0
News
    Home Amerika Serikat Berita Donald Trump Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Presiden AS Sebut Perang Iran Segera Berakhir, Pakar: Trump Salah Prediksi - Tribunnews

    6 min read

      

    Presiden AS Sebut Perang Iran Segera Berakhir, Pakar: Trump Salah Prediksi

    Pakar HI mengomentari pernyataan optimistis Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan perang dengan Iran akan segera berakhir.

    Ringkasan Berita:
    • Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump optimistis perang dengan Iran akan segera berakhir.
    • Pakar HI dari Unpar Yulius Purwadi Hermawan justru menilai bahwa perang belum bisa diprediksi kapan bakal berakhir karena sampai saat ini Iran belum berhasil dikalahkan.
    • Menurutnya, apa yang disampaikan oleh Trump merupakan bagian dari kampanye untuk memperoleh dukungan dari masyarakat AS, termasuk dari partai politik dan kongres.

    TRIBUNNEWS.COM - Pakar Hubungan Internasional (HI) dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Yulius Purwadi Hermawan mengomentari pernyataan optimistis Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyatakan perang dengan Iran akan segera berakhir.

    Yulius menilai bahwa perang belum bisa diprediksi kapan bakal berakhir karena sampai saat ini Iran belum berhasil dikalahkan.

    "Kita sudah membuktikan 1 minggu ini (Iran) belum terkalahkan dan kita belum bisa memprediksi kapan akan berakhir perang ini. Jadi kita lihat fakta di lapangan menunjukkan bahwa Trump salah prediksi," ucapnya dalam tayangan di Kompas TV, Selasa (10/3/2026).

    Menurutnya, apa yang disampaikan oleh Trump merupakan bagian dari kampanye untuk memperoleh dukungan dari masyarakat AS, termasuk dari partai politik dan kongres.

    "Kalau sekarang dia menyampaikan di Amerika Serikat itu kan bagian dari kampanye untuk mendapatkan kembali dukungan dari masyarakat Amerika Serikat, termasuk dari partai politik, termasuk dari kongres, bahkan termasuk juga dari Partai Republikan," tuturnya.

    Yulius lantas menyinggung pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang menyebut bahwa pihaknya tak akan menyerah dari AS-Israel.

    "Trump mengatakan bahwa tidak ada negosiasi, yang harus dilakukan oleh Iran sekarang adalah menyerah tanpa syarat dan itu langsung direspons oleh Presiden Iran yang menyatakan bahwa tidak mungkin menyerah sama sekali," ujarnya.

    Apalagi, setelah Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi baru menggantikan Ayatollah Ali Khamenei, Iran kembali melancarkan serangan terhadap AS-Israel.

    Hal itu, sambung Yulius, menunjukkan bahwa Iran mampu memberikan perlawanan terhadap kedua negara itu dalam kurun waktu yang panjang.

    "Hari ini sudah dilancarkan serangan dan itu menunjukkan bahwa kekuatan Iran masih cukup untuk berperang dalam jangka waktu yang cukup panjang," ungkapnya.

    Sebelumnya, Trump mengklaim bahwa perang yang melibatkan aliansi AS-Israel melawan Iran bakal berakhir dalam waktu dekat.

    Baca juga: Dubes Iran Temui Megawati Soekarnoputri di Menteng

    Dalam konferensi pers yang digelar di Doral, Florida, Senin (9/3/2026), Trump menyebut operasi militer besar-besaran selama sepuluh hari terakhir sebagai sebuah "ekskursi" atau perjalanan singkat yang terjadwal.

    Padahal, serangan udara tersebut dilaporkan telah melumpuhkan sebagian besar infrastruktur vital di wilayah Iran.

    "Perang ini akan selesai sangat segera. Kita sudah jauh melampaui jadwal yang ditentukan," ujar Trump di hadapan awak media, dikutip dari Al Jazeera.

    Sejak genderang perang ditabuh pada 28 Februari lalu, Trump membeberkan bahwa kekuatan udara AS dan Israel telah menghantam sedikitnya 5.000 titik sasaran.

    Serangan tersebut menyasar fasilitas nuklir, kilang minyak, hingga instalasi pengolahan air bersih. Di sisi lain, Teheran tampak tidak tinggal diam.

    Di tengah gempuran bom, Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei selaku putra mendiang Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru.

    Penunjukan ini dipandang sebagai upaya kubu konservatif Iran untuk menjaga stabilitas rezim di tengah guncangan perang.

    Kendati menebar janji perdamaian, Trump tetap menyelipkan peringatan keras.

    Ia mengancam akan meluncurkan serangan dengan skala yang jauh lebih besar jika Teheran tetap nekat memblokir Selat Hormuz.

    Langkah Iran menutup jalur pelayaran strategis tersebut telah membuat pasar energi global bergejolak.

    Harga minyak mentah dunia jenis Brent dilaporkan sempat melonjak hingga menyentuh angka 119 dolar AS per barel, sebuah rekor yang mengancam stabilitas ekonomi global.

    "Jangan coba-coba menyandera dunia. Jika mereka (Iran) terus mengganggu pasokan minyak, mereka akan dipukul jauh lebih keras lagi," tegas Trump.

    (Tribunnews.com/Deni/Whiesa)


    Komentar
    Additional JS