah 3,7 persen, serta Kepulauan Seribu, DKI Jakarta sebesar 2,85 persen. Di sisi lain, beberapa wilayah mengalami penurunan IHP, terutama di Kalimantan Barat, Nias Utara (Sumatera Utara), dan Harimana di Papua Barat.
Analisis IPH komoditas pangan menunjukkan kenaikan harga pada sejumlah bahan pokok utama seperti telur ayam ras, cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, minyak goreng, daging sapi, dan beras.
Untuk telur ayam ras, kenaikan IPH terjadi di 230 kabupaten/kota pada minggu kedua Maret 2026, meningkat dari 210 kabupaten/kota pada minggu sebelumnya. Harga rata-rata nasional tercatat Rp32.585 per kilogram, naik 1,81 persen, bahkan di beberapa daerah sudah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP).
Sementara itu, cabai rawit mengalami kenaikan cukup signifikan dengan harga rata-rata mencapai Rp72.897 per kilogram, jauh di atas HAP sebesar Rp57.000. Kenaikan harga komoditas ini terjadi di 199 kabupaten/kota. Daerah dengan lonjakan harga tertinggi antara lain Kabupaten Barru, Kepulauan Anambas, Pangandaran, dan Masohi.

Harga daging ayam ras juga menunjukkan tren kenaikan. Rata-rata harga nasional mencapai Rp 41.185 per kilogram, sedikit di atas HAP yang ditetapkan sebesar Rp 40.000. Kenaikan IPH komoditas ini tercatat di 192 kabupaten/kota.
Beberapa daerah yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi antara lain Barito Timur, Toba, dan Sumba Barat Daya. Sementara itu, untuk minyak goreng, harga minyak goreng curah tercatat Rp 19.315 per liter, turun 0,42 persen, meskipun IPH masih meningkat di 112 kabupaten/kota.

Adapun harga minyak goreng kemasan merek Minyak Kita berada di kisaran Rp 16.386, turun 1,97 persen, namun masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15.700.
Melihat tren kenaikan harga tersebut, pemerintah terus memperkuat pemantauan harga serta koordinasi antar daerah guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan menjelang Idulfitri.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap terjaga, sekaligus menekan potensi lonjakan inflasi yang biasanya meningkat pada periode Ramadan hingga Lebaran.(kopi15/kopi13)
