Ini Syarat dari Iran Jika AS Ingin Kembali ke Meja Perundingan - Republika
Ini Syarat dari Iran Jika AS Ingin Kembali ke Meja Perundingan
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran menyatakan perundingan dengan Amerika Serikat (AS) hanya akan terjadi jika Teheran menyatakan kehendaknya dan Washington sepenuhnya menghapus niat untuk bertindak melawan rakyat Iran. Presiden Donald Trump sebelumnya telah mengeklaim bahwa AS dan Iran akan segera kembali ke meja perundingan untuk menghentikan perang.
"Perundingan hanya akan terjadi jika itu adalah kehendak kami dan jika niat untuk bertindak melawan rakyat Iran sepenuhnya dihilangkan," kata juru bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, Rabu (25/3), seperti dikutip kantor berita Tasnim.
"Hingga itu menjadi kehendak kami, tidak ada yang akan kembali normal. Ini hanya akan terjadi ketika niat untuk bertindak melawan rakyat Iran sepenuhnya dihapus dari pikiran kotor kalian," ujarnya.
"Kata pertama dan terakhir kami — sejak hari pertama — adalah kami tidak akan pernah bernegosiasi dengan pihak seperti kalian. Tidak sekarang dan tidak akan pernah," katanya, menambahkan.
Sementara itu, laporan The New York Times pada Selasa (24/3/2026), yang mengutip pejabat anonim, menyebutkan Washington telah menyampaikan rencana 15 poin kepada Teheran untuk menyelesaikan konflik Timur Tengah di tengah meningkatnya dampak terhadap ekonomi AS.
Baca Juga :
KPK: Gus Yaqut Mengidap Sakit Gerd Akut
Halaman 2 / 2
Ganti negosiator
Iran dilaporkan meminta kepada AS agar dapat melakukan pembicaraan dengan Wakil Presiden JD Vance dan bukan dengan utusan khusus Steve Witkoff maupun menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, menurut CNN. Menurut sumber yang dikutip CNN, Iran tidak mempercayai Witkoff dan Kushner terkait pembicaraan sebelumnya, sebelum terjadi serangan AS-Israel terhadap Iran.
Sementara JD Vance, dianggap Iran sebagai pihak yang lebih mendukung tercapainya gencatan senjata. Pada Senin (22/3/2026), Presiden Trump mengatakan bahwa AS dan Iran telah mengadakan pembicaraan positif dan produktif selama dua hari, seraya menambahkan dia telah memerintahkan Pentagon untuk menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.
Namun, pernyataan Trump tersebut disangkal Iran yang mengatakan bahwa pihaknya hanya menerima pesan yang menyatakan keinginan Washington untuk terlibat dalam dialog.
Pada 28 Februari, AS dan Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil. Iran kemudian meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel dan target militer AS di Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya mengeklaim "serangan pendahuluan" itu diperlukan untuk melawan ancaman dari program nuklir Iran, tetapi kemudian mereka mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengubah rezim yang berkuasa di Iran.