0
News
    Home Benjamin Netanyahu Berita Dunia Internasional Featured Iran Israel Konflik Timur Tengah Mossad Netanyahu Spesial

    Mossad Gagal Gulingkan Rezim Iran, PM Israel Benjamin Netanyahu Frustrasi -

    6 min read

      

    Mossad Gagal Gulingkan Rezim Iran, PM Israel Benjamin Netanyahu Frustrasi


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Selasa, 24 Maret 2026 - 06:38 WIB

    PM Israel Benjamin Netanyahu (kanan) dilaporkan frustrasi dengan Mossad karena gagal wujudkan janjinya untuk gulingkan rezim Iran dengan cepat. Foto/Kobi Gideon/GPO

    TEL AVIV - Sebuah laporan dari The New York Times mengungkap bahwa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu frustrasi dengan badan intelijen Mossad. Alasannya, badan mata-mata itu telah menjanjikan penggulingan rezim Iran dengan cara memicu protes publik sehingga membuat Amerika Serikat (AS) dan Israel dapat memenangkan perang dengan cepat—tapi rencana tersebut gagal.

    Kepala Mossad David Barnea telah bertemu dengan Netanyahu beberapa hari sebelum AS dan Israel memulai perang mereka terhadap Iran. Dalam pertemuan itu, Barnea mengatakan kepada Netanyahu bahwa badan mata-mata Israel tersebut akan mampu menggalang oposisi Iran untuk mewujudkan perubahan rezim.

    Baca Juga: Begini Cara AS dan Israel Bunuh Khamenei di Iran: Informasi CIA-Mossad Dieksekusi Jet Tempur

    Menurut laporan The New York Times, yang mengutip wawancara dengan pejabat AS dan Israel, Barnea juga menyampaikan proposalnya kepada pejabat senior AS selama kunjungan ke Washington pada pertengahan Januari.

    Rencana tersebut kemudian diterima oleh Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump, meskipun ada keraguan di antara beberapa pejabat senior Amerika dan intelijen militer Israel. Menurut pejabat AS dan Israel, janji-janji Mossad itulah yang digunakan oleh Netanyahu untuk meyakinkan Trump bahwa runtuhnya pemerintahan Iran adalah mungkin.

    Dalam konsep rencana tersebut, perang akan dimulai dengan pembunuhan para pemimpin Iran, diikuti oleh serangkaian operasi intelijen yang bertujuan untuk mendorong perubahan rezim. Mossad percaya bahwa ini dapat menyebabkan pemberontakan massal yang akan membawa kemenangan bagi Israel dan AS.

    Saat perang dimulai, pesan publik Trump mencerminkan hal ini. Dalam pernyataan video berdurasi delapan menit, dia berkata: “Akhirnya, kepada rakyat Iran yang hebat dan bangga, saya katakan malam ini bahwa saat kebebasan Anda sudah dekat...ketika kita selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi.”

    Namun, pembicaraan tentang perubahan rezim dengan cepat menguap. Kurang dari dua minggu kemudian, para senator AS keluar dari pengarahan tentang perang untuk mengatakan bahwa menggulingkan Republik Islam bukanlah salah satu tujuannya, dan bahwa sebenarnya “tidak ada rencana” sama sekali untuk operasi militer tersebut.

    Netanyahu Frustrasi dengan Mossad

    Penilaian Badan Intelijen Pusat (CIA) sendiri tentang situasi tersebut adalah bahwa pemerintahan Iran tidak akan digulingkan. Faktanya, badan intelijen AS itu mengatakan bahwa jika para pemimpin Iran terbunuh, kepemimpinan yang "lebih radikal" akan mengambil alih kekuasaan.

    Intelijen Israel melihat pemerintah Iran melemah tetapi masih utuh.

    “Keyakinan bahwa Israel dan Amerika Serikat dapat membantu memicu pemberontakan yang meluas adalah kesalahan mendasar dalam persiapan perang yang telah menyebar ke seluruh Timur Tengah,” tulis The New York Times dalam laporannya.

    Meskipun Netanyahu tetap optimistis tentang prospek menempatkan pasukan di Iran, dia dilaporkan frustrasi karena janji Mossad untuk memicu pemberontakan di Iran belum membuahkan hasil.

    Menurut The New York Times, Netanyahu mengatakan dalam pertemuan keamanan beberapa hari setelah perang dimulai bahwa Trump dapat mengakhiri perang kapan saja jika operasi Mossad tidak membuahkan hasil.

    Janji-janji Mossad, menurut laporan tersebut, dibantah oleh banyak pejabat senior AS dan analis di badan intelijen militer Israel; Aman.

    Para pemimpin militer AS mengatakan kepada Trump bahwa warga Iran tidak akan turun ke jalan saat bom berjatuhan, sementara para pejabat intelijen menilai bahwa kemungkinan terjadinya pemberontakan massal sangat rendah.

    (mas)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Infografis

    27 Negara Ini Terdeteksi...

    27 Negara Ini Terdeteksi Radar dalam Jangkauan Rudal Iran

    Komentar
    Additional JS