Prediksi Prabowo Kembali Viral, Ketegangan AS–Iran Bisa Picu Perang Dunia III - Garuda TV
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto sempat menyuarakan kekhawatirannya terhadap situasi geopolitik global yang semakin memanas. Ia memperingatkan bahwa konflik yang sedang membara di Timur Tengah berpotensi memicu pecahnya Perang Dunia Ketiga.
Peringatan keras itu disampaikan Presiden di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam pernyataannya pada beberapa bulan lalu, Prabowo menyoroti bagaimana dinamika di kawasan tersebut dapat menarik kekuatan besar lainnya, seperti Rusia, untuk terlibat langsung.
Ia menilai situasi global kini berada pada titik nadir atau titik terendah, yang penuh dengan risiko dan ketidakpastian. “Dan saya lihat dan saya yakini dalam lima, enam, delapan bulan ke depan kita akan membuat langkah-langkah fundamental terobosan yang akan memperkokoh ekonomi Indonesia,” ujar Presiden Prabowo dalam pernyataannya dikutip dari berbagai sumber, Rabu (2/10/2023).
Namun di balik janji penguatan ekonomi itu, Presiden tak luput menggambarkan potensi ancaman global yang sangat nyata. Ia memaparkan secara rinci apa yang disebutnya sebagai “api dalam sekam” di Timur Tengah.
Menurutnya, ancaman serangan militer AS terhadap Iran dapat menjadi pemicu utama yang memicu reaksi berantai. “Ini tidak main-main, benar-benar. Saya pelajari tiap malam, saya lihat, ini masa yang sangat berbahaya. Amerika siap menyerang Iran. Rusia mengatakan jangan menyerang Iran, kalau menyerang Iran berarti berhadapan dengan Rusia,” tegasnya dengan nada serius.
Presiden Prabowo menjelaskan, jika dua kekuatan besar seperti AS dan Rusia hingga terlibat bentrok langsung, maka dunia akan memasuki babak baru yang mengerikan. Dalam skenario terburuk, perang tersebut bahkan dapat melibatkan penggunaan senjata pemusnah massal.
“Apa artinya? Masalah Iran bisa memicu Perang Dunia Ketiga. Dan kita sudah non-blok, kita sudah benar. Tetapi kalau terjadi perang nuklir, meskipun kita non-blok, kita tetap akan terdampak,” tambahnya.
Ia melukiskan konsekuensi mengerikan dari perang nuklir, di mana tidak ada satu negara pun yang benar-benar aman. Prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi landasan politik luar negeri Indonesia, menurutnya, tidak akan mampu menjadi tameng jika kehancuran global benar-benar terjadi.
“Mungkin negara-negara yang punya nuklir matinya lebih cepat. Kita mungkin juga mati, tetapi lebih lama. Jadi ini masa yang berbahaya. Kita hidup di masa yang penuh risiko. Kita harus hati-hati,” tutur Presiden.
Di tengah ancaman eksistensial tersebut, Presiden Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat persatuan. Seruan ini bukan sekadar imbauan politik, melainkan sebuah strategi bertahan di tengah pusaran badai geopolitik dunia.
“Untuk itulah saya selalu mengajak, mari kita rukun, mari kita mengatasi persoalan bersama,” pungkasnya.
Pernyataan Presiden ini menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan diri menghadapi potensi skenario terburuk di panggung global.
Langkah-langkah fundamental ke depan diyakini menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kedaulatan rakyat Indonesia, meskipun bayang-bayang konflik dunia semakin terlihat nyata.