Perang Amerika-Israel Lawan Iran Adalah Langkah Taktis untuk Mencekik China - Tribunnews
Perang Amerika-Israel Lawan Iran Adalah Langkah Taktis untuk Mencekik China
Iran bukan sekadar musuh regional AS. Iran adalah bagian dari peta persaingan AS-Tiongkok yang lebih besar.
Perang AS-Israel Lawan Iran Adalah Langkah Taktis untuk Mencekik China
Poin-Poin Penting:
- China mengutuk pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan dan menyerukan de-eskalasi.
- Jean-Luc Mélenchon menuduh Washington menyerang Iran untuk mencekik jalur energi China.
- Eskalasi AS di Iran terjadi dalam konteks persaingan AS-China pada tataran global.
- Koridor energi, khususnya Selat Hormuz, sangat penting bagi strategi Beijing.
- Invasi Irak gagal mengekang ekspansi ekonomi regional China.
- Ketergantungan militer AS kontras dengan strategi infrastruktur yang diutamakan oleh China.
- Ketidakstabilan regional berisiko memperkuat, bukan membendung, Tiongkok.
- Keterlibatan AS dengan agenda dominasi Israel dapat merusak stabilitas jangka panjang.
TRIBUNNEWS.COM - China telah "mengutuk keras" pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara Amerika Serikat (AS)-Israel, dengan menyebutnya sebagai "pelanggaran berat terhadap kedaulatan dan keamanan Iran."
Dalam pernyataan resmi, Beijing mendesak "penghentian segera operasi militer" dan memperingatkan terhadap eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah.
Baca juga: Kejutan Rudal Kheibar, Iran Serang Kantor Netanyahu dan Markas Komandan AU Israel
Bahasa yang digunakan China sangat disengaja: kedaulatan, stabilitas, de-eskalasi.
China membingkai pembunuhan Khamenei itu bukan hanya sebagai insiden regional, tetapi sebagai tindakan destabilisasi dengan konsekuensi global.
Pernyataan ini muncul di saat yang sensitif secara diplomatik.
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping akhir bulan ini di Beijing — sebuah pertemuan yang kini dibayangi oleh perang regional yang meluas dengan cepat.
Respons China mencerminkan lebih dari sekadar solidaritas dengan Iran.
Hal itu menandakan kekhawatiran bahwa intervensi militer terbaru Washington dapat meng destabilisasi jalur energi dan aliansi politik yang menjadi inti perencanaan strategis jangka panjang Beijing.
Peringatan dari Prancis: Trump Menyerang Iran untuk Mencekik China
Kerangka persaingan geopolitik tersebut semakin dipertegas di Eropa.
Jean-Luc Mélenchon, pemimpin partai sayap kiri Prancis La France Insoumise, menuduh Washington memicu perang untuk mempertahankan dominasi globalnya — dan khususnya untuk menghalangi akses China terhadap energi.
Berbicara di sebuah rapat umum di Perpignan menjelang pemilihan kota, Mélenchon berpendapat kalau perang terhadap Iran adalah bagian dari strategi AS yang lebih luas yang bertujuan untuk "memutus jalur pasokan minyak ke China."
Menurut Mélenchon, Amerika Serikat telah kehilangan kepemimpinan globalnya yang tak tertandingi dan sekarang secara sistematis mempersiapkan konfrontasi dengan Beijing dengan mempersenjatai koridor energi dan titik-titik strategis yang rawan.
Dia mengaitkan perang saat ini dengan pola yang lebih luas dari apa yang dia gambarkan sebagai keserakahan imperialis, dengan indikasi antara lain:
- Ancaman untuk merebut kembali kendali Terusan Panama
- Tekanan pada Kanada terkait keamanan Arktik
- Usulan untuk mengakuisisi Greenland dan meningkatnya ketegangan atas jalur perdagangan maritim.
Dalam konteks ini, Iran bukan sekadar musuh regional. Iran adalah bagian dari peta persaingan AS-Tiongkok yang lebih besar.
China Jadi Pusat Kebijakan AS
Baik diakui secara terbuka maupun tidak, sebagian besar kebijakan Washington di Timur Tengah dapat dipahami melalui kacamata persaingan dengan China.
Ini bukan hal baru.
Invasi Irak tahun 2003 secara luas dibenarkan AS melalui klaim adanya senjata pemusnah massal, sebuah hal yang belakangan cuma kedok.
Analis strategis pada saat itu secara terbuka membahas dominasi energi AS dan penolakannya bagi akses aman untuk kekuatan-kekuatan yang sedang berkembang ke minyak Teluk.
Asumsinya sederhana: kendalikan minyak, bentuk kekuatan global.
Asumsi AS itu terbukti keliru.
China tidak mundur dari kawasan itu. Justru mereka memperluas pengaruhnya.
Beijing memperdalam kemitraan energi, berinvestasi dalam infrastruktur di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalan, dan memperkuat hubungan diplomatik dengan negara-negara Teluk — termasuk sekutu AS.
Alih-alih mengisolasi China, keterlibatan militer AS justru menciptakan ruang bagi strategi Beijing yang lebih tenang dan berfokus pada investasi.
Saat ini, pola tersebut tampaknya terulang kembali.
Perang Melawan Stabilitas
Amerika Serikat beroperasi melalui pengerahan pasukan ke depan, aliansi militer, rezim sanksi, dan tekanan paksa.
Kesiapan perangnya konstan. Kesiapan untuk stabilitas kurang terlihat.
Model Tiongkok berbeda.
Beijing jarang mengerahkan pasukan ke luar negeri. Strateginya tidak berlandaskan pada perubahan rezim atau operasi serangan udara.
Sebaliknya, mereka membangun pelabuhan, mendanai jalur kereta api, menandatangani kontrak energi jangka panjang, dan menghindari campur tangan politik secara terang-terangan.
Kekuatannya terakumulasi melalui infrastruktur dan saling ketergantungan ekonomi, bukan melalui intervensi yang mengejutkan dan mengintimidasi.
Perbedaan ini penting.
Ketika Washington meningkatkan aktivitas militernya di Timur Tengah, hal itu mengganggu pasar energi, menggoyahkan pemerintahan, dan menciptakan ketidakpastian.
Sebaliknya, China memposisikan diri sebagai aktor yang menyerukan ketenangan, kedaulatan, dan non-intervensi.
Semakin luas ketidakstabilan menyebar, semakin China tampak sebagai alternatif yang stabil.
Berperang untuk Israel?
Lapisan di aspek lain memperumit posisi Washington.
Para kritikus berpendapat kalau Amerika Serikat tidak hanya menghadapi Iran sebagai saingan geopolitik, tetapi juga memajukan tujuan regional Israel untuk mendominasi di kawasan.
Doktrin strategis Israel memprioritaskan keunggulan militer yang luar biasa dan netralisasi ancaman yang dianggap ada.
Penekanannya adalah pencegahan melalui kekuatan, bukan integrasi ekonomi regional atau stabilitas politik.
Jika Washington sepenuhnya menyelaraskan diri dengan doktrin ini, mereka berisiko terseret ke dalam konfrontasi abadi alih-alih stabilisasi jangka panjang.
Dan ketidakstabilan yang berkepanjangan tidak melemahkan China — melainkan melemahkan kredibilitas Amerika.
Persamaan Energi
Iran terletak di salah satu koridor energi terpenting di dunia: Selat Hormuz. Kira-kira seperlima dari pasokan minyak global melewati jalur air sempit ini.
China adalah importir energi Teluk terbesar.
Jika tujuan AS adalah untuk menekan Beijing dengan mendestabilisasi pengaruh Iran, perhitungan tersebut mengasumsikan Washington dapat mengendalikan eskalasi dan mempertahankan dominasi atas aliran energi.
Sejarah menunjukkan hal yang berbeda.
Amerika Serikat kesulitan mengendalikan hasil di Irak, Afghanistan, Suriah, dan Libya. Keunggulan militer tidak diterjemahkan menjadi penguasaan politik.
Setiap intervensi telah menghasilkan konsekuensi yang tidak diinginkan.
Masing-masing telah mengikis otoritas AS sekaligus mendorong aktor-aktor regional untuk mendiversifikasi kemitraan — seringkali ke arah China.
Paradoks Kekuatan Amerika
Ada paradoks yang lebih dalam yang sedang terjadi.
Amerika Serikat tetap tak tertandingi dalam kekuatan militer konvensional. Namun, ketergantungannya yang berulang kali pada kekuatan seringkali mempercepat pergeseran yang justru ingin dicegahnya.
China tidak perlu memenangkan perang di Timur Tengah. Mereka hanya perlu menghindari hilangnya stabilitas.
Sementara Washington berinvestasi dalam kapal induk dan kampanye udara, Beijing menandatangani kontrak energi dan membangun pelabuhan di Teluk.
Amerika Serikat selalu siap berperang. China selalu mempersiapkan diri untuk tatanan pasca-perang.
Akankah Strategi Ini Berhasil?
Tuduhan Mélenchon—bahwa Washington menyerang Iran untuk mencekik jalur vital energi China—mungkin melebih-lebihkan koordinasi, tetapi hal itu menangkap kebenaran yang mendasar: setiap langkah besar AS di Timur Tengah sekarang berlangsung di tengah persaingan AS-China.
Namun sejarah menawarkan pelajaran yang perlu diwaspadai.
Amerika Serikat telah berulang kali berupaya membentuk kembali Timur Tengah melalui kekuatan militer.
Setiap kali, mereka meremehkan dinamika lokal, melebih-lebihkan kemampuannya untuk mendikte hasil, dan tanpa sengaja memperkuat kekuatan alternatif.
Jika tujuannya adalah untuk melemahkan posisi strategis China, eskalasi justru dapat mempercepat kebangkitan Beijing.
Pengaruh China tumbuh bukan karena menaklukkan wilayah, tetapi karena menawarkan perdagangan, infrastruktur, dan prinsip non-intervensi kepada negara-negara yang lelah berperang.
Dan semakin lama ketidakstabilan mewarnai keterlibatan Amerika, semakin menarik alternatif tersebut.
Kontes yang Lebih Luas
Perang terhadap Iran bukan hanya konfrontasi regional.
Ini adalah bagian dari persaingan yang lebih luas tentang bagaimana kekuasaan dijalankan di abad ke-21: melalui paksaan atau konektivitas, melalui dominasi atau pembangunan.
Washington yakin dapat membentuk Timur Tengah melalui kekuatan yang menentukan.
Beijing yakin dapat membentuknya melalui integrasi pasien.
Jika sejarah menjadi acuan, upaya untuk mengendalikan jalannya sejarah di kawasan ini melalui perang selalu gagal.
Dan dalam upaya sekali lagi, Amerika Serikat mungkin akan menemukan bahwa pesaing strategis terbesarnya tidak diberdayakan oleh kemenangan, melainkan oleh keserakahan Amerika sendiri.
(oln/editorialpc/*)