tirto.id - Aja teramat cermat saat meraba mushaf Al-Quran Braille di Masjid Ibnu Ummi Maktum Sentra Wyata Guna, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Siswa kelas 11 SLBN A Pajajaran ini demikian khidmat melafalkan ayat-ayat suci bersama teman-teman sebayanya dalam kegiatan pesantren Ramadhan.

“Kalau untuk pemula, kesulitannya dalam hal meraba. Misalkan membedakan tanda baris, lalu pindah baris satu ke kedua. Dan ada tanda baca seperti tajwid suka tertukar,” ucap laki-laki berusia 19 tahun itu saat berbincang dengan kontributor Tirto.

Kendati memiliki keterbatasan penglihatan, sikap khidmatnya tatkala membaca ayat suci Al-Quran sudah cukup menggambarkan betapa besar niat Aja untuk meningkatkan ketakwaan. Terlebih, ini adalah momen Ramadhan, bulan suci saat Nabi Muhammad memperoleh wahyu pertama Al-Quran.

Aja bercerita bahwa kemampuan untuk membaca Al-Quran Braille mesti terus dilatih dari waktu ke waktu. Kemampuan ini tak bisa dikuasai hanya dalam sekali duduk. Apabila tidak berlatih membaca secara rutin, menurutnya, kemampuan jari-jari untuk meraba mushaf braille bakal berkurang.

“Kalau tidak membaca setiap hari bisa mempengaruhi [kemampuan membaca]. Kalau sudah lama tidak membaca, indera peraba menurun,” ceritanya.

Aja sendiri memiliki metode khusus supaya bacaannya lancar dan kemampuannya meraba braille terus tajam.

“Saya sendiri mengusahakan sering membaca dan menghafalkan. Membetulkan huruf-huruf,” ujar Aja.

Baginya, Ramadhan adalah bulan pendidikan yang penuh keberkahan. Dengan membaca Al Quran, dia berusaha mendalami agama. Selain meningkatkan kapasitas diri, melalui kegiatan pesantren Ramadhan, dia berharap mampu lebih bertakwa.

“Dengan adanya pesantren ini kami bisa meningkatkan lagi, baik ilmu pengetahuan agama serta yang lainnya. Ada korelasi antara Al-Quran dan alam karena semua aktivitas di alam diatur Al-Quran,” ucapnya.

Muhammad Rizki Ramdani (34), Guru SLBN A Pajajaran Kota Bandung, menyampaikan kegiatan dalam Pesantren Ekologi itu meliputi pembiasaan salat duha, hafalan Al-Quran, serta materi mengenai tadabbur alam.

Newsplus Kisah Pembaca Al-Quran Braille

Sejumlah siswa penyandang disabilitas tunanetra SLBN A Pajajaran, saat membaca Al Quran braille di Masjid Ibnu Ummi Maktum Sentra Wyataguna, Kota Bandung, pekan lalu. tirto.id/Amad NZ.

Kegiatan pesantren Ramadhan, kata Rizki, rutin diadakan setiap tahun. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan literasi keagamaan siswa berkebutuhan khusus. Untuk tahun ini, pesantren tersebut fokus pada tema ekologi.

“Fokus tahun ini memang pesantren ekologi. Pesertanya dari tingkat TK sampai SMA di SLB Negeri A Pajajaran Kota Bandung. Ini berlangsung tiga pekan, dimulai dari tanggal 24 Februari sampai 13 Maret 2026,” ujar Rizki.

Ada sekira 100 siswa yang mengikuti Pesantren Ekologi di SLBN A Pajajaran. Kegiatan yang berlangsung dari Senin sampai Jumat ini diharapkan jadi sarana siswa menjemput keberkahan, membiasakan diri dengan mushaf braille, juga membantu siswa mendalami Islam sesuai dengan Al-Quran.

“Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan. Ketika membaca Al Quran, satu huruf bakal dilipatgandakan pahala. Dengan membiasakan baca Quran, semoga bisa lebih terlatih meraba Al-Quran Braille. Lalu, semoga bisa men-tadabbur-i setiap ayat-ayatnya,” harap Rizki.

Produksi Al-Quran Braille di Bandung Kian Menurun

Meski semangat siswa berkebutuhan khusus tinggi, produksi Al-Quran Braille di Bandung justru tengah merosot. Menurut Ayi Ahmad Hidayat—Kepala Sekretariat Yayasan Penyantun Wyata Guna, kondisi ekonomi menjadi penyebab dari merosotnya permintaan produksi mushaf Al-Quran bagi para penyandang tuna netra.

Bahkan, kata Ayi, jumlah pesanan Al-Quran Braille masih lebih banyak saat masa Pandemi COVID-19.

“Kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Ditambah lagi berbagai musibah seperti banjir dan longsor, terutama di Aceh dan wilayah Sumatra. Akibatnya, empati para donatur lebih banyak disalurkan untuk bantuan darurat,” ujar Ayi.

Newsplus Kisah Pembaca Al-Quran Braille

Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan Al Quran Braille di ruang produksi Yayasan Penyantun Wyata Guna, Kota Bandung, pekan lalu. tirto.id/Amad NZ.

Ayi menjelaskan bahwa pesaran tahun lalu sebenarnya masih ramai. Lembaganya mampu memproduksi 300 sampai 500 mushaf per tahun.

“Sekarang, dua bulan berjalan, masih di bawah 100 set. Turunnya lebih dari 50 persen,” tutur Ayi.

Al-Quran Braille, kata Ayi, saat ini masih dianggap barang sosial. Bukan barang komersial maupun barang kebutuhan primer. Mirisnya, mayoritas para tunanetra bahkan tidak mampu membeli sendiri karena harganya cukup mahal.

“Harga tanpa terjemahan sekitar Rp1.300.000, sementara dengan terjemahan sekitar Rp2.000.000. Beberapa murid saya yang sudah mandiri dan berkeluarga pernah berkata, ‘Pak Haji, kalau ada dana, kami lebih butuh sembako Rp500.000 daripada Al-Qur’an,’” ceritanya getir.

Masa Jaya Produksi Al-Quran Braille di Bandung

Selama masa jayanya, Yayasan Wyata Guna bahkan biasa mengekspor Al-Qur’an Braille ke sejumlah negara. Di antaranya Malaysia, Thailand, Singapura, bahkan Kuwait. Khusus negara Arab, kebutuhannya lebih banyak untuk para penghafal Al-Qur’an dibandingkan untuk membaca braille.

“Mesin cetak ini bantuan dari Helen Keller International, Amerika, tahun 1952. Diterima pada masa Presiden Sukarno. Di Asia saat itu, ada dua unit, satu di Indonesia, satu di India,” kata Ayi.

Dahulu, mesin bernama braille press itu dapat memproduksi 8.000 lembar per hari. Bahkan, bisa digenjot hingga 10 ribu-15 ribu lembar. Namun, lembaganya kini terpaksa menurunkan kapasitas produksi guna menjaga kualitas mesin.

Newsplus Kisah Pembaca Al-Quran Braille

Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan Al Quran Braille di ruang produksi Yayasan Penyantun Wyata Guna, Kota Bandung, pekan lalu. tirto.id/Amad NZ.

“Sekarang, [kapasitas produksi] dikurangi agar mesin lebih awet, sekitar 5.000-8.000 lembar per hari. Kalau ada kerusakan, bisa berhenti satu sampai dua minggu,” ucap pria yang bergabung dengan Yayasan Wyata Guna sejak 1982 itu.

“Perbaikannya manual dan harus sangat presisi. Mesin ini rasanya sudah menyatu dengan jiwa saya. Kalau dengar kabar mesin retak saja, badan langsung lemas,” sambung Ayi.

Tahun demi tahun dia jalani, Ramadhan demi Ramadhan dia lewati. Setelah sekian waktu, Ayi hanya punya satu harapan: produksi Al-Quran Braille di Bandung dapat terus berjalan.

“Pengajar dan pembimbing mendorong tuna netra menjadi penghafal Al-Qur’an. Potensi hafalan mereka sebenarnya bagus karena gangguan visual minim. Lalu, donatur tidak hanya menyumbang mushaf, tetapi juga mendukung pendidikan dan pembinaan. Dari pemerintah juga, semoga ada keberlanjutan anggaran,” pinta Ayi.