0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Pengamat: Perang AS dengan Iran Selesai Bukan karena Adu Senjata, tapi Tekanan Ekonomi dan Politik - Kompas TV

    4 min read

     

    Pengamat: Perang AS dengan Iran Selesai Bukan karena Adu Senjata, tapi Tekanan Ekonomi dan Politik

    Anak-anak memegang papan protes menentang perang melawan Iran selama demonstrasi antiperang di Dealey Plaza di pusat kota Dallas, Minggu, 1 Maret 2026. (Sumber: AP Photo/LM Otero)

    JAKARTA, KOMPAS.TV - Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta mengatakan, perang yang terjadi antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran akan selesai bukan karena adu senjata tetapi tekanan ekonomi dan politik.

    Hal tersebut disampaikan Stanislaus Riyanta dalam Breaking News ‘Tunda Serang Iran 5 Hari, Trump Klaim Lagi Negosiasi’ di Kompas TV, Selasa (24/3/2026).

    “Sejak awal kan Trump menyatakan perang akan berlangsung sekitar 4 Minggu. Jadi ini kan bukan hanya sekadar masalah waktu, tetapi masih resource juga, ketersediaan senjata, kemudian kemampuan personel dan lain-lain,” ucap Stanislaus.

    “Saya sejak awal meyakini perang itu akan selesai bukan karena adu senjata, tapi perang akan selesai karena tekanan yang lain. Ada dua tekanan kemungkinan, tekanan ekonomi dan tekanan politik,” katanya.

    Baca Juga: Hari Ini, Naik MRT Hanya Rp243 Per Pelanggan melalui Aplikasi MyMRTJ

    Stanislaus menuturkan, Donald Trump di dalam negeri tidak mendapatkan banyak dukungan dari warga negaranya maupun Kongres dan pemerintah.

    “Kemudian dari aspek ekonomi, sebenarnya banyak juga pengusaha-pengusaha Amerika yang investasi di Timur Tengah dan tentu sangat tergantung situasi ini dan saya yakin mereka akan melakukan tekanan-tekanan kepada Trump untuk mengakhiri,” kata Stanislaus.

    “Kita melihat dalam 24 jam terakhir ya, labil kita lihat, setelah mengancam akan melakukan serangan, tiba-tiba sekarang mengatakan terjadi perundingan, ini adalah krisis, ini adalah suatu bukti bahwa terjadi krisis karena ada perbedaan pernyataan yang sangat signifikan. Ini berarti terjadi sesuatu di dalam Kabinetnya Trump,” ungkapnya.

    Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui akun truthsocial @realdonaldtrump mengatakan, jika Iran tidak membuka sepenuhnya tanpa ancaman Selat Hormuz dalam waktu 48 jam sejak saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka mulai dari yang terbesar terlebih dahulu.

    Namun, Iran tidak kalah gertak. Iran justru mengancam jika fasilitas energinya diserang, Teheran akan menutup Selat Hormuz secara total.

    Baca Juga: KPK Fokus Lengkapi Berkas Penyidikan Yaqut Cholil Qoumas: Agar Segera ke Tahap Penuntutan

    “Jika ancaman Amerika terkait pembangkit listrik Iran dilaksanakan, tindakan balasan akan segera diambil,” ucap Juru Bicara Markas Besar Khatam Al Anbiya Ebrahim Zolfaghari.

    “Pertama, Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya dan tidak akan dibuka kembali sampai pembangkit listrik kami yang hancur dibangun kembali,” katanya.

    Terbaru, Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menunda serangan ke Iran selama 5 hari karena tengah melakukan negosiasi atau perundingan.


    Komentar
    Additional JS