Perintah Macron Agar Kapal Induk Ikut Merapat ke Timur Tengah - detik
Situasi di Timur Tengah memanas saat ini. Presiden Prancis Emmanuel Macron memerintahkan kapal induk Charless de Gaulle untuk merapat ke Timur Tengah. Macron memerintahkan kapal induk itu untuk berlayar ke Mediterania.
"Menghadapi situasi yang tidak stabil ini dan ketidakpastian di hari-hari mendatang, saya telah memerintahkan kapal induk Charles de Gaulle, aset udaranya, dan kapal fregat pengawalnya untuk berlayar ke Mediterania," kata Macron dalam pidatonya, dilansir kantor berita AFP dan France 24, Rabu (4/3).
Dalam pidato sebelumnya, Macron menambahkan bahwa jet-jet tempur Rafale, sistem pertahanan udara, dan sistem radar udara telah dikerahkan selama beberapa jam terakhir di Timur Tengah.
"Dan kami akan melanjutkan upaya ini sebisa mungkin," kata Macron.
Prancis Dukung Mitra Strategisnya
Macron juga sempat bicara terkait serangan pada Senin (2/3) lalu terhadap pangkalan angkatan udara Inggris di Siprus. Dia menambahkan bahwa Siprus adalah anggota Uni Eropa, yang baru-baru ini menandatangani kemitraan strategis dengan Prancis.
"Ini membutuhkan dukungan kita. Itulah sebabnya saya telah memutuskan untuk mengirimkan aset pertahanan udara tambahan ke sana juga, bersama dengan fregat Prancis, Languedoc, yang akan tiba di lepas pantai Siprus nanti malam," kata Macron pada hari Selasa (3/3) waktu setempat.
Dalam pertemuan dewan pertahanan Prancis pada hari Minggu lalu, Macron mengatakan Prancis akan meningkatkan postur pertahanannya di Timur Tengah untuk melindungi warga negara dan pangkalan-pangkalan di sana. Juga untuk mendukung negara-negara di kawasan yang menjadi sasaran Iran sebagai balasan atas serangan Israel-Amerika Serikat.
Ingin Tambah Senjata Nuklir
Macron juga sebelumnya menyebut Prancis ingin menambah jumlah hulu ledak nuklir yang dimilikinya. Prancis adalah satu satunya negara di Uni Eropa yang memiliki senjata nuklir.
Macron sebelumnya sudah menyatakan bahwa Prancis bisa berperan sebagai pelindung nuklir bagi negara-negara Uni Eropa, terutama karena hubungan keamanan dengan Amerika Serikat dinilai semakin tidak pasti.
Saat ini, Prancis memiliki sekitar 290 hulu ledak nuklir. Jumlah itu menjadikannya negara dengan kekuatan nuklir terbesar keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, dan Cina.
Namun, Macron tidak menjelaskan berapa banyak tambahan hulu ledak yang akan dibuat. Ia juga menyebutkan bahwa doktrin nuklir Prancis akan diperluas dengan kerja sama yang lebih erat bersama negara negara Eropa seperti Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, dan Denmark.
Prancis memiliki empat kapal selam bersenjata nuklir yang bisa beroperasi secara tersembunyi di berbagai wilayah laut dunia dengan jangkauan sekitar 10.000 kilometer. Selain itu, Prancis juga memiliki jet tempur Rafale yang dapat meluncurkan rudal jelajah berhulu ledak nuklir dengan jarak sekitar 500 kilometer.
Diketahui, Prancis terakhir kali menambah jumlah senjata nuklirnya pada 1992.
Hubungan dengan Amerika Serikat sempat memanas awal tahun ini ketika Presiden AS Donald Trump terlihat ingin mengambil alih Greenland, wilayah milik Denmark yang juga anggota Uni Eropa dan NATO.
Walau kemudian sikap itu berubah, banyak negara Eropa mulai meragukan arah kebijakan Washington ke depan, bahkan setelah masa jabatan Trump berakhir.
Kanselir Jerman Friedrich Merz juga mengatakan bahwa pesawat Angkatan Udara Jerman bisa digunakan untuk mengangkut bom nuklir milik Prancis.