0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Mojtaba Khamenei Spesial

    Inilah Pasukan Elite NOPO Serba Hitam, Perisai untuk Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei - SindoNews

    5 min read

      

    Inilah Pasukan Elite NOPO Serba Hitam, Perisai untuk Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei

    NOPO, pasukan elite Iran perisai untuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei. Foto/NDTV

    TEHERAN - Teheran dilaporkan telah mengerahkan unit kontra-terorisme elite untuk melindungi Pemimpin Tertinggi Iran yang baru diangkat, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyusul pembunuhan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan AS-Israel di bawah Operasi Epic Fury.

    Laporan ini muncul di tengah klaim bahwa Mojtaba terluka dalam serangan 28 Februari, yang menewaskan ayah, istri, dan anggota keluarganya yang lain.

    Baca Juga: Iran Sebut Pesawat KC-135 AS Ditembak Jatuh Sistem Rudal, Tepis Klaim Amerika

    Namun, klaim tersebut sempat dibantah oleh seorang pemimpin senior Iran, yang menekankan bahwa Mojtaba—yang belum berpidato kepada bangsa Iran atau mengeluarkan pernyataan tertulis sejak dia dinyatakan sebagai pemimpin tertinggi pada hari Minggu—, "aman dan sehat".


    Pasukan Elite NOPO Perisai untuk Mojtaba Khamenei

    Mojtaba Khamenei baru muncul di tengah publik pada Kamis setelah sebuah laporan media Amerika mengeklaim bahwa Pasukan Khusus Kontra-terorisme Iran yang berpakaian serba hitam, juga dikenal sebagai NOPO, ditugaskan untuk melindungi ulama berusia 56 tahun itu.

    "Dengan kepergian (Ali) Khamenei, NOPO kemungkinan besar sekarang akan melindungi Mojtaba Khamenei," tulis Fox News, mengutip Ali Safavi, seorang pejabat Komite Urusan Luar Negeri Dewan Nasional Perlawanan Iran (NCRI) yang berbasis di Paris.

    Pasukan NOPO, yang dibentuk pada tahun 1991, adalah unit polisi antihuru-hara elite Iran di bawah Komando Unit Khusus. Unit ini dianggap sebagai unit pasukan khusus terbaik dalam kepolisian Iran dan yang paling terlatih.

    Meskipun secara nominal bertugas menyelamatkan sandera, NOPO sangat terlibat dalam penindasan kekerasan terhadap protes, termasuk protes mahasiswa tahun 1999, kerusuhan tahun 2019, dan protes Mahsa Amini, dan dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang serius.

    "NOPO adalah akronim Farsi untuk Nirouyeh Vijeh Pasdaran Velayat, yang diterjemahkan menjadi Pasukan Khusus untuk Melindungi Pemimpin Tertinggi," kata Safavi. "Velayat tidak selalu merujuk pada pemimpin tertinggi tetapi seluruh rezim," ujarnya.

    Dia mencatat bahwa seiring waktu, pasukan khusus tersebut telah berkembang menjadi unit yang sangat terspesialisasi dan berbeda dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang lebih luas, cabang militer yang didirikan pada tahun 1979 untuk membela Republik Islam dan kepemimpinannya dari ancaman internal dan eksternal.

    Menurut Safavi, NOPO hanya terdiri dari enam brigade. Empat ditempatkan di Teheran, satu di Mashhad, dan satu di Isfahan.

    "Mereka jauh lebih mematikan, kejam, dan terlatih daripada IRGC," klaimnya sebelum menjelaskan bagaimana loyalitas brigade tersebut kepada Pemimpin Tertinggi. "Pasukan ini digunakan untuk melindungi Khamenei," kata Safavi.

    "Mereka sangat lengkap peralatannya. Khamenei tidak mempercayai pasukan keamanan lain untuk perlindungannya," paparnya.

    Menurut laporan Fox News, beberapa anggota unit tersebut kemungkinan tewas dalam pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, tetapi Safavi mencatat bahwa pasukan tersebut tetap beroperasi penuh.

    “Beberapa anggota NOPO mungkin terbunuh ketika Khamenei terbunuh, tetapi faktanya mereka sekarang terlibat dalam tindakan penindasan dan pengamanan yang juga dilakukan rezim dalam beberapa hari terakhir untuk mencegah terjadinya protes,” katanya, menambahkan bahwa aktivitas pasukan elite tersebut melampaui perlindungan pribadi di masa krisis.

    “Tetapi di masa krisis, seperti yang terjadi selama pemberontakan Januari, mereka sangat terlibat dalam menembaki para demonstran,” katanya.

    Perkembangan ini terjadi di tengah laporan yang mengatakan bahwa ratusan anggota NOPO telah dikerahkan secara luas di sekitar penjara-penjara di Iran yang menahan tahanan politik.

    Mojtaba Khamenei, seorang tokoh yang tertutup dan jarang muncul di depan umum atau berbicara di acara-acara resmi, telah menyampaikan pidato perdananya pada Kamis sejak dia dinyatakan sebagai pemimpin tertinggi pada hari Minggu. Sebelumnya pada hari Rabu, Yousef Pezeshkian, putra presiden Iran, mengatakan bahwa Mojtaba aman dan sehat meskipun ada laporan tentang cedera selama perang.

    "Saya mendengar kabar bahwa Mojtaba Khamenei terluka. Saya telah bertanya kepada beberapa teman yang memiliki koneksi. Mereka memberi tahu saya bahwa, alhamdulillah, dia selamat dan sehat," kata Yousef Pezeshkian, yang juga merupakan penasihat pemerintah, dalam sebuah unggahan di saluran Telegram-nya.

    Klarifikasi tersebut muncul setelah New York Times, mengutip tiga pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei menderita luka-luka, termasuk di kakinya, tetapi dia sadar dan berlindung di lokasi yang sangat aman dengan komunikasi terbatas.

    Majelis Pakar Iran memilih Mojtaba Khamenei pada 8 Maret, mengangkatnya menjadi Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam. Menurut laporan Reuters, IRGC memaksakan pilihan pada Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, melihatnya sebagai versi yang lebih mudah dikendalikan dari ayahnya yang akan mendukung kebijakan garis keras mereka, mengabaikan kekhawatiran para pragmatis.

    IRGC, yang sudah sangat kuat, telah memperoleh pengaruh yang lebih besar sejak perang dimulai dan dengan cepat mengatasi keraguan tokoh-tokoh politik dan ulama senior yang penentangannya terhadap pilihan tersebut menunda pengumuman selama beberapa jam, imbuh lapor media tersebut, mengutip beberapa sumber.

    Tiga sumber senior Iran, seorang mantan pejabat reformis, dan seorang informan lainnya mengatakan pemilihan Mojtaba Khamenei, yang direkayasa oleh IRGC, dapat menambah sikap yang lebih agresif di luar negeri dan penindasan internal yang lebih keras.

    Dua dari mereka mengatakan mereka takut akan IRGC. Dominasi sistem tersebut akan semakin mengubah Republik Islam menjadi negara militer dengan legitimasi keagamaan yang hanya berupa lapisan tipis, melemahkan basis dukungan yang sudah menyusut dan mengurangi ruang untuk mengatasi ancaman yang kompleks.

    (mas)

    Komentar
    Additional JS