0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Iran Bersumpah Beri Kejutan Maut Jika AS Lakukan Serangan Darat: Bahkan Jenazah Tak Bisa Dipulangkan - Tribunnews

    5 min read

      

    Iran Bersumpah Beri Kejutan Maut Jika AS Lakukan Serangan Darat: Bahkan Jenazah Tak Bisa Dipulangkan

    Iran Bersumpah Beri Kejutan Maut Jika AS Lakukan Serangan Darat: Bahkan Jenazah Tak Bisa Dipulangkan


    Ringkasan Berita:
    •  Iran memperingatkan akan adanya "kejutan besar" bagi Presiden AS Donald Trump jika nekat melancarkan agresi darat ke tanah Iran.
    • Respon Pentagon: AS dilaporkan mulai menyusun rencana detail pengerahan pasukan darat ke Iran, termasuk prosedur penahanan tentara musuh di wilayah konflik.
    • Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengusulkan pembentukan "Parlemen Islam Timur Tengah" untuk menjaga keamanan kawasan tanpa campur tangan asing.

    WARTAKOTALIVE.COM -- Iran melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat yang berencana melakukan agresi darat karena menilai kemampuan militer Iran telah melemah.

    Seorang pejabat militer Iran menegaskan bahwa serangan darat oleh AS akan menjadi 'garis merah' yang tidak bisa ditoleransi.

    Pernyataan itu secara langsung menyasar Presiden AS Donald Trump, dengan ancaman bahwa Teheran telah menyiapkan kejutan besar atau kejutan maut, jika Washington nekat mengirim pasukan ke wilayah Iran.

    Baca juga: Dunia Terancam! Jenderal Iran Bidik Lokasi Wisata Global, Paksa Pejabat AS-Israel Keluar Bunker

    “Jika terjadi agresi darat, kami akan memberikan respons yang bahkan tidak akan memberi kesempatan bagi mereka untuk membawa pulang jenazah tentaranya,” ujar sumber militer Iran dalam pernyataan yang dikutip dari media pemerintah Tasnim News, Sabtu (21/3/2026).

    Ancaman tersebut muncul di tengah laporan terbaru bahwa militer AS mulai menyusun skenario konkret untuk kemungkinan operasi darat.

    Menurut sejumlah pejabat Pentagon yang dikutip media internasional, pembahasan mencakup penanganan tahanan perang hingga strategi logistik jika pasukan benar-benar dikerahkan.

    Meski demikian, Donald Trump sebelumnya menyatakan belum berencana mengirim pasukan darat.

    Ia bahkan sempat memberi sinyal bahwa operasi militer terhadap Iran bisa saja “diperlambat”, meski di sisi lain menegaskan tidak menginginkan gencatan senjata.

    Di tengah eskalasi militer, Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru menyampaikan pesan berbeda.

    Dalam pidato menyambut Idulfitri dan Nowruz, ia menyerukan persatuan negara-negara Islam dan menolak keterlibatan pihak asing di kawasan.

    “Kita tidak membutuhkan kehadiran kekuatan luar. Negara-negara di kawasan bisa membangun sistem keamanan bersama,” ujar Pezeshkian.

    Baca juga: Jubir Iran: Ini Bukan Perang Rakyat Amerika, Warga AS yang Miliki Hati Nurani Bersih Pasti Tolak

    Namun di lapangan, situasi justru semakin tegang.

    Serangan terhadap infrastruktur energi, operasi militer lintas wilayah, serta saling ancam antar pihak menunjukkan konflik telah meluas menjadi krisis regional yang kompleks.

    Bagi warga sipil, bayang-bayang perang bukan sekadar wacana geopolitik.

    Ketidakpastian, ancaman serangan, hingga kekhawatiran meluasnya konflik menjadi realitas yang harus dihadapi setiap hari—baik di dalam Iran maupun di kawasan sekitarnya.

    Jika eskalasi ini terus berlanjut, dunia kini menanti apakah ancaman kejutan besar itu akan benar-benar menjadi kenyataan, atau justru membuka jalan menuju konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan.

    Baca berita WartaKotalive.com lainnya di Google News dan WhatsApp


    Komentar
    Additional JS