Komandan Top AS Akui Jiplak Drone Iran, Pentagon Janjikan Serangan Dramatis - SindoNews
Komandan Top AS Akui Jiplak Drone Iran, Pentagon Janjikan Serangan Dramatis
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Jum'at, 06 Maret 2026 - 11:27 WIB

LUCAS, drone tempur AS yang diproduksi dengan menjiplak drone Shahed Iran. AS kerahkan LUCAS dalam perang melawan Iran. Foto/CENTCOM
WASHINGTON - Komandan Komando Pusat (CENTCOM) Amerika Serikat (AS) Laksamana Brad Cooper mengakui Washington memang memproduksi drone tempur dengan merekayasa dari drone-drone Iran yang mereka tangkap selama beberapa tahun terakhir.
“Kami sangat familiar dengan kemampuan Iran, dan seperti yang Anda bayangkan, kami merencanakannya sejak awal,” kata Cooper kepada Al Arabiya English,yang dilansir Jumat (6/3/2026). “Dan saya merasa yakin dengan rencana ini.”
Laksamana Cooper menambahkan bahwa pasukan AS terus beradaptasi seiring perkembangan medan perang.
Baca Juga: Iran Ledek AS karena Menjiplak Drone Shahed lalu Mengirimkannya ke Timur Tengah
“Seperti organisasi yang baik, kami menyesuaikan diri seperlunya untuk memenuhi lingkungan, dan kami telah melakukan penyesuaian yang tepat,” katanya.
Komentar tersebut muncul ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan Washington telah meminta bantuan Kyiv untuk melawan drone serang satu arah Iran.
Ditanya apakah AS mencari sistem pencegat tambahan dari mitra. Komandan CENTCOM mengatakan kemampuan baru telah dikerahkan, meskipun dia menolak untuk menjelaskan lebih lanjut.
Pertahanan AS terhadap drone musuh telah lama menuai kritik karena rudal mahal sering digunakan untuk menembak jatuh drone yang relatif murah yang dikerahkan oleh Iran dan proksinya.
Namun, Cooper mengatakan AS telah "berada di sisi lain" dari ketidakseimbangan biaya tersebut.
"Saya ingat dulu kita selalu mendengar bahwa kita menembak jatuh drone seharga USD50.000 dengan rudal seharga USD2 juta," katanya.
"Saat ini, kita menghabiskan banyak waktu untuk menembak jatuh drone seharga USD100.000 dengan rudal seharga USD10.000," lanjut dia.
AS juga mengerahkan unit drone kamikaze baru untuk pertama kalinya selama operasi Iran. Drone tersebut dikembangkan setelah bertahun-tahun AS menangkap dan merekayasa balik model-model drone Iran.
“Kami menangkapnya, membongkar isinya, mengirimnya kembali ke Amerika, menambahkan sedikit sentuhan 'Made in America', membawanya kembali ke sini [Timur Tengah], dan kami menembakkannya ke target yang tepat,” papar Cooper.
AS meluncurkan Operasi Epic Fury sejak Sabtu pekan lalu dengan salah satu tujuannya untuk melumpuhkan kemampuan rudal balistik dan Angkatan Laut Iran.
“Kami berupaya untuk menghancurkan basis industri rudal balistik Iran,” kata Cooper kepada wartawan selama pengarahan di markas CENTCOM di Tampa, Florida. “Saat kami beralih ke fase berikutnya dari operasi ini, kami akan secara sistematis melumpuhkan kemampuan produksi rudal Iran untuk masa depan.”
Cooper mengatakan pasukan pengebom AS telah menyerang hampir 200 target jauh di dalam Iran selama 72 jam terakhir, termasuk lokasi di sekitar Teheran.
Dia juga mengungkapkan bahwa hanya satu jam sebelum pengarahan, pesawat pengebom siluman B-2 menjatuhkan puluhan bom penetrasi seberat 2.000 pon ke peluncur rudal balistik yang terkubur dalam.
Cooper mengatakan pasukan AS juga telah menargetkan komando antariksa Iran.
Menurut Cooper, serangan Iran telah menurun secara signifikan sejak awal perang. Serangan rudal balistik telah turun 90 persen sejak hari pertama pertempuran, sementara serangan drone turun 83 persen.
Militer AS juga telah menyerang 30 kapal Angkatan Laut Iran.
“Dan hanya dalam beberapa jam terakhir, kami menyerang kapal induk drone Iran, kira-kira seukuran kapal induk Perang Dunia II. Dan saat ini, kapal itu terbakar,” kata Cooper.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth berjanji untuk meningkatkan serangan terhadap rezim Iran.
Berdiri di samping Cooper, Hegseth mengatakan tingkat daya tembak AS yang diarahkan ke Iran, termasuk di atas Teheran, “akan meningkat secara dramatis.”
Dia menunjuk pada negara-negara mitra tambahan, termasuk Inggris, yang sekarang mengizinkan pasukan AS untuk menggunakan pangkalan mereka di luar negeri untuk mendukung kampanye tersebut.
Hegseth menambahkan bahwa Iran tampaknya bertaruh bahwa Amerika Serikat tidak akan mampu mempertahankan laju operasi, yang menurutnya merupakan "kesalahan perhitungan yang sangat buruk bagi IRGC [Korps Garda Revolusi Islam] di Iran."
Menteri Pertahanan itu menegaskan bahwa AS memiliki persediaan amunisi ofensif dan defensif yang cukup dan dapat mempertahankan kampanye tersebut tanpa batas waktu.
Seiring dengan menurunnya kemampuan Iran, katanya, tekanan militer AS hanya akan semakin intensif. “Kita baru saja memulai pertempuran,” kata Hegseth.
“Jika Anda mengira telah melihat sesuatu, tunggu saja. Jumlah kekuatan tempur yang masih mengalir, yang masih datang, yang akan dapat kita proyeksikan ke Iran, berkali-kali lipat dari apa yang ada saat ini," imbuh dia.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris