Inilah Pulau Kharg, Pusat Ekspor Minyak Utama Iran yang Ingin Direbut Trump - SindoNews
Inilah Pulau Kharg, Pusat Ekspor Minyak Utama Iran yang Ingin Direbut Trump
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Kamis, 12 Maret 2026 - 10:12 WIB
Pulau Kharg, yang dikenal sebagai pusat ekspor minyak Iran, telah diincar Donald Trump sejak hampir 40 tahun lalu atau jauh sebelum menjadi Presiden AS. Foto/ABC News/Kylie Silvester
TEHERAN - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mempertimbangkan untuk mengambil alih pusat ekspor minyak Iran, Pulau Kharg, sebagai cara untuk menegaskan kekuatan Amerika di Teluk dan menghukum Republik Islam. Ide itu bahkan muncul hampir 40 tahun yang lalu.
“Saya akan bersikap keras terhadap Iran. Mereka telah mengalahkan kita secara psikologis, membuat kita terlihat seperti sekelompok orang bodoh,” kata Trump kepada The Guardian pada tahun 1988.
Baca Juga: 3 Taktik Iran untuk Kalahkan AS dan Israel, Salah Satunya Perang Panjang Ala Vietnam
“Satu peluru saja mengenai salah satu pasukan atau kapal kita, dan saya akan menghancurkan Pulau Kharg. Saya akan masuk dan merebutnya,” imbuh dia.
Wawancara tersebut kini menjadi penting karena beberapa situs berita Amerika telah melaporkan diskusi AS dan Israel tentang perebutan pulau tersebut, tempat Iran mengekspor sekitar 90 persen minyak mentahnya.
Axios melaporkan bahwa AS dan Israel mengadakan diskusi tentang perebutan Pulau Kharg pekan lalu.
Wawancara dengan The Guardian tahun 1988 menunjukkan bahwa gagasan Trump ini bukanlah hal baru. Dalam wawancara tersebut, dia juga mengatakan: "Akan baik bagi dunia untuk menghadapi mereka (Iran)".
Komentar Trump saat itu muncul di tengah latar belakang Perang Iran-Irak, konflik brutal antara Irak pimpinan Saddam Hussein dan Republik Islam Iran, yang menewaskan sekitar 500.000 orang.
Pada akhir tahun 1980-an, Angkatan Laut AS mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz dan menyerang instalasi minyak dan tambang Iran.
Permusuhan Trump terhadap Iran dapat ditelusuri kembali ke wawancara The Guardian.
“Iran bahkan tidak bisa mengalahkan Irak, namun mereka memperlakukan Amerika Serikat seenaknya. Akan lebih baik bagi dunia untuk melawan mereka,” klai Trump saat itu.
Sejarah yang Kompleks
Seperti banyak orang Amerika dari generasinya, pandangan Trump tentang Iran dibentuk oleh penggulingan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang didukung AS pada tahun 1979.
Pemberontakan rakyat tersebut menyebabkan berdirinya Republik Islam Iran. Pada November 1979, 66 warga Amerika disandera dari kedutaan besar AS di Teheran. Empat belas orang dibebaskan lebih awal, dan 52 orang lainnya ditahan selama lebih dari 400 hari.
Namun, sejarah AS dengan Iran jauh lebih rumit.
AS dan Israel, pada kenyataannya, menjual senjata ke Iran selama perang melawan Irak, memandang pemerintahan Arab sekuler Saddam Hussein sebagai musuh yang lebih besar daripada Republik Islam Iran.
Beberapa penjualan merupakan bagian dari skandal Iran-Contra, di mana hasilnya digunakan secara ilegal untuk mendukung pemberontak anti-Marxis di Nikaragua.
Pemerintahan Trump telah lama mencatat pernyataan presiden AS dari tahun 1980-an, misalnya, yang mendukung tarif, sebagai bukti bahwa dia sangat berkomitmen pada pendiriannya.
Perang AS-Israel terhadap Iran telah menyebabkan krisis energi terburuk sejak embargo minyak Arab tahun 1970-an, yang menurut Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya dilakukan sebagai tanggapan atas dukungan AS terhadap Israel selama Perang Arab-Israel tahun 1973.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam dunia melewati Selat Hormuz, yang secara efektif tertutup bagi semua kecuali pemilik kapal yang paling berani.
Bloomberg melaporkan bahwa Iran masih memuat minyak di Pulau Kharg hingga Sabtu, satu minggu setelah dimulainya serangan AS-Israel, tetapi tidak jelas apakah operasi tersebut masih berlangsung.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

Ingin balas Iran, Berikut 4 Opsi Serangan yang Dipertimbangkan AS