0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Inggris Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Iran di Atas Angin Menurut Analisis Eks Kepala Intelijen Inggris M16 - Tribunnews

    6 min read

      

    Iran di Atas Angin Menurut Analisis Eks Kepala Intelijen Inggris M16

    Mantan Kepala Dinas Intelijen Rahasia Inggris (MI6), Alex Younger, menyebut Presiden AS Donald Trump meremehkan ketangguhan Iran dalam perang.


    Ringkasan Berita:
    • Pernyataan Trump soal perubahan rezim, bikin Iran memandang konflik ini sebagai perang eksistensi atau demi kelangsungan hidup. Bagi AS, perang ini opsional
    • Perbedaan motivasi yang kontras tentu saja memberi pengaruh bagi jalannya perang. Iran anggap perang ini adalah hidup-mati, sehingga berstrategi dan bertempur habis-habisan
    • Salah satu taktik jitu Iran, picu konflik global menyerang fasilitas militer AS di negara teluk dan menutup Selat Hormuz, jalur seperlima pasokan kebutuhan minyak dunia

     

    TRIBUNNREWS.COM - Mantan Kepala Dinas Intelijen Rahasia Inggris (MI6), Alex Younger, menyampaikan analisis mengejutkan terkait konflik yang tengah berlangsung di Timur Tengah.

    Ia menyebut Iran saat ini berada di atas angin dalam menghadapi kedigdayaan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.

    Menurut Younger, Washington telah meremehkan ketangguhan Teheran.

    Meski pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas di awal konflik dan serangan udara AS menghantam berbagai fasilitas militer, rezim Iran terbukti jauh lebih ulet dari perkiraan banyak pihak.

    "Kenyataannya adalah AS meremehkan tugas ini dan saya pikir sejak dua minggu lalu, mereka kehilangan inisiatif dari tangan Iran," ujar Younger dalam wawancaranya bersama The Economist.

    Baca juga: China Ubah Sikap, Pilih Tengahi Konflik AS-Iran: Jika Perang Terus Berlanjut, Tak Akan Ada Pemenang

    Younger menyoroti bahwa pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai perubahan rezim telah mengubah pola pikir Iran

    Karena pernyataan Trump, Teheran kemudian memandang konflik ini sebagai "perang eksistensi" atau perang peradaban demi kelangsungan hidup mereka.

    Kondisi ini menciptakan perbedaan motivasi yang kontras. Bagi Iran, ini adalah perang hidup-mati yang membuat mereka berstrategi dan bertempur habis-habisan. 

    Sebaliknya, bagi Amerika Serikat, keterlibatan ini dianggap sebagai "perang opsional" atau perang pilihan, yang konon karena provokasi Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu.

    Perbedaan determinasi inilah yang dinilai memberikan daya tahan lebih besar bagi pihak Iran.

    Salah satu taktik jitu Iran yang diakui Younger adalah "eskalasi horizontal". Iran memilih untuk memicu konflik global dengan menyerang fasilitas militer AS di negara-negara teluk serta menutup Selat Hormuz, jalur vital yang memasok seperlima kebutuhan minyak dunia.

    Walaupun awalnya taktik ini dianggap nekat, Younger mengakui bahwa langkah tersebut efektif memberikan tekanan langsung kepada AS.

    Dengan mengglobalisasikan konflik melalui perang energi, Iran berhasil melambungkan harga minyak dunia dan mengguncang ekonomi global.

    "Mereka memahami signifikansi perang energi dan menyandera Selat Hormuz sebagai ancaman. Mereka memainkan kartu yang lemah dengan sangat baik," tambah Younger.

    Selain faktor strategi politik, Younger mengungkapkan bahwa Iran telah mengambil keputusan tepat sejak jauh hari dengan memecah kemampuan dan sumber daya militer mereka. 

    Pendelegasian wewenang penggunaan senjata kepada unit-unit kecil membuat militer Iran tetap berfungsi dan memiliki daya tahan tinggi meskipun digempur habis-habisan oleh kekuatan udara AS yang sangat besar.

    Situasi ini, menurut Younger, telah menciptakan skala konflik yang tak terbayangkan sebelumnya oleh Pentagon, yang kini dilaporkan tengah mempertimbangkan pengiriman pasukan darat tambahan ke zona perang.

     


    Komentar
    Additional JS