0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Pentagon Pulau Kharg Spesial

    Pentagon Pertimbangkan Pengerahan Pasukan Lintas Udara ke Iran, Targetkan Pulau Kharg - Tribunnews

    7 min read

      

    Pentagon Pertimbangkan Pengerahan Pasukan Lintas Udara ke Iran, Targetkan Pulau Kharg

    Unit ini berjumlah sekitar 3.000 personel dan memiliki kemampuan untuk diterjunkan ke berbagai wilayah dunia dalam waktu kurang dari 18 jam.

    Pentagon Pertimbangkan Pengerahan Pasukan Lintas Udara ke Iran, Targetkan Pulau Kharg
    Ringkasan Berita:
    • Pentagon dilaporkan tengah mempertimbangkan pengerahan pasukan lintas udara untuk mendukung potensi operasi militer di Iran.
    • Pasukan yang disiapkan berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS, yang merupakan bagian dari Pasukan Respons Cepat.
    • Unit ini berjumlah sekitar 3.000 personel dan memiliki kemampuan untuk diterjunkan ke berbagai wilayah dunia dalam waktu kurang dari 18 jam.

     

    SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON — Pentagon dilaporkan tengah mempertimbangkan pengerahan pasukan lintas udara untuk mendukung potensi operasi militer di Iran.

    Informasi ini disampaikan oleh sejumlah pejabat yang enggan disebutkan namanya, sebagaimana dikutip dari The New York Times.

    Pasukan yang disiapkan berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS, yang merupakan bagian dari Pasukan Respons Cepat.

    Unit ini berjumlah sekitar 3.000 personel dan memiliki kemampuan untuk diterjunkan ke berbagai wilayah dunia dalam waktu kurang dari 18 jam.

    Salah satu skenario yang dipertimbangkan adalah operasi untuk merebut Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama ekspor minyak Iran.

    Skenario Operasi Militer

    Dalam opsi lain, apabila Presiden Donald Trump memberikan persetujuan, operasi awal dapat dilakukan oleh sekitar 2.500 personel dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 yang saat ini sedang bergerak menuju kawasan tersebut.

    Serangan sebelumnya dilaporkan telah merusak lapangan terbang di Pulau Kharg.

    Oleh karena itu, Marinir kemungkinan akan dikerahkan lebih dahulu untuk memperbaiki infrastruktur penting, termasuk landasan pacu.

    Setelah perbaikan selesai, Angkatan Udara AS dapat mulai mengirimkan logistik, perlengkapan, dan tambahan pasukan menggunakan pesawat angkut seperti C-130.

    Dalam tahap lanjutan, pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 dapat diterjunkan untuk memperkuat posisi Marinir di lapangan.

    Keunggulan pasukan lintas udara terletak pada kecepatan mobilisasi yang tinggi, memungkinkan mereka tiba dalam waktu singkat.

    Namun, mereka memiliki keterbatasan dalam hal persenjataan berat, seperti kendaraan lapis baja, yang penting untuk menghadapi kemungkinan serangan balasan dari pihak Iran.

    Sebaliknya, Marinir dinilai memiliki kemampuan bertahan yang lebih baik, meskipun daya tahan operasional mereka lebih terbatas dibandingkan pasukan lintas udara.

    Baca juga: VIDEO Detik-detik Anggota Parlemen Israel Dihujani Rudal Iran saat Rapat

    Kesiapan Komando

    Untuk mendukung operasi ini, unsur markas besar Divisi Lintas Udara ke-82 akan berperan sebagai pusat komando taktis dalam perencanaan dan koordinasi di medan tempur yang kompleks.

    Pada awal Maret, Angkatan Darat AS dilaporkan membatalkan partisipasi sekitar 300 personel markas dalam latihan di Fort Polk, Louisiana.

    Keputusan ini diambil agar unit komando tetap siaga di Fort Bragg, North Carolina, guna mengantisipasi kemungkinan pengerahan mendadak ke Timur Tengah.

    Langkah tersebut mencerminkan kesiapan tinggi militer AS dalam merespons situasi yang berkembang dengan cepat.

    Nilai Strategis Pulau Kharg

    Pulau Kharg memiliki arti strategis yang sangat penting bagi Teheran, karena menjadi jalur utama bagi sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran.

    Penguasaan wilayah ini berpotensi memberikan dampak besar terhadap ekonomi dan stabilitas energi global.

    Divisi Lintas Udara ke-82 sendiri sebelumnya telah beberapa kali dikerahkan dalam situasi darurat, termasuk ke Timur Tengah pada 2020, Afghanistan pada 2021 untuk misi evakuasi, serta Eropa Timur pada 2022 terkait konflik di Ukraina.


    Komentar
    Additional JS