Militer Israel Mulai Kewalahan akibat Kekurangan Personel, Kepala Staf Akui IDF Akan Runtuh - Fin
Militer Israel Mulai Kewalahan akibat Kekurangan Personel, Kepala Staf Akui IDF Akan Runtuh
Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir berbicara dalam pernyataan video pada 21 Maret 2026. (Angkatan Pertahanan Israel)
fin.co.id - Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel (IDF) Letnan Jenderal Eyal Zamir dilaporkan menyampaikan peringatan keras dalam rapat kabinet keamanan terkait kondisi militer yang kian tertekan. Ia menilai IDF berisiko “runtuh dengan sendirinya” akibat meningkatnya tuntutan operasi dan kekurangan personel.
Dalam laporan Channel 13, Zamir menyebut telah menyampaikan sejumlah peringatan serius kepada para menteri.
“Saya menyampaikan 10 peringatan serius kepada Anda,” kata Zamir kepada para menteri.
Ia menekankan perlunya langkah cepat dari pemerintah untuk mengatasi krisis tersebut, termasuk melalui regulasi baru terkait wajib militer dan tugas cadangan.
“IDF sekarang membutuhkan undang-undang wajib militer, undang-undang tugas cadangan, dan undang-undang untuk memperpanjang masa dinas wajib,” katanya seperti dikutip dari Time Of Israel.
“Tidak lama lagi, IDF tidak akan siap untuk misi rutinnya dan sistem cadangan tidak akan mampu bertahan.”
Peringatan ini bukan yang pertama. Dalam beberapa bulan terakhir, Zamir telah berulang kali menyuarakan kekhawatiran serupa. Pada Januari lalu, ia bahkan mengirim surat kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan sejumlah pejabat tinggi, mengingatkan bahwa kekurangan personel dapat mengancam kesiapan militer dalam waktu dekat.
Sejak perang di Gaza yang dipicu serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, militer Israel disebut mengalami kekurangan sekitar 12.000 personel. Kondisi ini dipicu tekanan konflik yang berkepanjangan serta tantangan operasional lainnya.
Di sisi lain, isu wajib militer juga menjadi sorotan. Partai-partai ultra-Ortodoks mendorong adanya aturan yang membebaskan kelompok mereka dari kewajiban tersebut.
Hal ini mencuat setelah Mahkamah Agung pada Juni 2024 memutuskan tidak ada dasar hukum untuk pengecualian menyeluruh bagi mahasiswa yeshiva Haredi.
Diperkirakan sekitar 80.000 pria ultra-Ortodoks berusia 18 hingga 24 tahun memenuhi syarat untuk dinas militer, namun belum mendaftar.
Oposisi Soroti Kebijakan Pemerintah
Peringatan dari Zamir mendapat respons keras dari pemimpin oposisi Yair Lapid. Ia menilai Israel berada dalam ancaman krisis keamanan yang serius.
“Kepala staf menyampaikan serangkaian ancaman di hadapan kabinet, yang sebagian besar tidak dapat dirinci di depan kamera, tetapi intinya adalah ini: pemerintah mengirimkan tentara ke dalam perang multi-front tanpa strategi, tanpa sumber daya yang cukup, dan dengan jumlah tentara yang terlalu sedikit,” kata Lapid dalam konferensi pers.
Lapid juga menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa lagi menghindar dari tanggung jawab atas kondisi tersebut.