Krisis Selat Hormuz dorong ekspor minyak Rusia ke India naik -
Krisis Selat Hormuz dorong ekspor minyak Rusia ke India naik

JAKARTA — Harga minyak Rusia ke India melonjak setelah perang di Iran memicu lonjakan permintaan terhadap minyak dan gas Rusia, sehingga meningkatkan ekspor energi negara tersebut yang sebelumnya terpukul oleh sanksi Barat terkait konflik di Ukraina.
Menurut laporan Reuters (8/3), konflik yang kini memasuki hari ketujuh itu membuat Selat Hormuz—jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia—hampir sepenuhnya tertutup, sehingga mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) global. Situasi tersebut mendorong sejumlah negara mencari pasokan energi alternatif, termasuk dari Rusia.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pihaknya melihat peningkatan signifikan dalam permintaan terhadap sumber daya energi Rusia sejak pecahnya perang di Iran. Ia menegaskan Rusia tetap menjadi pemasok energi yang dapat diandalkan untuk minyak maupun gas, termasuk LNG.
Lonjakan permintaan ini juga tercermin dari harga minyak utama Rusia, Urals, yang dikirim ke pelabuhan India. Para pedagang menyebut minyak tersebut untuk pertama kalinya dijual dengan harga premium dibandingkan minyak Brent yang menjadi patokan internasional.
Sebelumnya, minyak Rusia dijual dengan diskon sekitar US$10 hingga US$13 per barel sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Namun kini minyak Urals justru dijual dengan premi sekitar US$4 hingga US$5 di atas Brent untuk pengiriman ke India pada Maret hingga awal April.
Kenaikan harga ini mencerminkan lonjakan permintaan dari kilang minyak India yang tiba-tiba kehilangan akses terhadap pasokan minyak mentah dari Timur Tengah akibat gangguan jalur perdagangan di kawasan tersebut.
Sementara itu, Departemen Keuangan Amerika Serikat juga memberikan keringanan sementara selama 30 hari yang memungkinkan India membeli minyak Rusia yang saat ini masih berada di laut, setelah sebelumnya Washington menekan New Delhi agar mengurangi pembelian minyak dari Rusia.
Peskov tidak mengungkapkan berapa volume minyak yang berpotensi dikirim ke India melalui skema keringanan tersebut. Namun perkembangan ini menunjukkan perubahan signifikan dalam pasar energi global sejak konflik Iran pecah.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Moskow terpaksa menjual minyaknya dengan harga diskon akibat sanksi Barat, termasuk kebijakan pembatasan harga minyak Rusia yang bertujuan menekan pendapatan negara tersebut serta membatasi kemampuannya membiayai perang.
Gelombang konflik terbaru di Timur Tengah kini mendorong harga minyak global naik, tetapi Rusia justru memperoleh keuntungan yang lebih besar dibandingkan negara lain. Menurut laporan Reuters (8/3), dalam sepekan terakhir, harga minyak Brent naik sekitar 25%, sementara harga minyak Urals Rusia melonjak sekitar 50% menjadi US$68,6 per barel dari sebelumnya US$45,7 per barel dengan skema free on board di pelabuhan Primorsk, Laut Baltik.
Analis energi dari Financial University milik pemerintah Rusia, Igor Yushkov, menilai situasi di Selat Hormuz menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi peningkatan pendapatan Rusia dari ekspor energi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam komentarnya terkait dampak konflik terhadap pasar energi global, dikutip dari Reuters (8/3).
Pergerakan harga ini menunjukkan Rusia berpotensi menjadi pemenang finansial jangka pendek dari konflik Iran, meskipun dalam jangka panjang negara tersebut berisiko kehilangan pengaruh geopolitik di kawasan.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas pada hari pertama serangan Israel dan Amerika Serikat, merupakan sekutu Rusia ketiga yang tersingkir dalam kurun sedikit lebih dari satu tahun. Sebelumnya, Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan oleh pemberontak Islamis pada Desember 2024, sementara Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap pasukan khusus AS pada Januari, dikutip dari Reuters (8/3).
Konflik Iran juga mengguncang pasar gas global. Qatar dilaporkan menghentikan produksi LNG pada awal pekan akibat serangan Iran terhadap negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan AS dan Israel.
Di sisi lain, perusahaan gas nasional Slovakia, SPP, menyatakan telah mengubah kontrak jangka panjangnya dengan Gazprom agar sesuai dengan regulasi Eropa sehingga tetap dapat mengimpor gas Rusia. Pembicaraan tersebut juga disebut bertujuan meningkatkan volume pasokan sebelum larangan Uni Eropa terhadap gas Rusia mulai berlaku pada akhir tahun depan.
Sebelum perang Ukraina, lebih dari 40% kebutuhan gas Eropa dipasok oleh Rusia. Namun pada 2025, gabungan impor gas pipa dan LNG Rusia hanya menyumbang sekitar 13% dari total impor Uni Eropa.
Uni Eropa berencana menghentikan impor LNG Rusia pada akhir 2026 dan menghentikan pasokan gas pipa pada 30 September 2027. Namun Presiden Rusia Vladimir Putin mengisyaratkan bahwa Moskow dapat lebih dulu menghentikan ekspor tersebut sebelum tenggat waktu tersebut berlaku.
Menurut laporan Reuters (8/3), Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak juga disebut telah membahas dengan perusahaan energi domestik kemungkinan mengalihkan pasokan LNG dari Eropa ke negara-negara Asia seperti India, Thailand, China, dan Filipina.
Analis dari Macro-Advisory, Christopher Weafer, menilai strategi energi Uni Eropa yang selama ini mengandalkan penggantian pasokan Rusia dengan LNG dari Amerika Serikat, Qatar, serta energi terbarukan kini menghadapi tantangan serius di tengah dinamika geopolitik terbaru.
Sementara itu, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol memperingatkan bahwa kembali bergantung pada Rusia sebagai pemasok gas bukanlah langkah yang tepat baik secara ekonomi maupun politik, mengingat pasokan LNG global diperkirakan akan meningkat dalam beberapa tahun mendatang. (SA)