Iran Disebut Kecewa pada Indonesia, Pakar Maritim Soroti Dampak Perang Timur Tengah - Tribunnews
Iran Disebut Kecewa pada Indonesia, Pakar Maritim Soroti Dampak Perang Timur Tengah
Pakar maritim Siswanto Rusdi menilai Iran kecewa pada Indonesia dan memperingatkan dampak perang Timur Tengah bagi energi nasional.
Ringkasan Berita:
- Direktur Namarin Siswanto Rusdi menyebut Iran kecewa terhadap sikap Indonesia dalam konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
- Ia menilai Indonesia tidak lagi menunjukkan posisi netral sebagai negara Nonblok dan terlalu dekat dengan kepentingan Amerika.
- Siswanto juga memperingatkan perang di Timur Tengah berpotensi memicu krisis energi dan logistik bagi Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM - Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, mengungkap sejumlah dinamika hubungan Indonesia dan Iran di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Hal tersebut disampaikan dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV, 9 Maret 2026.
Dalam perbincangan tersebut, Siswanto mengaku baru saja bertemu dengan Duta Besar Iran untuk Indonesia serta berkomunikasi dengan Atase Pertahanan Iran.
Dari pertemuan itu, ia menangkap adanya kekecewaan dari pihak Iran terhadap sikap Indonesia dalam konflik yang sedang berlangsung.
Menurut Siswanto, Iran menilai Indonesia tidak menunjukkan sikap yang tegas terhadap sejumlah peristiwa yang terjadi dalam perang tersebut, termasuk terkait korban sipil.
“Iran itu sangat kecewa dengan Indonesia. Mereka merasa Indonesia adalah teman baik, tetapi dalam situasi seperti ini tidak terlihat sikap yang tegas,” kata Siswanto.
Ia mencontohkan lambannya penyampaian belasungkawa dari pemerintah Indonesia atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran.
Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu faktor yang memperburuk persepsi Iran terhadap Indonesia.
“Putin lebih dulu menyampaikan belasungkawa, Anwar Ibrahim juga lebih dulu. Indonesia baru empat hari kemudian, itu pun lewat surat,” ujarnya.
Siswanto menilai Iran kini melihat Indonesia tidak lagi berada pada posisi netral seperti yang selama ini dikenal melalui politik luar negeri bebas aktif.
“Indonesia dulu dikenal sebagai negara Nonblok. Tapi sekarang kesannya justru berada di barisan Amerika Serikat,” kata dia.
Baca juga: Komunikolog Sebut Mundur dari BoP Ganggu Hubungan Indonesia-AS, Terutama Personal Trump dan Prabowo
Kapal perang Iran disebut sempat ditolak masuk Indonesia

Siswanto juga mengungkapkan salah satu peristiwa yang disebut menjadi sumber kekecewaan Iran terhadap Indonesia.
Ia menyinggung kejadian pada awal 2025 ketika dua kapal perang Iran menuju Indonesia untuk mengikuti latihan maritim internasional yang digelar TNI Angkatan Laut.
Latihan tersebut meliputi International Maritime Security Symposium (IMSS) dan latihan multinasional Komodo Exercise, yang diikuti puluhan negara.
Iran, menurut Siswanto, telah menerima undangan resmi dan mengirim dua kapal perang dari Bandar Abbas menuju Indonesia.
Namun, izin tersebut kemudian dicabut ketika kapal hampir memasuki perairan Indonesia.
“Tiba-tiba ketika kapal sudah hampir masuk ke perairan kita, izinnya dicabut. Menurut informasi yang saya dapat, Presiden Prabowo ditekan oleh Amerika agar kapal Iran tidak ikut latihan,” ujarnya.
Ia menyebut Amerika Serikat mengancam akan menarik diri dari latihan militer tersebut jika kapal Iran tetap diizinkan ikut serta.
Akibatnya, kapal perang Iran akhirnya tidak melanjutkan perjalanan ke Indonesia dan memilih berlabuh di Malaysia.
Kasus kapal tanker juga disebut memperburuk hubungan
Selain itu, Siswanto juga menyinggung kasus kapal tanker Iran yang ditangkap otoritas Indonesia beberapa waktu lalu. Kapal tersebut membawa sekitar dua juta barel minyak mentah dan ditangkap di perairan Indonesia.
Menurutnya, pihak Iran mempertanyakan langkah Indonesia yang memproses kapal tersebut hingga rencana pelelangan.
“Atase pertahanan Iran bertanya kepada saya, kenapa kapal itu dilelang? Mereka bilang, bahkan ketika Iran menangkap kapal di Selat Hormuz, mereka tidak melelangnya,” kata Siswanto.
Ia menduga penangkapan kapal Iran oleh otoritas Indonesia tidak lepas dari tekanan negara lain.
“Banyak kapal melintas di perairan kita, tapi kenapa yang ditangkap selalu kapal Iran?” ujarnya.
Baca juga: Viral Adik Benjamin Netanyahu Dikabarkan Tewas Kena Rudal Iran, Namun Ada Fakta Lain
Dampak konflik terhadap energi Indonesia
Di sisi lain, Siswanto menilai konflik yang melibatkan Iran berpotensi memberikan dampak besar terhadap Indonesia, terutama di sektor energi.
Ia menyoroti posisi Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan energi dunia. Sekitar 30 persen distribusi minyak global melewati selat tersebut.
Menurut Siswanto, Iran kini menjadikan Selat Hormuz sebagai instrumen strategis dalam perang ekonomi.
“Perang tidak hanya rudal. Selat Hormuz sekarang menjadi senjata ekonomi,” katanya.
Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya akan langsung terasa pada pasokan minyak dan biaya logistik global.
Ia juga mengungkapkan adanya kapal tanker Indonesia yang dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia.
“Empat kapal tanker Indonesia di sana tidak bisa keluar. Dan menurut informasi yang saya terima, tidak ada dispensasi untuk Indonesia,” ujarnya.
Pemerintah diminta siapkan skenario krisis
Siswanto menilai pemerintah perlu lebih terbuka kepada masyarakat mengenai potensi dampak konflik terhadap ekonomi nasional, terutama terkait pasokan energi.
Ia menyebut pemerintah menyatakan cadangan energi Indonesia cukup untuk sekitar 21 hari, namun tidak dijelaskan secara rinci kondisi pasokan yang sebenarnya.
“Kalau perang berlanjut, ini rawan. Kita sangat bergantung pada minyak dari kawasan itu,” kata dia.
Selain BBM, dampak juga bisa terasa pada kenaikan biaya logistik dan harga barang karena meningkatnya ongkos pengiriman.
“Biaya angkut akan naik, asuransi kapal naik, dan itu memukul semua sektor perdagangan,” ujarnya.
Siswanto juga memperkirakan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Menurutnya, perang tersebut bisa berlangsung setidaknya enam bulan atau bahkan lebih lama.
“Perang ini tidak akan selesai cepat. Dugaan saya minimal enam bulan,” kata Siswanto.
Ia menilai Iran memiliki motivasi kuat untuk terus melanjutkan perlawanan, terutama setelah tewasnya pemimpin tertinggi negara tersebut dalam konflik yang sedang berlangsung.
“Iran merasa ini perang eksistensial. Mereka siap habis-habisan,” ujarnya.
Baca juga: 100 Jam Pertama Serangan AS ke Iran Telan Biaya 5,82 Miliar Dolar AS
Indonesia diminta kembali ke politik luar negeri bebas aktif
Di akhir pembicaraan, Siswanto menilai Indonesia perlu kembali menegaskan posisi politik luar negeri yang independen.
Menurutnya, Indonesia seharusnya kembali pada prinsip nonblok dan tidak terlihat berpihak pada salah satu kekuatan besar.
“Indonesia harus kembali ke jati dirinya, yaitu politik luar negeri bebas dan aktif. Jangan hanya teori bebas aktif, tetapi praktiknya justru berpihak,” kata Siswanto.
Ia juga menilai hubungan Indonesia dan Iran selama ini sebenarnya cukup baik dan memiliki sejarah panjang.
Namun, menurutnya, hubungan tersebut kini sedang diuji oleh dinamika geopolitik yang berkembang di kawasan Timur Tengah. (*)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/perwakilan-tetap-iran-amir-saeid-iravani.jpg)