Menteri HAM Mengecam Aksi Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS - asatunews
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, menyampaikan responsnya terhadap insiden penyiraman air keras yang dialami oleh Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Ia menyampaikan kecaman keras atas aksi tersebut.
"Saya sudah kecam, tidak boleh. Tidak boleh membiarkan premanisme hidup di negara ini," kata Pigai usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.
Pigai menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang aman dan damai. Oleh karena itu, segala bentuk kekerasan, termasuk tindakan penyiraman air keras kepada siapa pun, tidak dapat dibenarkan.
Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat seharusnya diselesaikan melalui cara yang baik dan sesuai dengan prinsip demokrasi.
"Demokrasi kita tumbuh berkembang. Kita mengalami surplus demokrasi, tetapi tidak boleh ada kekerasan terjadi kepada siapa pun, termasuk aktivis dan civil society," ujar Pigai.
Pigai menilai bahwa bangsa Indonesia menjadi besar karena peran serta komunitas masyarakat sipil (civil society) yang berfungsi sebagai pengontrol atau check and balances dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Oleh karena itu, saya mewakili pemerintah, saya prihatin dengan peristiwa ini dan tidak boleh terjadi lagi," kata Pigai.
Ia juga meminta pihak kepolisian untuk segera turun tangan secara serius dalam mengusut tuntas peristiwa yang dialami oleh aktivis tersebut.
"Saya sekali lagi meminta kepolisian harus serius mengusut tuntas supaya keluarga yang menjadi korban bisa mendapat rasa keadilan bahwa hukum itu ada untuk bangsa dan negara," lanjutnya.
Kementerian HAM, menurut Pigai, akan memberikan dukungan pendampingan terhadap korban. Sementara terkait rencana menjenguk korban, ia akan memastikan terlebih dahulu lokasi Andrie Yunus.
"Harus dong, kenapa tidak boleh. Tapi saya cek dulu alamatnya, dipastikan di mana, apakah sudah pulang ke rumah atau ke tempat lain," ujar Pigai.
Seperti diberitakan sebelumnya, Andrie Yunus diserang dengan air keras oleh orang tak dikenal (OTK) di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, menjelaskan bahwa akibat serangan itu, Andrie mengalami luka serius di beberapa bagian tubuh.
"Area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata," kata Dimas dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi, Jumat, 13 Maret 2026.
Dimas menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi setelah Andrie Yunus melakukan perekaman siniar (podcast) di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dengan tema Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia.
