JAKARTA — Pemerintah Iran memperingatkan adanya ancaman 'kolom kelima di dalam negeri seiring perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda hingga memasuki minggu kedua.

[[ Catatan: Kolom kelima adalah istilah politik dan militer yang berarti kelompok orang di dalam suatu negara yang secara diam-diam membantu musuh dari luar. Mereka tampak sebagai warga biasa, tetapi sebenarnya bekerja untuk melemahkan negara sendiri. ]]

Menurut laporan Al Jazeera (8/3), otoritas Iran mengeluarkan serangkaian peringatan yang menegaskan akan menggunakan kekuatan terhadap siapa pun yang melakukan tindakan yang dianggap merugikan keamanan nasional atau membantu pihak yang disebut sebagai “musuh” dalam konflik Iran-AS-Israel yang tengah berlangsung.

Kementerian Intelijen Iran dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah pada Sabtu mengatakan sejumlah orang yang disebut sebagai “tentara bayaran Amerika-Zionis” diduga memotret titik jatuhnya rudal untuk mengirimkan rekaman tersebut ke jaringan satelit yang disebut “teroris” serta halaman daring yang berbasis di luar Iran.

Pemerintah Iran menyebut orang-orang tersebut sebagai “tentara Israel” yang bertindak sebagai kolom kelima rezim Zionis dan menjadi “mata” bagi Israel di dalam negeri. Otoritas juga menegaskan bahwa mereka akan dijatuhi hukuman berat sesuai undang-undang yang telah diamendemen untuk memberikan sanksi lebih keras setelah perang 12 hari antara Iran dan AS-Israel pada Juni 2025.

Kementerian Intelijen juga kembali meminta masyarakat untuk melaporkan aktivitas mencurigakan melalui panggilan telepon maupun layanan pesan lokal. Seruan tersebut muncul ketika akses internet global di Iran masih terputus lebih dari sepekan sejak serangan awal perang yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah komandan tinggi di pusat kota Teheran.

Pemadaman internet tersebut membuat warga Iran hanya memiliki akses terbatas pada media pemerintah, yang dinilai tidak banyak melaporkan berbagai perkembangan di lapangan, termasuk perintah evakuasi paksa yang dikeluarkan militer Israel. Media pemerintah disebut lebih banyak menyoroti keberhasilan serangan Iran dalam konflik regional tersebut.

Akibat keterbatasan informasi itu, sebagian warga Iran mengikuti perkembangan konflik Iran-AS-Israel melalui sejumlah kecil saluran berbahasa Persia yang berbasis di luar negeri dan dapat diakses melalui koneksi satelit di rumah.

Otoritas Iran dilaporkan telah mengirimkan sinyal pengacau terhadap saluran-saluran tersebut sejak sesaat sebelum perang dimulai karena menganggap sebagian di antaranya sebagai media “teroris” yang didanai pihak oposisi untuk mendorong perubahan rezim di Iran.

Dalam pesan teks massal yang dikirim pada Sabtu kepada “rakyat tangguh Iran Islam”, kepolisian Iran juga memperingatkan bahwa rekaman serangan yang diambil di dalam negeri sedang dikirim kepada “para tuan” di luar negeri dan harus dihentikan. Pesan tersebut juga muncul di tengah kondisi ketika kantor polisi dan markas kepolisian di berbagai wilayah Iran telah menjadi sasaran pemboman oleh Israel dan Amerika Serikat.

Dua komandan militer Iran bahkan mengindikasikan bahwa angkatan bersenjata telah diberi lampu hijau untuk menembakkan peluru tajam kepada siapa pun yang melanggar demi menjaga keamanan negara selama perang berlangsung.

Kepala Kepolisian Iran Ahmad-Reza Radan mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa pasukannya telah diperintahkan untuk menembak mati siapa pun yang dianggap sebagai “pencuri” yang berpotensi menimbulkan ancaman dalam kondisi perang, dikutip Al Jazeera (8/3).

Situasi ini terjadi ketika banyak warga meninggalkan rumah mereka di Teheran dan kota-kota besar lainnya, sebagaimana dianjurkan pejabat, untuk mencari keselamatan di kota lain.

Peringatan paling keras juga disampaikan Salar Velayatmadar, komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang kini menjabat sebagai anggota parlemen dari wilayah Qazvin di barat Teheran.

Dalam program siaran langsung televisi pemerintah pada Kamis malam, ia mengatakan kepada para orang tua agar memastikan anak-anak mereka tidak bertindak melawan pemerintah. Ia juga memperingatkan bahwa siapa pun di wilayah Iran yang mengeluarkan pernyataan yang sejalan dengan musuh dianggap berpihak pada Israel dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sehingga perintah untuk menembak mereka telah dikeluarkan.

Velayatmadar juga mengatakan pihaknya tidak ingin anak-anak warga Iran terbunuh karena ketidaktahuan atau tindakan yang dianggap ceroboh.

Dikutip dari Al Jazeera (8/3), situasi konflik Iran-AS-Israel ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengarahkan warga Iran untuk tetap waspada di rumah dan menunggu waktu ketika mereka dapat diminta turun ke jalan untuk menggulingkan pemerintahan teokratis yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.

Trump dan Netanyahu juga menuntut agar pasukan IRGC, militer, dan kepolisian Iran meletakkan senjata atau menghadapi kematian. Namun tuntutan tersebut ditolak oleh otoritas militer dan politik Iran yang tetap melanjutkan serangan proyektil ke berbagai wilayah di kawasan.

Sebaliknya, pemerintah Iran menyerukan para pendukungnya untuk tetap berada di jalanan dan berkumpul di masjid sepanjang waktu meskipun perang berlangsung. Seruan tersebut bertujuan untuk berkabung atas kematian Ayatollah Khamenei, menunjukkan dukungan terhadap sistem pemerintahan, serta menjaga kendali situasi di lapangan.

Media pemerintah Iran juga beberapa kali menyiarkan secara langsung kerumunan pendukung pemerintah yang meneriakkan slogan menentang kebijakan pemerintah Amerika Serikat dan Israel, melantunkan seruan keagamaan, mengibarkan bendera, serta mengikuti parade sepeda motor dan kendaraan.

Pasukan paramiliter Basij dari IRGC dilaporkan terus berpatroli di jalan-jalan Teheran dan kota-kota lain di seluruh negeri sepanjang hari. Mereka juga mendirikan berbagai pos pemeriksaan bersenjata berat, terutama di sekitar pangkalan yang sebelumnya menjadi sasaran pemboman.

Konflik Iran-AS-Israel ini juga terjadi setelah gelombang protes nasional di Iran awal tahun ini yang menewaskan ribuan orang, terutama pada malam 8 dan 9 Januari. Pemerintah Iran menyalahkan kelompok “teroris” dan “perusuh” yang disebut dipersenjatai serta dilatih oleh Amerika Serikat dan Israel.

Namun Perserikatan Bangsa-Bangsa serta organisasi hak asasi manusia menyatakan negara bertanggung jawab atas penindakan mematikan terhadap para pengunjuk rasa damai.

Sementara itu, pesan dari pihak-pihak yang terlibat konflik pada Sabtu menunjukkan bahwa serangan kemungkinan akan terus berlanjut dalam waktu mendatang.

Angkatan bersenjata Iran menyatakan mereka hanya akan menghentikan serangan terhadap negara-negara tetangga di kawasan jika wilayah negara tersebut tidak digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menuntut “penyerahan tanpa syarat” ketika Amerika Serikat dan Israel berupaya menargetkan lebih banyak pemimpin Iran. (SA)