Rusia Banjir Orderan Minyak dan Gas di Tengah Perang Iran vs Israel - Republika
Rusia Banjir Orderan Minyak dan Gas di Tengah Perang Iran vs Israel
REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Pemerintah Rusia menyatakan terjadi lonjakan signifikan permintaan terhadap produk energi Rusia di tengah perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Kremlin mengatakan konflik tersebut telah mendorong peningkatan permintaan minyak dan gas Rusia, sehari setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat memberikan keringanan sementara selama 30 hari yang memungkinkan India membeli minyak Rusia yang saat ini tertahan di laut.
Perang yang memasuki hari ketujuh pada Jumat (6/3/2026), membuat Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia, nyaris tertutup. Kondisi ini membuat banyak negara berebut pasokan energi setelah sekitar seperlima suplai minyak dan gas alam cair (LNG) global terancam terganggu.
Rusia, yang masih terlibat perang dengan Ukraina selama lebih dari empat tahun terakhir, berpotensi memperoleh keuntungan tidak langsung dari konflik besar baru di Timur Tengah tersebut. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Rusia tetap menjadi pemasok energi yang andal, baik melalui jaringan pipa maupun dalam bentuk gas alam cair.
“Kami melihat peningkatan signifikan permintaan terhadap sumber energi Rusia terkait perang di Iran. Rusia telah dan tetap menjadi pemasok minyak dan gas yang dapat diandalkan, termasuk gas melalui pipa dan gas alam cair,” kata Peskov kepada wartawan, dilansir Aljazirah.
Ia menambahkan Rusia juga mampu menjamin keberlanjutan seluruh pengiriman energi yang telah terikat kontrak.
Baca Juga :
Hujan Deras dan Angin Kencang Robohkan Papan Reklame di Sidoarjo, Lalu Lintas Macet ParahNamun, Peskov menolak mengungkapkan kemungkinan volume tambahan pasokan minyak Rusia ke India setelah Washington memberikan keringanan sementara tersebut. Langkah itu muncul setelah berbulan-bulan tekanan dari AS terhadap India agar tidak membeli minyak Rusia, termasuk ancaman tarif tinggi terhadap negara Asia Selatan itu.
Halaman 2 / 2
Ketergantungan Energi pada Rusia
Pasar energi Rusia sebelumnya ditinggalkan karena berbagai aksi boikot politik imbas perang dengan Ukraina, khususnya oleh Barat. Direktur Eksekutif Fatih Birol dari International Energy Agency memperingatkan bahwa kembali bergantung pada energi Rusia merupakan langkah yang keliru secara ekonomi maupun politik.
“Krisis di Timur Tengah saat ini memunculkan kembali pertanyaan di beberapa pihak apakah Eropa perlu kembali ke Rusia atau tidak,” kata Birol kepada wartawan setelah pertemuan dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan para komisioner Uni Eropa yang membahas pasar energi global.
Menurut Birol, salah satu kesalahan historis Eropa adalah ketergantungan yang terlalu besar pada satu sumber energi, yakni Rusia. Sementara itu, terkait pasokan minyak global, Birol mengatakan perang menyebabkan gangguan logistik, namun pasokan minyak secara keseluruhan masih mencukupi.
Namun, di saat bersamaan, Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memperingatkan bahwa seluruh produsen energi di kawasan Teluk bisa menghentikan ekspor dalam beberapa minggu jika konflik Iran terus berlanjut.
Dalam wawancara dengan Financial Times, Kaabi mengatakan Qatar telah menghentikan produksi gas alam cair pada Senin lalu setelah Iran melancarkan serangan ke negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan Israel dan Amerika Serikat.
Produksi LNG Qatar setara dengan sekitar 20 persen pasokan global dan berperan penting dalam menyeimbangkan permintaan energi di Asia dan Eropa.
“Jika konflik ini berlanjut beberapa hari lagi, semua eksportir di kawasan Teluk kemungkinan akan menyatakan force majeure,” kata Kaabi.
Ia menambahkan jika perang berlangsung selama beberapa minggu, pertumbuhan ekonomi global akan terdampak.
“Harga energi akan meningkat di seluruh dunia. Akan ada kekurangan sejumlah produk dan reaksi berantai dari pabrik-pabrik yang tidak mampu memasok produksi,” katanya.
Bahkan jika perang berakhir segera, Kaabi memperkirakan Qatar membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk kembali ke siklus pengiriman normal.

Ia juga memperkirakan harga minyak mentah bisa mencapai 150 dolar AS per barel dalam dua hingga tiga minggu jika kapal tanker tidak dapat melewati Strait of Hormuz. Harga gas alam juga diperkirakan melonjak hingga 40 dolar AS per juta British thermal units (MMBtu).
Pada perdagangan Jumat, harga minyak mentah acuan AS naik 4,1 persen menjadi 84,36 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Brent yang jadi patokan internasional naik 1,7 persen menjadi 87 dolar AS per barel, mendekati level tertinggi sejak April 2024.