Pengamat Nilai Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz Akibat Diplomasi Indonesia Terlambat- Tribunnews
Pengamat Nilai Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz Akibat Diplomasi Indonesia Terlambat
Sebagai informasi, sebelumnya pernah terjadi penangkapan kapal tanker Iran di perairan Natuna pada 2023.
Ringkasan Berita:
- Iran belum mengizinkan kapal tanker Pertamina melintas di Selat Hormuz.
- Pengamat menilai itu lebih disebabkan faktor teknis diplomasi, bukan karena konflik politik dengan Iran.
- Sejumlah negara diketahui sudah berhasil meloloskan kapal mereka dari Selat Hormuz melalui jalur diplomasi.
- Sebagai informasi, sebelumnya pernah terjadi penangkapan kapal tanker Iran di perairan Natuna pada 2023.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Belum diizinkannya kapal tanker Pertamina melintas di Selat Hormuz lebih disebabkan faktor teknis diplomasi, bukan karena konflik politik dengan Iran.
Pengamat Hubungan Internasional FISIP Unsoed Purwokerto, Agus Haryanto, mengatakan Indonesia kemungkinan terlambat mengajukan permohonan kepada otoritas Iran.
“Belum diizinkannya kapal Indonesia saya kira ini soal teknis. Saya yakin pemerintah Iran akan membuka untuk kapal Indonesia tapi karena kita terlambat meminta maka kapal belum diijinkan,” kata Agus saat dihubungi Tribunnews.com, Sabtu (28/3/2026).
Menurutnya situasi ini menjadi preseden bahwa strategi diplomasi Indonesia masih kurang cepat dalam merespons dinamika internasional.
Ia menilai pemerintah perlu belajar dari langkah negara lain yang bergerak lebih cepat melakukan pendekatan diplomatik.
“Ini merupakan preseden kelambatan strategi diplomasi kita. Kita harusnya belajar dari bagaimana diplomasi Jepang maupun Turki,” ujarnya.
Bukan karena kapal Iran ditangkap RI
Hingga 27 Maret 2026, kapal tanker Pertamina belum diizinkan lewat Selat Hormuz yang dikendalikan Iran karena perang di wilayah itu.
Sejumlah negara diketahui sudah berhasil meloloskan kapal mereka dari Selat Hormuz melalui jalur diplomasi.
Bahkan kapal tanker dari Malaysia dan Thailand dilaporkan telah diizinkan melintas oleh Iran setelah adanya komunikasi antara pemerintah kedua negara.
Sebagai informasi, sebelumnya pernah terjadi penangkapan kapal tanker Iran di perairan Natuna pada 2023.
Namun menurut Agus hal itu tidak menjadi faktor utama dalam persoalan ini.
“Saya tidak melihat persoalan itu sebagai faktor utama. Bisa saja dihubungkan tapi saya tidak melihatnya dalam konteks hari ini,” katanya.
Baca juga: Kondisi Kapal Tanker Iran yang Ditangkap RI di Natuna, Dilelang Kejagung Rp 1,1 Triliun

Menteri ESDM: Tidak Mudah
Diketahui, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan proses mengevakuasi kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) yang tertahan di Selat Hormuz tidak mudah dilakukan.
Ia menjelaskan upaya mengeluarkan kapal tersebut menghadapi kendala karena situasi keamanan di kawasan Timur Tengah masih bergejolak.
Meski begitu, pemerintah terus menjalin komunikasi secara intensif dengan berbagai pihak agar kapal tanker Pertamina dapat segera keluar dari jalur strategis pengiriman minyak dunia tersebut dengan aman.
“Kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz, tapi komunikasi terus kita bangun,” ujar Bahlil usai rapat di Kemenko Perekonomian, Jumat (27/3/2026).
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Aksi-debut-Dean-James-bersaam-Timnas-Indonesia-saat-melawan-Australia.jpg)