0
News
    Home BBM BBM Nonsubsidi Berita Featured Menteri ESDM Spesial

    Menteri ESDM: Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Pasar, Subsidi Stabil - asatunews

    3 min read

     

    Menteri ESDM: Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Pasar, Subsidi Stabil



    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan tanggapan mengenai dampak lonjakan harga minyak global terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) jenis nonsubsidi. Bahlil menjelaskan bahwa mekanisme penetapan harga untuk BBM nonsubsidi berbeda dengan BBM subsidi, seperti dilansir dari Detik Finance.

    Menurutnya, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM, terdapat dua formula penetapan harga BBM. Formula pertama berlaku untuk sektor industri atau nonsubsidi, yang pergerakan harganya, baik naik maupun turun, sepenuhnya mengikuti dinamika harga pasar. Oleh karena itu, perubahan harga untuk BBM nonsubsidi tidak memerlukan pengumuman resmi dari pemerintah.

    Kondisi ini berkebalikan dengan BBM nonindustri atau BBM subsidi. Apabila terjadi kenaikan harga, pemerintah wajib mengumumkannya karena berkaitan erat dengan alokasi anggaran negara. Bahlil menekankan bahwa BBM nonsubsidi akan selalu mengikuti harga pasar, terlepas dari ada atau tidaknya pengumuman.

    “Jadi mau diumumkan atau tidak diumumkan dia akan mengikuti harga pasar. Itu yang industri. Apa itu definisi yang industri adalah bensin RON 95, 98, itu kan orang-orang yang mampu. Selama mereka mau jalan banyak, selama ada uang untuk bayar monggo, tugas negara menyiapkan, yang membayar mereka dan tidak ada tanggungan negara sama sekali,” terang Bahlil dalam keterangan tertulis pada Senin, 30 Maret 2026, saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto di Jepang.

    Sebagai informasi, Pertamina, BUMN di sektor minyak dan gas, memproduksi beberapa jenis BBM nonsubsidi. Produk-produk tersebut meliputi Pertamax (RON 92), Pertamax Turbo (RON 98), Pertamax Green (RON 95), Pertamina Dex (CN 53), dan Dexlite (CN 51). Jenis BBM ini ditujukan untuk konsumen yang mampu dan tidak membebani anggaran negara.

    Sementara itu, BBM bersubsidi yang saat ini menjadi fokus pemerintah adalah Pertalite, yang harganya tetap Rp 10.000 per liter, dan Solar (Biosolar) dengan harga Rp 6.800 per liter. Pemerintah bertekad untuk menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi agar tidak terjadi kenaikan, demi menjaga daya beli masyarakat.

    Bahlil menegaskan bahwa perhatian utama pemerintah saat ini adalah mengamankan BBM subsidi. Ini dilakukan agar harganya tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan. Bahlil meminta publik menunggu keputusan lebih lanjut dari Presiden Prabowo Subianto terkait kebijakan ini.

    “Yang kita fokus itu adalah menyangkut dengan subsidi. Nah tadi saya katakan bahwa subsidi tunggu tanggal mainnya insyaallah saya yakinkan bahwa Bapak Presiden dalam membuat kebijakan selalu mempertimbangkan dan memprioritaskan tentang kondisi masyarakat. Insyaallah baik nanti tunggu tanggal mainnya ya,” jelas Bahlil, memberikan sinyal positif terkait arah kebijakan subsidi.

    Scroll To Continue with Content

    Komentar
    Additional JS