0
News
    Home Berita Featured Lebaran Mudik Spesial

    Kisah Pemudik Nekat Jalan Kaki demi Pulang Kampung: Ongkos Dicuri, Bawa Bekal Jualan yang Tak Habis - Tribunnews

    10 min read

     

    Kisah Pemudik Nekat Jalan Kaki demi Pulang Kampung: Ongkos Dicuri, Bawa Bekal Jualan yang Tak Habis

    Berikut kisah pemudik yang nekat jalan kaki ke kampung halaman. Ada yang karena tak punya ongkos hingga penuhi nazar.

    Ringkasan Berita:
    • Mudik merupakan fenomena sosial yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
    • Di balik fenomena tersebut, ada kisah haru yang datang dari pemudik.
    • Ada dari mereka yang nekat berjalan kaki hingga ratusan kilometer demi bisa pulang kampung.

    TRIBUNNEWS.COM - Mudik merupakan fenomena sosial yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya menjelang Hari Raya Idul Fitri.

    Lebih dari sekadar perjalanan pulang kampung, mudik adalah simbol kerinduan, identitas kultural, sekaligus momentum konsolidasi sosial dalam skala nasional.

    Di balik fenomena tersebut, ada kisah haru yang datang dari pemudik.

    Ada dari mereka yang nekat jalan kaki hingga ratusan kilometer demi pulang ke kampung halaman.

    Hal itu dilakukan karena keterbatasan ongkos.

    Seperti yang dialami Saeful Tony (63), seorang pemudik asal Cikarang, Bekasi tujuan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

    Ia nekat berjalan kaki dari Bekasi ke Kebumen setelah uang untuk ongkos pulang kampung raib dicopet di Terminal Cikarang.

    Rindu bertemu keluarga membuatnya tetap pulang kampung meski tidak punya uang sepeser pun.

    Perjalanannya dimulai sekira dua minggu lalu.

    Saeful berjalan kaki pada siang hari dan beristirahat saat malam hari.

    Ia melepas Lelah di masjid-masjid yang ditemuinya sepanjang perjalanan menuju kampung halamannya.

    Baca juga: Serba-serbi Mudik: Istri Tertinggal di Rest Area Tol Cipali, Diantar Polisi Naik Motor Susul Suami

    Saeful kemudian bertemu dengan anggota Propam Polres Ciamis, Aipda Agus Narto saat tengah berjalan kaki di daerah Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Rabu (18/3/2026).

    Ketika itu, Aipda Agus Narto sedang bertugas di Pos Pelayanan Operasi Ketupat di Karangkamulyan.

    "Saat saya berjaga di Pos Pelayanan Karangkamulyan, ada bapak-bapak yang jalan kaki membawa tas," kata Aipda Agus Narto saat dikonfirmasi Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis (19/3/2026).

    Ketika itu, Saeful nampak sangat kelelahan. Matanya melirik ke kanan dan kiri jalan, seolah sedang mencari bantuan.

    "Terus saya keluar (pos) dan tanya, bapak mau ke mana? Dijawab saya mau pulang ke Karanganyar, Kabupaten Kebumen," kata Agus menirukan obrolan dengan Saeful.

    Saat ditanya Agus, Saeful mengaku berjalan kaki dari Cikarang menuju Kebumen karena tidak punya uang setelah kecopetan.

    Agus pun dibuat kaget dengan pengakuan Saeful yang mengatakan sudah berjalan kaki selama dua minggu dari Cikarang hingga tiba di Ciamis.

    Selama perjalanan, untuk makan, Saeful mendapat sedekah dari orang-orang yang ditemuinya di jalan.

    "Perjalanan dari Cikarang sampai ketemu saya di Karangkamulyan itu, selama dua minggu," kata Agus.

    Merasa iba, Agus kemudian mengantarkan Saeful ke Terminal Bus Kota Banjar, sekaligus membayar ongkosnya.

    Mudik Jalan Kaki Berbekal Cilok Tak Laku

    Nasib serupa juga dialami Asep Kumala Seta (31), pemudik dari Bandung.

    Asep berjalan kaki dari Kota Bandung menuju kampung halamannya di Sindangkasih, Kabupaten Ciamis.

    Lebaran tahun ini, Asep tak membawa amplop tebal dari hasil jualan cilok.

    Asep mudik jalan kaki
    MUDIK LEBARAN - Asep Kumala Seta (31) pedagang Cilok yang berdagang di wilayah Bandung, mudik dengan berjalan kaki menuju Kampung halamannya di Ciamis, Jawa Barat, Selasa (17/3/2026).

    Dalam tasnya, tersisa 50 butir cilok dan sebotol sirup.

    Uang disakunya bahkan tidak cukup untuk membeli tiket bus yang harganya melambung saat musim mudik.

    Penghasilan yang tak menentu membuatnya sulit menyisihkan uang.

    Asep mengungkapkan, akhir-akhir ini jualannya jarang habis. Namun, ia juga masih harus menyetor sebagian pendapatan jualan cilok kepada bosnya.

    “Setoran biasanya tujuh ratus ribu, untungnya cuma tiga ratus. Tapi belakangan jarang habis."

    "Kadang cuma dapat seratus ribu, disetor tujuh puluh ribu ke bos. Uang pulang jadi kurang,” ujar Asep pelan saat ditemui Kompas.com di depan Pos Pam Cikaledong, Nagreg, Kabupaten Bandung, Selasa (17/3/2026) malam.

    Kondisi itu membuatnya terpaksa pulang kampung dengan berjalan kaki.

    Sesekali ia mencegat truk yang bersedia memberinya tumpangan.

    Penuhi Nazar

    Aksi mudik dengan berjalan kaki juga dilakoni Edi Rasidi (50), pedagang siomay asal Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

    Ia berjalan kaki dari Cilacap menuju kampung halamannya di Pemalang, jaraknya sekira 130 kilometer.

    Edi berjalan kaki sembari mendorong gerobak siomaynya ratusan kilometer.

    Perjalanan itu bukan sekadar pulang kampung, ada nazar yang ingin ia tunaikan setelah pernah mengalami kecelakaan pada kakinya.

    "Saya perjalanan dari Sampang Cilacap tujuan Pemalang," kata Edy kepada Tribunjateng.com, Selasa (17/3/2026) di sela perjalanan di Masjid Darul Najah, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga. 

    Gerobak siomay yang didorongnya bukan sekadar alat berdagang, tetapi juga bagian dari rencana hidupnya ke depan.

    "Saya menggunakan gerobak, jalan kaki. Tujuannya gerobak ini mau dibawa pulang ke kampung buat jualan juga di sana," ujarnya.

    Edi sebelumnya memiliki nazar untuk berjalan kaki setelah mengalami kecelakaan sekira dua tahun lalu.

    "Nazar itu karena saya dulu pernah kecelakaan di kaki. Dengkul saya sempat lepas karena terkilir. Waktu itu satu kaki tidak bisa jalan," tutur dia.

    Kini setelah kakinya pulih, nazar itu benar-benar ia jalankan.

    Selama perjalanan yang ia mulai pada Senin (16/3/2023), Edi hanya membawa uang saku Rp40 ribu.

    Di sepanjang perjalanan, dia sesekali mendapat bantuan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan.

    Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul Kisah Edi Mudik Dorong Gerobak Siomay dari Cilacap ke Pemalang: Penuhi Nazar

    (Tribunnews.com/Nanda Lusiana, TribunJateng.com/Permata Putra Sejati, Kompas.com/Candra Nugraha/M Elgana Mubarokah)


    Komentar
    Additional JS