Mojtaba Khamenei Dilaporkan Tolak Usulan Gencatan Senjata AS - Kompas

Penulis
TEHERAN, KOMPAS.com - Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei dilaporkan telah menolak usulan untuk mengurangi ketegangan atau mencapai gencatan senjata dengan Amerika Serikat.
Menurut laporan Reuters yang mengutip seorang pejabat senior Iran, usulan-usulan itu disampaikan kepada Teheran oleh dua negara perantara.
Pejabat itu mengatakan, sikap Khamenei terhadap pembalasan terhadap AS dan Israel sangat keras dan serius dalam sesi kebijakan luar negeri pertamanya, tanpa mengklarifikasi apakah ia hadir secara langsung.
Reuters juga menyebutkan, tiga sumber pada 14 Maret mengatakan bahwa pemerintahan Trump telah menolak upaya sekutu Timur Tengah untuk memulai negosiasi diplomatik yang bertujuan mengakhiri perang.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Diduga Dibawa ke Rusia untuk Perawatan Medis, Dibantu Putin
Mojtaba disebut sedang dirawat di Rusia
Sebelumnya, Mojtaba disebut diam-diam diterbangkan ke Rusia untuk mendapat perawatan medis setelah mengalami luka akibat serangan AS-Israel.
Spekulasi itu mencuat setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru tersebut belum muncul ke hadapan publik sejak ditunjuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang meninggal pada Sabtu (28/2/2026).
Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari Pemerintah Iran maupun Rusia mengenai kabar tersebut.
Baca juga: Iran Buka Suara soal Kondisi Mojtaba Khamenei, Baru Saja Kirim Pesan
Laporan mengenai pemindahan Mojtaba Khamenei ke Rusia pertama kali muncul dari media Kuwait Al-Jarida.
Mengutip sumber pejabat Iran berpangkat tinggi, media itu menyebut Mojtaba dipindahkan secara rahasia ke Moskwa karena alasan kesehatan dan keamanan.
Hal itu dilakukan usai Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Mojtaba kini dirawat di fasilitas medis privat di dalam kompleks kepresidenan Rusia dan menjalani masa pemulihan.
Baca juga: Trump Ragukan Mojtaba Khamenei Masih Hidup, Sebut Tak Pernah Muncul ke Publik
Intelijen AS sebut Iran kini lebih keras

Sementara itu, penilaian intelijen AS menunjukkan bahwa kepemimpinan Iran telah menjadi lebih garis keras.
Meskipun telah terjadi serangan Israel dan AS selama berminggu-minggu, sikap Mojtaba kemungkinan akan tetap sama untuk saat ini, dikutip dari Washington Post.
Laporan tersebut, mengutip sumber yang mengetahui masalah ini, mengatakan bahwa serangan AS-Israel sejak 28 Februari belum menciptakan keretakan atau pembelotan" yang nyata dalam struktur kekuasaan Iran.
Sumber-sumber menuturkan, meskipun serangan-serangan tersebut telah melemahkan Iran secara militer, serangan-serangan hanya berkontribusi pada sistem yang lebih "mengeras" di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam.
Laporan tersebut menyatakan, intelijen AS memperkirakan rezim Iran akan tetap utuh, bahkan mungkin semakin berani.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang